Barisan ‘sakit hati’

Belakangan ini kita melihat di media sosial dan sebagian media massa, tentang sebagian orang yang berpolemik soal keberhasilan Asian Games. Topik ributnya tentu kebanyakan kita sudah paham…..soal siapa yang berhak dapat kredit atas keberhasilan Asian Games. Tentu dengan sebagian pihak yang tampaknya ‘sensi’ karena merasa keberhasilan ini membuat mereka tampak buruk…..

Sebenarnya ini konyol, karena yang paling berhasil hanya dua pihak, yang justru tidak ikut ribut. Siapa mereka? Para atlet dan pembina olahraga, dan panitia penyelenggara Asian Games. Kedua pihak inilah yang sukses dalam mewujudkan dua indikator kesuksesan Asian Games, yaitu jumlah medali dan penyelenggaraan seluruh event Asian Games itu sendiri.

Tapi ini adalah sebuah kenyataan yang sering terjadi di seputar kesuksesan di bidang apapun, termasuk di dalam bisnis. Dimanapun ada kompetisi, akan ada kisah sukses, dan kisah kurang sukses alias gagal. Lebih serunya lagi, kompetisi hampir selalu ada di manapun, formal atau tidak.

Secara formal ada kompetisi antar bisnis. Tapi juga ada kompetisi informal seperti kompetis untuk berprestasi lebih baik antar anggota tim. Bahkan ada kompetisi dalam hal kecil seperti siapa yang mampu bikin selfie lebih bagus, atau bahkan siapa memberi komentar lebih dulu hehehe…..

Konsekuensinya, konflik akan selalu ada, siap atau tidak. Iri dan kecemburuan juga selalu ada. Kalah menang dalam bersaing juga sesungguhnya hal biasa.

Tapi hampir selalu ada gerombolan orang sakit hati yang berkumpul – barisan ‘sakit hati’. Hal ini, sayangnya, adalah manusiawi. Sebuah respon psikologis intuitif ketika orang yang gagal harus mengidentifikasi suatu pihak sebagai penyebab dari kegagalannya.

Kalau gagal atau kalah, sebenarnya tidak ada gunanya menggalang barisan ‘sakit hati’ bersama orang lain yang juga gagal atau kalah. Itu tidak ada gunanya. Justru yang penting adalah menggalang barisan ‘ingin maju’. Tapi ini adalah respon rasional logis.

Tapi manusia, pada realitasnya, tidak selalu bertindak berdasarkan pertimbangan rasional logis. Maka, adalah bagian dari keterampilan dasar pemimpin atau manajemen sebuah organisasi untuk mampu mengelola hal ini – mampu berurusan dengan barisan ‘sakit hati’ dan menyelesaikan masalah yang timbul karenanya.

Advertisements

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s