Lost in translation

Lost in translation adaah sebuah film karya Sofia Coppolla dengan bintang Scarlett Johannsen dan Bill Murray. Film ini menceritakan kisah dua orang saat mereka di sebuah negeri lain. OK, saya tidak akan menulis resensi tentang film ini. Saya toh hanya penggemar film, bukan sineas atau kritikus.

Saya hanya merasa bahwa apa yang saya alami selama beberapa minggu terakhir mengingatkan pada makna lost in translation. Dan, saya pikir makna ini ternyata sangat penting dalam banyak hal dalam kehidupan dan pekerjaan. Bahkan bisa jadi dalam semua sisi kehidupan.

So, here is the story. Minggu lalu ada sebuah acara dimana saya menjadi salah satu dari tim acara. Selama pelaksanaan acara yang dua hari ini, saya mengalami hal yang menarik. Pada hari pertama, saya bertanggungjawab menjadi pendamping bagi pejabat kedutaan sebuah negara asing dari benua Amerika Utara. Selama seharian itu, tentu wajar bila semua pembicaraan yang saya lakukan dalam bahasa asing.

Pada hari kedua, saya juga bertugas mendampingi seorang pembicara dari negara yang sama. Maka tentu saja, saya berkomunikasi dalam bahasa asing lagi. Namun hari kedua agak berbeda, karena saya juga berperan sebagai translator dalam sebuah workshop dimana si pembicara menjadi instructornya.

Disinilah pengalaman menjadi berharga. Saat saya menjadi penterjemah, sangat terasa dalam diri saya bahwa ini bukan sekedar mencari sinonim dalam bahasa yang berbeda. Ini lebih rumit daripada sekedar menyampaikan ulang dalam bahasa Indonesia. Mengapa?

Saat itu, dalam ruangan ada empat jenis orang. Yang pertama adalah peserta workshop yang tidak begitu terbiasa dengan bahasa asing, dan penterjemah berguna bagi mereka. Yang kedua adalah peserta yang terbiasa dengan bahasa asing yang digunakan, dan beberapa dari mereka mengeluh bahwa penterjemahan memperlambat workshop. Yang ketiga adalah saya dan rekan saya yang menjadi penterjemah. Yang keempat adalah sang instructor workshop, yang mungkin paling ‘terasing’ karena tak paham bahasa orang-orang di sekitarnya.

Selama proses workshop, saya harus menerjemahkan dengan mencari konteks yang tepat sehingga bisa dipahami peserta yang berasal dari kalangan yang beragam itu. Nah, ketika saya coba bahasakan ulang, selalu ada yang harus sesuaikan konteksnya. Artinya, saya ubah konteksnya, dan artinya pula, ada yang hilang dalam proses penterjemahan dari bahasa aslinya.

Saya jadi sadar bahwa ketika saya mencoba mengkomunikasikan secara efektif melalui penterjemahan, apapun hasilnya, ada yang hilang dalam proses itu. Meskipun pesan pokok atau ide besarnya tersampaikan, konteknya sudah saya ‘cemari’. Lost in translation! Bahkan, ketika saya menyampaikan dalam bahasa Indonesia, ternyata masih ada yang tidak mengerti. Sehingga harus saya ubah konteks dan istilahnya agar bisa dipahami. Padahal ini semua dalam bahasa yang sama.

Saya berpikir, sesungguhnya selalu ada yang ‘bocor’. Konteks yang dipakai sumber informasi, bisa jadi berbeda dengan kerangka pikir yang meneruskan pesan. Keduanya sangat mungkin berbeda dengan konsteks, situasi dan asosiasi pemikiran orang berikutnya yang menerima.

Pagi tadi, ada sebuah workshop yang diadakan oleh unit saya, dan walaupun dalam bahasa yang sama dan dihadiri oleh orang-orang yang bekerja di tempat yang sama; lost in translation tetap terjadi. Pimpinan top-level menyampaikan sesuatu yang baginya adalah sesuatu yang cukup jelas, ternyata para pimpinan mid-level menangkapnya sebagai sesuatu yang jauh di luar perkiraan. Kenapa, karena konteksnya berbeda antara keduanya, setidaknya pada konteks kebaruan dan kelengkapan informasi terkait dengan pesan itu.

Kita semua memiliki konteks dan kerangka pikir masing-masing yang berbeda satu sama lain. Informasi yang sama kita olah dan teruskan melalui cara yang berbeda. Semuanya ada penterjemahan, dan ada yang hilang dalam proses itu. Contohnya, pada saat anda membaca tulisan ini, mungkin sudah banyak yang telah ‘bocor’, karena kalimat yang saya anggap penting bisa jadi anda lewati begitu saja.

Tidak aneh bahwa surat perintah ataupun pedoman selengkap apapun tidak akan pernah membuat orang akan menginterpretasikan secara sama. Lost in translation!


Share/Bookmark

2 responses to “Lost in translation

  1. Ya, namanya juga manusia…banyak hal yang tidak bisa diungkapkan, semua ini ilusi, semua ini persepsi…masih untung ada komunikasi sehingga orang bisa bertanya dan mengklarifikasi apa yang dipersepsikannya….setelah diklarifikasi dan orang masih lost in translation, ya udah dinikmati aja…ada waktunya kita mengerti dan dimengerti, gak perlu maksa…he..he..he..

    • Wahahahaha….thanks Bu Agnes, for visiting : ) dan mau leave comment hehehe…….
      Betul Bu, dinimati aja. Justru yang begini-begini yang bikin hidup lebih berwarna dan agak lucu hehehe…..Thanks ya Bu!

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s