A team with character: Apa yang bisa kita pelajari dari Thomas Muller dan kawan-kawan

Dalam minggu terakhir ini, klien-klien saya banyak bicara tentang karakter SDM. Pada intinya, mereka memiliki pendapat sama, yaitu: “….yang penting dari SDM itu punya karakter yang bagus, bisa dipercaya dan bisa kerja; daripada pintar tapi tidak bisa diatur dan rewel”. Dalam benak saya, tak dipungkiri ada suara ini: ”Betul sekali!!!”. Saya sungguh dengan jujur tak dapat membantah, bahwa saya sudah sering jengkel dengan situasi-situasi dimana saya bertemu dengan orang-orang yang berkarakter payah. Orang-orang macam ini sering menilai dirinya terlalu tinggi dan mudah berlagak, tanpa mengetahui bahwa lagak mereka ini membuat kualitas mereka semakin tampak rendah.

Lalu saya merenung…..dan saya jadi teringat World Cup 2010 di Afrika Selatan. Yah, tentu saja karena saya cukup rutin mengikuti perkembangan-perkembangan selama World Cup 2010 berlangsung. Yang muncul di benak saya adalah tim Perancis, tim Jerman serta tiga tim besar lain: Argentina, Brasil dan Inggris.

Mengapa Perancis? Karena ini tim yang seharusnya besar, tapi penuh dengan kekonyolan dan kebodohan yang tidak layak. Apa mereka tidak layak masuk World Cup? Bukan itu! Mereka layak masuk karena mereka toh lolos kualifikasi. Itu artinya mereka kompeten dalam bermain sepak bola. Tapi kompeten bermain sepak bola sama sekali tidak ada relevansinya dengan punya karakter yang baik. Ketololan Perancis, baik di dalam maupun di luar lapangan, kita semua sudah melihat. Mereka tidak bisa bertingkahlaku sebagai tim professional yang pernah menjadi juara dunia. Mereka tidak menunjukkan karakter juara dunia yang pernah membumbungkan nama-nama besar seperti Michel Platini dan Zinedine Zidane.

Lalu kenapa Jerman? Sederhana jawabannya. Tim ini mungkin contoh terbaik tentang apa artinya kata ‘tim’. Sekumpulan anak muda yang belum berpengalaman di World Cup, tapi mampu menggunakan kemampuan masing-masing untuk bersinergi dalam sebuah tim yang efektif dan produktif. Saya baru terkesima terhadap Thomas Muller, Mesut Ozil, Sami Khedira dan Manuel Neuer setelah melihat mereka bermain bersama. Melihat anak-anak muda ini bisa harmonis dalam permainan cepat dengan Bastian Sweinsteiger, Phillip Lahm dan Miroslav Klose yang terhitung lebih senior dari mereka, saya melihat permaina tim Jerman terasa indah.

Bandingkan dengan tiga nama besar lainnya: Argentina, Brasil dan Inggris. Tiga tim ini penuh dengan pemain jago dan berkualitas luar biasa. Ada Lionel Messi yang luar biasa di Argentina, tapi begitu dia terkunci, habis sudah. Ada Kaka yang muda dan berpengalaman, tapi tanpa tandem yang pas, Brasil harus menerima bahwa mereka tak layak juara lagi. Ada Steven Gerrard, Frank Lampard, dan Wayne Rooney di Inggris; dan seperti juga dalam beberapa World Cup sebelumnya, Inggris adalah tim bintang yang jarang menang. Bila tim Jerman akhirnya kalah terhormat dengan Spanyol, tim-tim besar ini justru harus banyak introspeksi karena mereka kurang bisa optimal untuk bermain sebagai tim.

Tim dengan pemain bintang belum tentu tim yang berkarakter juara. SDM yang pintar dan kompeten dalam skill, belum berkarakter baik dan positif bagi organisasi.

Di awal 2010 yang lalu saya diminta menjadi narasumber dalam sebuah talkshow untuk memperkenalkan wawancara berbasis nilai bagi proses rekrutmen SDM bagi perusahaan. Saat itu, saya yang baru pulang dari Amerika Serikat membawa sebuah misi personal: Mempromosikan pentingnya nilai-nilai dasar (basic values) dalam pengembangan SDM dan organisasi. Artinya, saya ingin mempromosikan bahwa organisasi harus mengutamakan karakter dalam merekrut orang. Saya juga ingin mempromosikan bahwa orang kompeten itu banyak, tapi yang sukses adalah orang kompetens yang berkarakter. Dalam bahasa sehari-hari yang mudah dipahami, kesuksesan itu datang pada mereka yang berkarakter yang kuat, berpinsip yang jelas, punya keuletan dan tanggungjawab serta bisa dipercaya. Ini semua adalah nilai dasar yang universal.

Seth Godin memperkenalkan istilah linchpin untuk menyebut SDM-SDM istimewa yang tak tergantikan bagi organisasi (indispensable people). Para linchpin ini ‘dilempar’ ke situasi apapun selalu menunjukkan keistimewaan mereka. Apabila organisasi ‘mengusir’ mereka, mereka tetap akan bisa survive di tempat lain; entah dengan organisasi lain atau mereka bergerak mandiri. Justru dengan ‘mengusir’ mereka, organisasi bisa jadi kehilangan kekuatannya. Orang-orang macam ini bukan hanya pintar, tapi mereka berkualitas secara utuh. Mereka berkarakter luar biasa, sehingga mereka akan selalu memberi warna dimanapun mereka berada. Banyak orang pintar, tapi tidak semua berkarakter.

Kini, banyak sekali pakar manajemen mulai menulis pentingnya karakter. Saya pikir, jaman sedang berubah. Sudah saatnya melihat bahwa SDM yang berkualitas adalah SDM yang pertama-tama harus berkarakter. Berikutnya baru kepintaran. Orang yang kurang pintar bisa belajar dan berkembang, kalau dia berkarakter. Orang seperti ini punya nilai investasi yang bagus. Sebaliknya, orang yang pintar tapi tidak berkarakter, akan mudah menjadi sombong, bebal dan mudah berpuas diri. Orang macam ini sumber kerugian bagi organisasi, dan sudah pasti bagi dirinya sendiri.

Menjadi berkarakter adalah menjadi diri sendiri yang kreatif dan berprinsip. Ini bukan sesuatu yang bisa kita hafal dari buku-buku, atau kita pelajari dari kursus-kursus. Ini adalah soal personal practice dan way of life.

Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita akan menjadi seperti Thomas Muller dan kawan-kawan?


Share/Bookmark

4 responses to “A team with character: Apa yang bisa kita pelajari dari Thomas Muller dan kawan-kawan

  1. Tulisannya sangat menarik dan bagus. Saya banyak setuju dan sebetulnya menjadi tertarik utk mengaitkannya dgn pendidikan. Membangun karakter yg kuat dan kreatif, bukan cuma pintar dan trampil, sptnya kurang menjadi perhatian dlm kegiatan pendidikan kita. Sekolah2 mahal dgn fasilitas lengkap yg katanya “berstandar internasional” juga tidak lantas serta merta menjamin itu. Saya tunggu komen ataupun tulisannya berikutnya. Terima kasih

    • Betul, Mas. Ini masalahnya ada di pendidikan, bahkan sejak pendidikan dasar dan pergaulan saat kecil. Lalu bagaimana sekolah-sekolah kita menyambutnya. Sepertinya memang pendidikan kita cuma pengajaran, bukan pendidikan sejati. Kenyataanya, sistemnya secara riil mencetak pemburu nilai ujian, bukan nilai kehidupan dan proses kreatif dalam membuat hidup yang lebih baik.
      Bukan berarti ujian tidak penting, tapi kualitas proses pendidikan yang jauh lebih penting. Bila negara-negara yang kuat mendidik siswanya untuk menciptakan sesuatu yang baru bagi dunia internasional, maka sekolah berstandar internasional kita banyak yang terjebak dalam upaya menciptakan papan nama internasional di depan sekolah : )
      Tapi bagaimanapun carut-marutnya, terbukti banyak kesadaran baru yang timbul, walau memang banyak juga yang tersesat.

  2. Ayah saya bekerja 40 tahun di kompas gramedia. Sekitar 30 tahun yang lalu, P.K Ojong, salah satu pendiri Kompas, sudah memiliki insight serupa. Orang berkarakter kuat itu bisa selalu disekolahkan untuk menjadi pintar. Namun sangat sulit untuk membuat orang pintar untuk memiliki karakter yang kuat. Ojong dan Jakob Oetama memimpin kompas berpuluh-puluh tahun dengan cara berpikir seperti itu, yang justru -tampaknya- sekarang ditinggalkan oleh para penerusnya.

    Ironinya karakter itu lahir dan berkembang di dalam keluarga. Padahal keluarga modern sekarang ini sangat tidak kondunsif untuk perkembangan karakter, mulai dari konsumsi junk food, budaya sinetron dan infotainment, racun yang disebarkan oleh acara-acara idol dan sejenisnya, sampai perceraian yang menghancurkan harmoni di dalam keluarga. Disini kita bisa menarik garis hubung antara kualitas sdm, suasana keluarga, kualitas pernikahan modern, cara mendidik anak, sampai kualitas cinta yang menjadi dasar yang mengikat suatu pernikahan. Semuanya saling terhubung tanpa bisa terpisahkan.

    • I couldn’t agree more! Karakter bukan kompetensi. Karakter adalah soal kualitas personal, yang sejatinya representasi dari bagaimana seseorang ditempa oleh perjalanan kehidupannya. Jadi, menurut saya adalah sangat naif bahkan sesat apabila kita meyakini bahwa peningkatan kualitas SDM adalah semata-mata soal pendidikan. Kualitas SDM adalah representasi dari konsepsi sosial budaya sebuah masyarakat.
      Karakter, secara khusus, adalah batu bata yang membangun budaya sejati masyarakat tersebut. Hal ini yang sayangnya tidak banyak dilihat secara sungguh-sungguh oleh pemimpin, pemuka agama, intelektual dan budayawan kita. Mereka suka bicara yang melip-melip dan lupa akan hal-hal kecil yang justru menjadi kunci bagi perubahan riil ke masa depan.

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s