Sri Mulyani Indrawati dan angsa bertelur emas

"The Goose That Lays Golden Eggs" - ...

Image by gynti_46 via Flickr

Walau saya belum pernah bertemu beliau, tapi Sri Mulyani Indrawati termasuk salah satu nama tokoh yang layak diingat oleh otak saya. Ini karena beberapa alasan. Pertama, dia salah satu nama yang sering muncul di televisi dan media cetak saat reformasi mulai bergulir sekitar tahun 1997an.

Tentu saja banyak nama yang muncul saat itu, tapi Sri Mulyani adalah tokoh yang opininya jelas, lugas, mudah dipahami dan menarik untuk dipikirkan lebih jauh; bahkan oleh orang awam sekalipun. Dibanding ekonom-ekonom lain yang sangat ideologis dan sangat bergaya ‘sekolahan’, Sri Mulyani identik dengan penjelasannya tentang mekanisme-mekanisme yang bergerak dalam situasi ekonomi saat itu; serta apa yang menurut dia menimbulkan konsekuensi positif dan apa yang sebaliknya.

Saat itu, dan hingga saat ini, saya melihatnya sebagai sosok yang punya individual value yang jelas. Walau saat itu saya masih mahasiswa, tidak sulit bagi saya untuk melihat dua kualitas dia: dia pintar dan dia bisa mengkomunikasikannya dengan cara yang membuat orang segan. Kini,  sebagai praktisi pengembangan organisasi, saya melihat bahwa dia punya tampilan luar yang menunjukkan kualitas pribadinya. Kalau bahasa awamnya, dia punya ‘hawa’ yang menunjukkan dia lain daripada yang lain.

Dalam perjalanannya, kinerjanya menunjukkan bahwa dia lebih dari sekedar memiliki validitas tampang. Dia terbukti sebagai orang yang tegas tapi bisa luwes, idealis tapi tetap fleksibel, tahu apa yang penting tapi mampu beradaptasi terhadap realitas. Dia tampak jelas menjadi ‘angsa bertelur emas’ bagi organisasi yang dikenal sebagai Pemerintah Republik Indonesia. Bahkan, dia adalah angsa bertelur emas bagi pemerintah Presiden SBY.

Saya tidak sedang membahas ekonomi nasional atau situasi politik paska perginya Sri Mulyani dari kabinet. Bagi saya yang menarik adalah bahwa dinamika politiklah yang membuat sang angsa bertelur emas harus keluar dari organisasi. Saya pribadi sering melihat ini terjadi di berbagai organisasi, entah itu organisasi yang saya terlibat di dalamnya ataupun organisasi yang hanya saya amati dari luar. Polanya sama: Sang angsa boleh saja bertelur emas, tapi dia tetap saja angsa.

Dan anda tahu nasib sang angsa? Di sebuah organisasi yang dinamika politiknya diisi oleh hewan-hewan pemangsa seperti harimau dan serigala, sementara ular-ular berkeliaran; sang angsa tak banyak bisa berbuat. Dan ini yang perlu diingat: bila terlalu banyak pemangsa, ekosistem akan kacau. Dalam konteks organisasi, ini artinya dinamika politik menjadi destruktif. Pada organisasi seperti ini, personel yang hebat kinerjanya takkan bisa survive tanpa political power yang kuat.

Artinya, bisa bertelur emas tidak menjamin keselamatan sang angsa. Karena dinamika politik destruktif bisa membuat kepemimpinan dalam organisasi menjadi sangat ‘bodoh’. Bagaikan petani bodoh yang tidak bisa merawat angsanya, maka organisasi menjadi tidak mampu menjaga orang-orang terbaiknya.
Meskipun mereka tahu bahwa adalah sang angsa yang membuat organisasi istimewa melalui telur emasnya, mereka membuat situasi berbahaya bagi sang angsa. Ada dua kemungkinan yang akan dilakukan petani bodoh dengan angsa bertelur emas: memasak angsa itu, atau menjualnya ke petani lain. Keduanya berujung pada satu kepastian: dia tidak akan menikmati hasil dari telur emasnya.

Demikian juga dengan kepemimpinan organisasi yang ‘bodoh’. Personel-personel bermutunya akan menjadi tidak produktif karena tidak dikelola dengan baik, atau mereka akan ‘diambil’ organisasi lain. Keduanya merugikan organisasi. Mungkin saja memang, bahwa orang-orang berkualitas ini punya political power kuat dan skill yang piawai. Nah kalau ini situasinya, mereka bukan angsa, tapi elang bertelur emas. Mereka akan bisa pergi sesuka hati.

Oleh sebab itu, wahai para petani, rawat baik-baik angsa bertelur emasmu.

Share/Bookmark

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s