Keberuntungan……dan kekuasaan kita atasnya……

good luck charm

Image by jmtimages via Flickr

Good Luck! Banyak rejeki! Semoga beruntung! Ungkapan yang sangat sering kita dengar dan kita ucapkan. Sebuah ucapan yang sepertinya pelengkap supaya kedengarannya baik, walau belum tentu sungguh itu yang dimaksudkan. Tapi bagaimanapun juga, itu menandai keberadaan sebuah hal besar tapi misterius dalam hidup kita: Keberuntungan!

Kata sebagian orang, kita hidup dalam jaman modern. Dalam jaman modern, kita melakukan segalanya dengan melihat pada peluang dan menyusun perencanaan yang bagus. Kalau ini semua kita lakukan dengan bagus, ya kita pasti sukses. Inilah era manajemen modern yang ilmiah (scientific management). Yang menarik, faktor keberuntungan tidak pernah masuk dalam model perencanaan apapun ;-)

Nah mari kita lihat realitasnya! Dimana-mana, orang bicara tentang keberuntungan. Bahkan kalau mau jujur, banyak orang beribadah karena mengharapkan keberuntungan dalam hidupnya hehehe……Di situ pulalah uniknya keberuntungan. Ia diyakini, walau sulit dipahami dan dijelaskan. Ketika sesuatu itu diyakini sekalipun sulit dijelaskan, maka ia akan jarang sakali muncul dalam buku-buku ilmiah yang dipelajari dalam pendidikan formal; tapi ia sangat sering muncul dalam doa dan obrolan keseharian.

Dalam bisnis dan organisasi, jarang sekali kita temukan teori tentang keberuntungan. Beberapa aliran manajemen ilmiah bahkan mengisyaratkan bahwa keberuntungan adalah fenomena psikologis yang tidak logis, dan sering kali merupakan impresi yang timbul dari ketidakmampuan memahami kondisi kebetulan.

Benarkah demikian? Benarkah keberuntungan adalah anomali yang tidak lebih dari kebetulan semata? Bila memang demikian, mengapa ia sangat berpengaruh dalam kehidupan kita?

Sebenarnya, keberuntungan bukan hal yang tidak ilmiah…..setidaknya demikian saya melihatnya. Mengapa demikian? Karena keberuntungan terkait dengan penggunaan kesempatan dan peluang. Ini juga termasuk kemampuan untuk melihat dan menciptakan keduanya. Ada banyak sekali teori tentang kesempatan (opportunity) dan peluang (probability/chance). Tapi, tidak banyak orang tahu bahwa juga ada bahasan-bahasan ilmiah tentang cara menggunkan keduanya. Ada beberapa yang cukup terkenal, misalnya game theory dan propensity theory. Konsep-konsep ini melihat luck/keberuntungan melalui paradigma rasionalis, sehingga luck menjadi sebuah operasi rasional sebagai bentuk respon terhadap kesempatan dan peluang.

Tapi, apakah secara spesifik konsep-konsep tersebut menjelaskan apa itu “luck“? Kata orang….banyak peluang dalam hidup ini, tapi kita butuh keberuntungan agar mampu melihat dan menggunakan peluang-peluang tersebut hehehe………. :-)

Sudah banyak yang menganalisa keberuntungan dalam pandangan rasionalis, tapi tak banyak yang membahas keberuntungan itu sendiri. Dari yang sedikit itu, salah satu favorit saya adalah perspektif Steven Lukes dan Ladawn Haglund yang dengan indah membahas keberuntungan (luck) dalam kaitannya dengan kekuatan (power). Mereka mengangkat luck melalui perspektif yang berbeda dengan kelompok rasionalis. Mereka melihat luck sebagai konsep yang menggambarkan kuasa (power). Ketika kita berhasil menggunakan peluang, artinya kita telah menggunakan kuasa kita dengan baik. Dengan demikian,  keberuntungan bisa dipahami sebagai kekuasaan kita.

Lukes dan Haglund menyatakan bahwa good luck adalah ketika seseorang relatif tidak perlu melakukan apapun untuk mendapat sesuatu yang ia inginkan. Bahkan, seseorang bisa beruntung secara sistematik (systematically lucky), karena dia diuntungkan oleh kondisi dan struktur sosial yang ada. Contoh sederhananya adalah bahwa ketika anda menjadi anak muda yang sangat passionate pada dunia IT dan social networking, dan ada bisa membangun jaringan pertemanan berbasis media ICT; anda akan mudah mendapat pekerjaan saat ini, dibandingkan dengan orang lain yang sangat suka menjadi seorang pustakawan. Mengapa? Ya karena dekade ini adalah masa emasnya social media & networking macam facebook, twitter, atau Koprol yang buatan Indonesia…….dan menjadi pustakawan mungkin bukan sesuatu yang populer saat ini.

Namun, bagaimana bila yang terjadi adalah kita dirugikan? Jelas kita tidak menginginkannya, dan ketika kita dirugikan, kita seringkali tak menyadarinya sampai akhirnya hal itu terjadi. Maka biasanya orang akan menyebutnya sabagai kesialan, atau bad luck…….hehehehe……… :-)

Kalau mau jujur, kesialan adalah momen kegagalan kita untuk berkuasa atas hidup kita sendiri. Tentu bukan kebiasaaan kita untuk menyebut itu sebagai ‘gagal menggunakan kekuasaan’, karena pernyataan demikian menunjukkan letak tanggungjawab (locus of responsibility)-nya ada pada kita. Adalah manusiawi untuk menyalahkan sesuatu yang di luar diri kita atas sesuatu kesialan, kerugian yang terduga, atau sesuatu yang tidak kita inginkan. Dan dengan menyebutnya sebagai kesialan atau bad luck, kita mengafirmasi diri kita bahwa kita berada pada kondisi tak kuasa (powerless ) atas apa yang terjadi. Tapi benarkah kita bisa sungguh-sungguh powerless?

Untuk soal bad luck ini, Lukes dan Haglund melihat bahwa sesungguhnya luck bukan terjadi secara kebetulan. Ketika ada yang disebut luck, maka ada yang diuntungkan karena relatif tak perlu melakukan apapun untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan. Itu juga berarti bahwa ada yang harus menanggung dari kemudahan tersebut. Bisa dikatakan merekalah yang harus berusaha lebih untuk sesuatu yang tidak otomatis akan mereka dapatkan. Inilah yang menjadi induk dari bad luck menurut Lukes dan Haglund. Lihat saja yang namanya modernisasi dan teknologi. Negara-negara berkembang atau miskin yang pendidikannya kurang modern dan teknologinya masih tertinggal, tentu tak bisa menikmati kesejahteraan sebagaimana negara yang sudah modern dan maju. Dan oleh karena itu, mereka harus belajar pada mereka yang maju, dan memiliki posisi tawar yang lebih lemah dibanding yang sudah maju tersebut.

Menurut Lukes dan Haglund, bad luck bukanlah kondisi powerless. Bad luck adalah ketidakmampuan kita untuk menggunakan kuasa yang kita punyai untuk merubah sistem yang tidak menguntungkan kepentingan kita. Mereka yang memiliki good luck adalah mereka yang bisa menggunakan kuasanya dengan tepat untuk memperoleh yang mereka inginkan. Misalnya orang yang tahu apa barang yang akan dibutuhkan, dan dengan tepat bisa mengendalikan perdagangan barang tersebut, maka ia akan diuntungkan oleh komoditi tersebut. Dan dengan posisi demikian, ia akan semakin beruntung, karena ia telah mendesain situasi dimana barangnya yang tadinya belum bernilai menjadi sangat bernilai.

Apabila desain ini diterima dan diyakini luas oleh sistem sosial yang ada, maka akan tercipta keyakinan bahwa mengikuti pola/desain yang ada itu adalah wajar. Ini tentunya memperkuat good luck sang pembuat sistem, dan membuat para follower harus berusaha untuk memenuhi pola yang ada, meskipun itu tidak sepenuhnya menguntungkan bagi mereka…….. :-) Ini artinya, yang menjadi pengikut cenderung berada dalam posisi not so lucky, atau bahkan bad luck, karena mereka harus mengikuti desain yang memang dibuat untuk menguntungkan yang berkuasa.

Tapi,  mereka bisa juga memutuskan untuk merubah desainnya, dan mengubah arah keberuntungannya!

Lihatlah betapa sekarang handphone model qwerty yang sepuluh tahun yang lalu terkesan membosankan, kini menjadi sebuah trend yang disukai segala usia. Saya masih ingat sepuluh tahun yang lalu, Blackberry buatan RIM tidak laku bagi kebanyakan orang, dan salah satunya karena model qwerty itu tidak menarik. Tapi RIM berhasil mengubah trend, terutama melalui aplikasi Blackberry Messanger (BBM). Kini banyak merek handphone ikut-ikutan menggunakan model qwerty plus aplikasi messenger-nya. RIM merubah diri dari model yang tidak menarik menjadi trendsetter; bad luck menjadi good luck. Ini bisa terjadi karena kemampuan memainkan kekuasaan kita agar desain sistem yang merugikan kita bisa berubah menguntungkan kita. Perang turisme dan budaya di Asia Tenggara juga sebuah contoh yang menarik. Turunnya turisme di Indonesia melalui isu konflik agama, pornografi, terorisme dan ketololan-ketololan lain tentu menguntungkan Malaysia dan Singapura. Indonesian’s bad luck in tourism is essentially their good luck :-)

Jadi, sebenarnya bad luck adalah karena kita mengikut saja pada sebuah sistem yang memang didesain untuk menguntungkan pihak lain. Bila kita kreatif memainkan kekuasaan kita, dan dengan itu mengubah desain yang ada sehingga menguntungkan kita; bad luck pun bisa menjadi good luck!

Menurut saya, keberuntungan adalah suatu kondisi abstrak yang dapat kita pahami. Walau ia mungkin bukan faktor yang bisa dikendalikan (dan kita bisa terus berdiskusi apakah ini benar…. :-)  ), tapi ia bukan sesuatu yang di luar kemampuan kita untuk memahami. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menyadari keberuntungan, dan bisa memanfaatkannya. Ini juga berarti bagaimana kita bisa menerima kenyataan ketika keberuntungan belum tiba, dan kita bisa sabar untuk berefleksi tentang mengapa keberuntungan tak berhasil kita raih. Ketika ia ‘menghampiri’, kita tahu bagaimana merespon dan bisa menggunakan dengan tepat. Seperti kata orang, keberuntungan yang dilepas tak akan kembali :-)

Posted with WordPress for BlackBerry.

10 responses to “Keberuntungan……dan kekuasaan kita atasnya……

  1. Thx for the writing,

    Diktum kuno Machiavellian sudah menegaskan, bahwa hidup manusia digerakkan oleh dua kekuatan yang saling membutuhkan, yakni virtu (keutamaan) dan fortuna (keberuntungan). Keduanya berbeda namun saling mengisi dan membutuhkan satu sama lain. Lebih tegas lagi yang satu tidak akan ada, tanpa yang lain.

    Yang bisa kita kontrol adalah keutamaan, yakni dengan melatih diri terus-menerus dalam bidang yang kita cintai. Sementara fortuna itu simbol dari ketidakpastian realitas. Kita tidak bisa mengontrolnya. Namun fortuna akan muncul, jika kita memiliki keutamaan yang diperlukan. Keduanya akan berkombinasi menghasilkan kesuksesan.

    Rumusnya kira2 gini:

    S=F+V
    Sukses=Fortuna+Virtu

    Maka latihlah diri terus menerus. Jadilah orang yang memiliki keutamana mendalam di bidang yang dicintai. Hanya dengan itu fortuna akan datang menyambar. Percuma kita beribadah tetap tidak pernah melatih diri.

    Di titik ini saran Popper bisa kita pakai. Di dalam melatih diri, kita memerlukan kreativitas imajinasi untuk terus mengembangkan ketrampilan tersebut. Di sisi lain kita juga memerlukan pikiran kritis untuk melihat situasi dan diri kita sendiri, serta memutuskan langkah apa yang kita ambil.

    Maka wacana tentang keutamaan dan keberuntungan terkait erat dengan mentalitas ilmiah yang dirumuskan Popper. Sound weird right?

    • Hahaha…..I don’t think it is weird at all.
      Machiavelli memang orang yang jujur dalam mengungkap pengaruh kekuasaan dalam hidup manusia. Memang keberuntungan dan kualitas personal adalah dua kutub pembentuk keberhasilan hidup seseorang. Justru memahami keberuntungan adalah soal mengasah intuisi dalam menggunakan kekuatan diri kita.

      Nah pada bagian ini, apa yang dikatakan Popper tidak bisa dibantah. Intuisi hanya bisa dibentuk melalui praktek keilmiahan dalam keseharian. Tantangan disini adalah dengan tegas membedakan antara sikap ilmiah sejati dan ‘ilmiah’ sebagai sebuah komoditas pendidikan dan ilmuwan pedagang. Sikap ilmiah sejati adalah kesenantiasaan dalam keterbukaan pemikiran dan belajar atas kenyataan. Ini berlawanan dengan ‘ilmiah’ yang jadi komoditas pendidikan saat ini, dimana ilmiah menjadi prosedur-prosedur birokratis yang melupakan kekritisan belajar sebagai esensi dari sikap ilmiah itu sendiri.

      Inilah yang meangakibatkan banyak lulusan ber-IP sangat tinggi, hidupnya malah kurang beruntung. Soalnya ketika pendidikan sudah menjadi komoditi, IP adalah indeks kepatuhan membuta pada birokrasi pendidikan (misal yang berwujud soal ujian), bukan menunjukkan eksplorasi ilmiah. Sementara yang IPnya tak sebagus mereka justru sungguh-sungguh belajar dan terbuka pada experiential learning yang dilalui dalam perjalanan hidup.

      Dalam kacamata ini, tampak sekali Popper benar. Keberuntungan datang pada mereka yang sungguh-sungguh bermental ilmiah.

      • Dalam artinya yang paling esensial, mentalitas ilmiah, yang terwujud dalam pola pikir imajinatif, kreatif, dan kritis, sangatlah dekat dengan pembentukan keutamaan, dan itu semua akan membawa kita pada keberuntungan. Distingsi antara yang ilmiah dan yang tidak menjadi lebur disini.

      • Hehehehe….jangan-jangan ‘ilmiah dan tidak’ sebenarnya sudah lebur dari awal hakikatnya, hanya saja ada pembedaan yang dibentuk agar keduanya seakan dua kutub yang berlawanan. Ini mengapa masih banyak orang yang anti “professor Google” dan “perpustakaan Wikipedia”, padahal keduanya sudah banyak membuat banyak orang mengasah keutamaan dan keberuntungan :-)

    • Sepakat !!!
      Dalam falsafah jawa juga dengan tegas disampaikan (sekalipun banyak orang jawa yang tidak tegas menyampaikan maksudnya… :-D ) bahwa segala faktor positif dalam kehidupan akan datang dengan sendirinya jika kita sudah memiliki keutamaan (orang jawa menyebutnya sebagai kautaman) yang tak lain adalah kualitas personal individual baik secara jasmaniah maupun secara spiritual, seperti fokus, pengendalian diri, ketekunan, ketabahan, kewaskitaan, mawas diri, mau belajar, dsb.

      Keberuntungan by its nature memang sulit didefinisikan dan dipahami artinya, kita hanya bisa memberikan pemaknaan tertentu atas keberuntungan yang kita dapatkan. Lantas kenapa kita sibuk mendefinisikannya ?!?!

      Orang tionghoa lebih suka disibukkan membuat pengaturan tertentu (dengan ilmu hongsui) untuk mengundang keberuntungan dalam kehidupan mereka daripada mencari arti ataupun definisi dari keberuntungan itu sendiri. Mereka sibuk mengatur hongsui tempat tinggal mereka, lokasi bisnis mereka, bahkan kuburanpun juga diatur hongsuinya :-p demi mendapatkan keberuntungan dalam kehidupan mereka. Dalam hal ini keberuntungan yang saya maksud bukan rejeki nomplok yang tiba-tiba kita dapatkan, tapi bisa berwujud banyak hal, seperti kesehatan, terhindar dari bahaya, ketenangan, dsb.
      Tradisi orang tionghoa tersebut memberikan insight bagi saya tentang keberuntungan. Ini berarti keberuntungan bukan tidak sesuatu yang semau gue (datang ga diundang pulang ga diantar), melalui pengaturan tertentu kita bisa mendapatkannya bahkan mungkin secara sustainable…:-p

      Jadi dengan kata lain keberuntungan bisa kita kendalikan kedatangannya dengan memfasilitasi kedatangan keberuntungan itu sendiri, yang kalau secara logis ya dengan mengembangkan keutamaan tadi.

      Just a brief of opinion

      ~cheers~

      • Sepakat, sesungguhnya keberuntungan adalah sesuatu yang bisa diperoleh dengan desain situasi dan fasilitasi yang tepat. Itulah kenapa kita harus punya nilai keutamaan, dan kita harus punya setting (hongsui) yang memungkinkan keutamaan itu terwujud.

  2. Pembedaan ilmiah dan tidak itu memang ideologis pada dasarnya, yakni bertujuan untuk melestarikan tata sosial tertentu, yang berarti juga menguntungkan beberapa kelompok sosial, dan merugikan yang lainnya. Pada akhirnya sains hanyalah satu bahasa dari begitu banyak bahasa yang bertarung memperebutkan hegemoni di ruang publik kita.

  3. Hoki…… kata ini sering sekali kita dengar. Tapi adakah dari kita yang mau menyadari hoki itu apa beserta atribut yang mengikutinya. Buat saya, Hoki itu punya rumus sbb:

    Hoki = K + M – R

    dimana:

    K = Kinerja secara individual maupun team work yang prima
    M = Management yang tumbuh dan berkembang (sustainable growth)
    R = Resiko
    Hoki itu tidak datang dengan sendirinya, tetap saja butuh proses yang tepat untuk mencapai hasil yang maksimal. Ini baru bisa disebut hoki gede. Untuk proses yang tepat di butuhkan SDM dan Management yang mampu membuat Organisasi/ perorangan mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Hal ini didukung dengan penurunan resiko atas proses yang kita lakukan melalui Risk Management yang sesuai.

    • Menarik! Jadi hoki sebenarnya konsekuensi, bukan sebab. Kelihatannya sangat resionalis.
      Yang menarik adalah faktor R-nya. Banyak orang masih kabur dengan bagaimana mengelola risk, terutama terkait bahwa resiko yang tinggi bisa jadi memberikan pelaung yang bagus (denngan kata lain: hoki) ;-)

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s