Appreciative inquiry: Sebuah inspirasi hidup dari Kick Andy!

Hampir setiap minggu saya selalu mencari kesempatan untuk menonton acara yang satu ini: Kick Andy! Ya memang saya terkadang absen, karena kesibukkan saya kadang membuat sulit bagi saya untuk selalu bisa nonton. Tapi untungnya acara yang satu ini diputar dua kali di Metro TV (jumat malam dan re-run minggu sore). Sebentar…… apa saya sedang promosi acara Kick Andy?

Tidak juga, walau mungkin saja ada efek ke arah situ. Tapi, pertama-tama, saya adalah praktisi organizational development (OD). Alasan mengapa saya ingin menulis tentang Kick Andy adalah inspirasi yang dibawa oleh acara ini. Yang jauh lebih menarik, inspirasi itu sebenarnya sangat berguna bagi organisasi di berbagai level, mulai dari usaha kecil yang baru berkembang (start-ups) hingga sebuah pemerintahan. Dalam perspekstif inilah, saya melihat bahwa kita semua yang bekerja dalam sebuah organisasi bisa mendapat inspirasi.

OK, jadi apa inspirasinya? Apa hubungannya dengan Kick Andy??

Secara sederhananya, Kick Andy adalah sebuah inspirasi hidup dari appreciative inquiry. Bagi pembaca yang berada di dunia bisnis dan organisasi mungkin pernah mendengar appreciative inquiry (AI). Konsep ini menarik karena menjanjikan banyak hal, sekaligus menuai kritik di sana-sini. Saya sendiri bergaul dengan konsep ini sampai hampir bosan saat studi di AS, karena memang sekolah saya mengkhususkan diri di bidang kompetensi aplikasi OD; dan tentu saja, AI adalah salah satu dari sekian pendekatan dalam OD yang harus digunakan dalam tugas-tugas proyek.

Konsep yang dibangun oleh David L. Cooperrider ini menjadi sangat menarik ketika akhir abad ke-20 diwarnai oleh beragam permasalahan di berbagai bidang, dan pesimisme makin menguat. Kini, saya pikir, situasinya juga masih sama dimana makin banyak ilmu pengetahuan dan solusi kita gunakan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan, tetap saja banyak masalah-masalah baru yang kita temui. Dalam konteks pekerjaan, kita mungkin merasa situasi semakin berat dengan makin banyak tantangan yang ada.

Appreciative inquiry datang saat kita cenderung makin negatif melihat dunia! Ini karena konsep AI, beserta beberapa konsep lain yang berkembang di akhir abad 20 mengajak kita untuk melihat situasi dan kondisi dalam organisasi bukan sebagai masalah; melainkan sebagai dinamika yang perlu diselami dengan sikap positif. Seperti yang sering dikatakan oleh para ‘pecinta ‘ AI: it’s not a problem to be solved, but a miracle to be embraced! Jadi, fokusnya bukan pada problem solving.

Tunggu dulu! Bukan problem solving???? Jadi, kita di organisasi nggak perlu problem solving??? Yang bener saja?!?!  Metode apa’an itu?  Kita ini di organisasi dan pekerjaan, yang kita temui itu adalah problem, bukan miracle!

Sabar …… tanggapan-tanggapan seperti  ini benar dan valid. Yang kita butuhkan adalah problem solving. Disinilah memang AI menuai kontroversi. Kontroversi ini terlebih dikarenakan kurangnya pemahaman yang utuh tentang AI, baik sebagai konsep maupun sebagai praktek. Seorang teman kuliah saya sering mengatakan bahwa AI yang tidak dipahami dengan utuh akan cuma menjadi touchy-feely activity; kegiatan curhat bersama tanpa hasil yang jelas! Nah, disini pulalah saya ingin urun berbagi pandangan. Berdasar pengalaman, AI bila hanya dipahami secara tidak utuh akan menjadi konsep yang mirip dengan positive thinking, atau bahkan menafikkan masalah dengan bersikap seakan tidak ada masalah. Itu bukan AI yang tepat.

Pada dasarnya AI merupakan sikap mental yang mengajak kita melihat pada apa yang kita inginkan bagi masa depan, dan apa kekuatan/keunggulan kita yang bisa kita daya gunakan dalam mencapai visi ke depan tersebut. Sederhananya, mari fokus pada meningkatakan dan mendayagunakan kekuatan kita, ketimbang melulu fokus pada menutupi kekurangan kita. Oleh karena itu, AI yang dipraktekkan dengan benar memiliki arah dan output yang jelas pada perilaku manusia dalam pekerjaan.

Nah, Kick Andy kan tontonan yang selalu mengajak kita melihat sisi-sisi kehidupan yang seringkali ironis, kontroversial, dan bisa jadi memalukan. Tapi kalau kita menontonnya secara utuh, ada fokus yang jelas yang diangkat oleh Andy Noya di dalam acara itu: Mari kita lihat kekuatan kita dalam menghadapi tantangan! Lihat beragam episode Kick Andy. Lihatlah tamu-tamu yang diundang : orang-orang kecil yang berprestasi karena tertantang oleh keterbatasan, para kepala daerah yang berhasil memajukan daerahnya dengan cara tidak biasa, anak-anak muda yang diam-diam prestasinya luar biasa, pengacara-pengacara dan orang-orang miskin yang berjuang melawan peradilan sesat, orang-orang dengan keterbatasan fisik dengan karya-karya istimewa.

Bagi saya, sebagai rakyat dari negeri yang penuh masalah dan kekonyolan seperti Indonesia, saya merasa dibukakan pandangan baru melalui Kick Andy, karena ternyata banyak sekali kekuatan dan keunggulan yang kita punyai. Selain kekonyolan-kekonyolan yang ada, ternyata makin banyak keunggulan yang kita punya, yang mungkin kurang banyak terangkat di media. Jelas kita itu ketinggalan di dalam IPTEK, banyak korupsi, budaya yang destruktif dan sebagainya; rasanya hampir semua orang Indonesia tahu. Tapi Kick Andy mengajak pemirsanya untuk fokus pada harapan dan kekuatan-kekuatan yang kita punyai untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Inilah aplikasi nyata appreciative inquiry!

Inilah inspirasinya bagi organisasi. Banyak organisasi dan bisnis larut dalam upayanya memerangi kelemahannya, sampai-sampai lupa untuk memupuk kekuatan-kekuatannya. Dan ini bukan berarti menipu diri dengan menutup diri dari kelemahan. Ini berarti kita menyadari apa kekuatan dan kelemahan organisasi, menerima bahwa kedua hal tersebut akan selalu ada, lalu dengan tegas memilih untuk mendayagunakan kekuatan-kekuatan kita secara optimal untuk menciptakan masa depan.

Dalam perspektif ini, saya melihat meski banyak organisasi mengaku menggunakan appreciative inquiry dalam melakukan OD; sangat menarik untuk direfleksikan apakah mereka sungguh-sungguh mempraktekkannya dengan benar.

Share/Bookmark

5 responses to “Appreciative inquiry: Sebuah inspirasi hidup dari Kick Andy!

  1. Analytical and analogical skill improvement are 2 of few signs of an intelligence maturity. Well done and congrats, both to you and Andy Noya! In terms of AI, a new infusion for dummies (such as, me) lol! Thx

  2. Pingback: Kick Andy « khasanamrulloh·

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s