Dimsum sore hari, remaja bergaya eksmud, dan pendulum perubahan

Variety of "dimsums" are being steam...

Image via Wikipedia

Di tengah kehidupan yang makin kompleks ini, kalaulah ada yang membuat saya merasakan ‘hidup’, maka itu adalah perubahan. Yang lebih energizing lagi adalah bahwa sekarang ini makin banyak perubahan yang beragam. Mulai dari yang simple tapi mencengangkan, sampai yang aneh dan dangkal. Semuanya membuat saya tersenyum, kadang senyum simpul, kadang senyum kecut, atau malah tertawa lebar hehehe……. Berikut ini saya tuturkan beberapa di antaranya.

Salah satu yang menarik adalah pola konsumsi dimsum di Surabaya. Tahun 90an hingga 2000an, sepemahaman saya, jenis chinese food yang satu ini identik dengan breakfast alias makan pagi. Kalau kita ingin makan dimsum atau yamcha, ya harus pagi. Kalau siang dan sore, nggak ada yang jual hehehe…….😉

Tapi itu sudah masa lalu. Sekarang hampir di setiap mal di Surabaya, kita bisa menikmati dimsum, entah pagi, siang ataupun malam. Menu yang tadinya secara tradisional di Surabaya adalah makan pagi, sudah berevolusi menjadi menu untuk kapanpun. Walaupun saya katakan evolusi, perubahan ini terjadi dalam kurun waktu yang pendek, bukan jutaan tahun seperti evolusi dinosaurus hahaha…..jadi sebenarnya bisa dibilang revolusi😉

Ada satu hasil pengamatan lagi yang juga terkait gaya hidup. Seperti juga soal makan dimsum tadi, ini juga soal kecil yang mungkin luput dari perhatian banyak orang. Yang saya maksud adalah gaya busana eksekutif muda. Anda mungkin bertanya, apa yang aneh dengan itu? Kan normal saja?

Ya, benar. Tapi saya melihat dengan perspektif yang agak berbeda. Saya lebih melihatnya karena siapa yang memakainya. Kalau seorang profesional muda berusia 30an tahun memakai busana kerja ya memang normal dan sewajarnya. Let’s look at some details. Banyak gaya busana remaja/ABG sekarang yang bisa kita jumpai di berbagai mal, khususnya remaja putri. Dulu waktu saya masih kuliah, remaja identik dengan T-shirt/kaus dan celana jeans. Sekarang, saya tidak melihat gaya busana itu sebagai mainstream.

Remaja putri usia sekolah menengah hingga mahasiswa kini berbusana bergaya rapi dan elegan, layaknya mereka yang sudah bekerja profesional di usia 30an. Tentu, ada sedikit gaya chick dan centil ala anak muda, tapi model busana dan gaya make up mengarah sangat adult dan mature. Kadang, mereka malah memakai model night gown untuk ke mal, padahal outfit macam itu biasanya untuk corporate dinner, product launching, dan event-event eksekutif lainnya. Ingin mudah melihat fenomena ini? Cek saja foto-foto para ABG di facebook. Lihatlah betapa mature dan adult mereka, dibanding usianya😉

Walau mungkin tidak seekstrim remaja putri, remaja putra juga mulai seperti itu. Busana kemeja rapi menjadi trend untuk hang-out dan acara-acara casual lainnya. Memakai blazer atau jas mulai sering terjadi untuk acara-acara casual. Hal yang sama juga tampak pada cara berjalan hehehe….. Seakan makin banyak remaja yang cara berjalan dan bertingkahlaku (seperti cara minum teh dari cangkir) dengan gaya model atau lulusan John Robert Powers hehehe🙂 Padahal dulu itu identik dengan orang-orang profesional saja.

Secara umum saya melihat, dari segi gaya busana, trend eksekutif muda ini malah banyak diadopsi mereka yang bukan, atau belum, jadi profesional muda. Mereka masih sekolah atau kuliah, dan kalaupun sudah bekerja, mereka bukan benar-benar bekerja di level eksekutif dalam artian sebenarnya. Banyak dari mereka adalah masih staf junior di bidang marketing, yang belum menjadi executive decision maker sesungguhnya. Banyak pula yang sehari-hari sebenarnya bekerja di perdagangan eceran atau pekerjaan lain yang lebih identik dengan jeans dan kaus, daripada gaya formal eksekutif muda hehehehe……

Saya tidak bilang ini salah atau benar. Inilah perubahan. Perubahan itu hidup. Dia punya maunya sendiri. Dia seperti pendulum yang berayun kesana-kemari. Apakah salah bila para ABG tampil mature dalam busana? Tidak! Buat saya yang penting kedewasaan mental mereka bertumbuh; tidak hanya busana, make-up dan gaya berjalan. Memang, ini menjadi concern banyak orang karena konon makin banyak generasi muda yang kurang mature secara mental, walau matang dari segi penampilan fisik hehehehe…. Tapi, saya pikir itulah perubahan, dia seperti ayunan pendulum yang harus berayun bolak-balik dulu agar menemukan equilibrium. Tapi perlu juga kita ingat, perubahan itu hidup, jadi pendulum itu juga tidak akan pernah benar-benar berhenti di titik equilibrium. Equilibrium adalah keseimbangan dari ayunan, buka sebuah titik statis.

Perubahan pola konsumsi dimsum di Surabaya dan gaya busana ala eksmud pada kaum muda berubah cukup cepat dalam kurun waktu satu dekade terakhir. Jadi bisa saja satu dekade ke depan, perubahan lain bisa terjadi. Padahal kita baru bicara perubahan di Surabaya. Pendulum perubahan berayun di manapun; di tempat kerja kita, di teman-teman kita, di komunitas hobby kita, di pemerintahan, di alam dan lingkungan sekitar kita dan di beragam konsteks lain.

Perubahan selalu ada dan dia akan bergerak…..dengan atau tanpa kita mengikutinya! Kita boleh setuju atau tidak, dia tetap akan bergerak. Alih-alih berusaha mengendalikan pendulum perubahan, kita mungkin lebih baik belajar untuk mengenalinya dan bermain bersamanya……karena dia hidup. Dengan itulah kita ikut mempengaruhi perubahan.

 

Posted with WordPress for BlackBerry.

20 responses to “Dimsum sore hari, remaja bergaya eksmud, dan pendulum perubahan

  1. Hahahaha … So very true! Sometimes the wind of change struck us so hard, and left us in wondering. But life is way too dynamic to be stopped at some certain point. Hey! We should feel glad, for we are at our 30s (I’m about to – soon), but we still young at heart (I still love my Converse over my heels). Happy Sunday!

  2. yap.. banyak bgtz perubahan yang terjadi sampai saya yang anak muda ini(ha3x) pun turut blg ” banyak hal yang berbeda dari tahun ke tahun”…
    yang saya ingin cermati adalah kementalitas anak jaman skrg”termksd aq”…
    kami cenderung menginkan pujian tanpa melewati proses..
    terutama dalam bisnis keluarga…
    untuk belajar dari pengalaman orang tua saja kami cenderung sering menyalahkan mereka dan menentukan mana yang benar dan mana yang salah..
    sll merasa bisa dan mampu akibatnya ingin diberi tanggung jawab yang besar….
    beda dengan prinsip dekade sebelumnya yg mereka mau merangkak dari bawah sebelum di beri beban besar…

    • Hehehehe……mungkin karena sekarang jamannya PR (public relation). Artinya yang penting adalah persepsi orang tentang diri kita. Dalam konteks ini, banyak kaum muda mau terlihat sukses walau masih muda di mata orang lain. Masalahnya, kelihatan sukses lebih gampang daripada benar-benar jadi sukses walau masih muda hehehe……..Ini yg membikin banyak kaum muda mau instantisme dan melupakan esensi sesungguhnya: proses menjadi sukses.

      Jadinya, yang penting kelihatan sukses, walau sesungguhnya nggak jelas apa kesuksesannya. Bentuk PRnya ya berbusana eksekutif muda tadi hehehe….bahkan masih SMA pun gayanya udah seperti ‘om-om dan tante-tante yang berbisnis’ hahahaha……

      Mungkin……mereka sebenarnya bingung luar biasa atas dunia yang ruwet ini. Maka, yang ada di pikiran mereka ya jalan pintas. Jadilah instantisme. Jadilah gaya busana eksmud. Jadilah semua bentuk public relation tadi😉

      • ha3x..
        ia mungkin begt. saya juga mulai melihai menjadi sukses diusia mudah seakan2x menjadi tren tanpa melihat suksesnya.. hal ini menurut saya sengaja diciptakan.. karena dengan begitu MLM 2x dengan mudahnya menawarkan maupun mengajak seseorang untuk join dengan mengatas namakan income yang besar dan kesuksesan usia dini… menjadikan orang2x yang ikt MLM menjadi kepala batu untuk jatuh bangun jatuh bangun dengan cara yang sama…. ha3x..
        tp mnrt bapak gimana yah apa yang perlu dipelajari dari orang tua? agar soulnya dalam menjalankan bisnis dapet… karena selama ini saya hanya belajar melihat tapi tidak merasakan pembelajran…thx ya sir

      • Hehehe…..sepertinya memang demikian : ) Ini diciptakan untuk mendukung pola industri tertentu hehehehe…..

        Soal yang belajar ke orangtua, tapi tidak mendapat pembelajaran, aku nggak mengerti maksudnya. Bisa diperjelas?

  3. em… ya saya selma ini ikut melihat jalannya prosess kerja di pabrik. mulai dari produksi sampai ke distribusi.. namun saya merasa blm mendapatkan pembeljaran. contoh : ketika ada pegawai yang kerjanya dengan sengaja memperlama, saya tau kalau saya harus menegur. tapi tidak tau bagaimana harus menegurnya….kalau di bagian distribusi saya tau kalau harus berlasi dengan distributor, tapi saya tidak tau bagimana untuk berelasi untuk membagun keakraban dengan distributor. yah intinya saya tau banyak tapi untuk ke action saya belum mendapatkan rohnya… padahal yang ingin saya dapatkan adalah kemampuan untuk memutuskan bertindak… istilahnya bukan hrd yg cuma bawa teori, tapi peka terhadap masalah dan peka terhadap solusi..gt….

    • Dear Pak Haryono,

      Saya rasa pembelajaran akan Bapak dapatkan dari pengalaman. Dalam hal ini, Bapak harus memahami roles Bapak di pabrik, termasuk authorities yang Bapak miliki. Sekedar pertanyaan, bagaimana dengan SOP, Job Description, maupun policies lain yang berjalan di pabrik? apakah sudah sesuai atau masih perlu transformasi ke arah yang lebih baik? bagaimana dengan work culture & environment nya? Apakah setiap karyawan pabrik sudah bisa bekerja secara professional baik secara individual maupun team work? Jika boleh menyarankan, saya menyarankan Bapak dan team agar melakukan a evaluasi secara menyeluruh terhadap SOP, Job Desc, Policies, dan work culture, dan bila sudah selesai, seharusnya Bapak dan team bisa solve problem dengan perbaikan SOP, Job Desc, policies, dan transformasi work culture. metode evaluasi umumnya dengan metode SWOT. untuk pribadi, saya sarankan Bapak untuk memperkuat Leadership characters. mengenai komunikasi yang seakan-akan putus, saya rasa bisa Bapak temukan penyebabnya dalam evaluasi di atas. terakhir, mungkin Bapak bisa coba baca buku 7 Habits karangan Dr. Stephen Covey, karena isi buku tersebut sangat bagus untuk membentuk budaya dan kerangka pikir manusia. Try it….

    • Aku kurang lebih setuju dengan saran Pak Glenn😉

      Jump in! Dengan ikut bekerja bersama mereka, nuansa dan soul bisnis itu akan terasa. Itu akan memberi banyak informasi tentang apa yang sesungguhnya terjadi, dan bagaimana meresponnya.

      • em…
        @ pak glenn.perusahaannya belum punya sop dan segala macam… dan saya belum terjun secara penuh kr masih kuliah dan jauh dari proses industri yang di luar kota,.. walaupun saya sudah terjunpun msh akan susah karena orang tua saya tidak melihat pentingnya sop, job desk dan segala macam….terimah kasih ya pak atas sarannya.. nanti saya akan coba membaca buku yang bapak usulkan.
        @ pak james..jump in yg gimana pak? apa hanya dengan jump in tanpa mempunyai kaca mata apa yan ingin dipelajari saya bisa mendapatkan soulnya sir?

      • Kalau kamu masuk, kamu akan menemukan ‘kacamata’ yang pas untuk kamu melihat. Mungkin sekali yang kamu lihat berbeda dengan apa yang orangtuamu lihat, dan itu tidak masalah. Setelah kamu bisa melihat dan merasakan secara utuh, baru kamu bisa negosiasi dengan ortumu, inovasi apa yang bisa dilakukan. Disitu kamu baru bisa bicara rubah ini dan itu. Itu maksudku.

  4. Kalau dari ‘kacamata’ saya, bisa saja gaya berbusana anak muda ini mengikuti pendulum yang bernama trend, walaupun sebenarnya nggak perlu. tampil rapi bukan berarti bergaya om-0m atau tante-tante, yang notabene gaya busana mereka memang seharusnya demikian karena tuntutan bisnis. Yang penting buat anak-anak muda ini ya jangan sampai muncul image ‘salah kostum’ apalagi kalau punya gaya ‘rong juta seperapat’ hehehehe…. karena jujur saja, di Jakarta banyak anak muda berbusana ‘salah kostum’ dan gayanya ‘dua juta seperapat’…..

    • Hahahahaha……menarik! Salah kostum itu kan biasanya kalau sudah nyimpang. Tapi trend sekarang kan memang ekspresif berbeda yang penting, jadi makin nyimpang bisa jadi makin seru. Nah kalau begini, apa masih ada yang bisa disebut salah kostum? Trend yang unik😉

  5. Fenomena ABG bergaya eksmud memang banyak kita lihat di tengah-tengah perkotaan semacam ini. Dan saya melihat ini sebagai suatu fenomena yang biasa terjadi namun well done, layak dan menarik untuk kita kaji sama-sama. Kalau saya boleh berpendapat, fenomena ini sebenarnya sangat match dengan berbagai teori-teori psikologi tentang perkembangan psikologis manusia, di usia mereka yang dibilang anak-anak juga enggak dibilang dewasa juga enggak, terjadi semacam konflik internal “mau identitas yang manakah saya?” statement ini nampaknya mirip dengan “mau pake topeng yang manakah saya?”, nah di era perubahan jaman yang cukup pesat ini (yg mungkin juga didukung dengan kemajuan teknologi informasi), arus informasi juga semakin deras, sehingga memungkinkan bagi para generasi muda kita ini untuk melakukan imitasi sesuai dengan yang menurut mereka ideal. Sebenarnya, kalau kita mau menilik secara lebih widespread, sebenarnya bukan hanya fenomena dandan eksmud yang terjadi di kalangan ABG sekarang, masih banyak juga fenomena-fenomena dandan yang lain seperti dandan punker, dandan breaker, dandan mohawk, dandan rocker, dan dandan-dandan lainnya.🙂
    Para ABG yang menurut Eriksson masih dalam tahap pencarian jati diri tersebut melakukan pembelajaran dengan cara imitasi terhadap objek di luar dirinya sesuai dengan analisa ideal self yang mereka miliki.
    Kalau jaman kita dulu, James (sedikit flashback) yang ngetrend ya kaos oblong dan celana jeans – yang mungkin masih terpengaruh trend gaya si Lupus – lain halnya dengan sekarang yang cenderung identik dengan gaya eksmud seperti yang diimitasikan mereka melalui film-film yang beredar di masyarakat sekarang, seperti Serial Drama Korea dan serial dari manca negara lainnya, Sinetron-sinteron, sehingga kemudian menjadi trend. Pertanyaan berikutnya mungkin begini, “Lah yang liat kan kebanyakan cewek, yang cowok kan ga suka drama?”. Maka saya bisa jawab, siapa bilang cewek saja yang suka? Cowok juga suka, karena mereka harus belajar untuk menarik perhatian lawan jenisnya demi mendapatkan pengakuan untuk image postif yang mereka dambakan (U pasti tahu lah image apa yang dimaksud).
    Sebenarnya ada baiknya kalo semakin banyak yang bergaya eksmud seperti yang James lihat di belahan dunianya, karena itu mungkin, sekali lagi saya katakan mungkin pertanda bahwa ideal self (yang sangat erat korelasinya dengan cita-cita atau harapan pribadi) banyak ABG sekarang adalah menjadi eksmud, hanya saja ya seperti yang dikatakan James semoga mereka bukan hanya gaya saja tapi juga eksmud dari segi mental dan kedewasaan psikologisnya.
    Delapan Enam???

    • Hahahahahaha……delapan enam!

      Betul, idealisasi itu tertuang dalam gaya busana. Itu menggambarkan orientasi hidup. Dan, memang yang jadi masalah, sebagaimana semua masalah di dunia sejak dulu, adalah apakah idealisasi bisa terwujud, atau cuma jadi pencitraan yang aslinya tidak demikian hehehe……

      • Taruna delapan enam…
        Masalah idealisasi bisa terwujud atau tidak itu adalah bicara tentang next step-nya.
        Idealisasi itu ibarat sebuah target yang harus kita kejar, skalipun idealisasi itu bagi sebagian orang adalah sebuah target yang impossible, tapi setidaknya ada proses dan usaha di dalamnya. Kalau idealisasi diterjemahkan dalam bentuk angka adalah 10 kalaupun tidak tercapai ya setidaknya 8 atau 9 juga sudah bagus. Yang konyol adalah jika targetnya 10 tapi realisasinya cuma 5 atau bahkan ga ada sama sekali. Nah yang seperti ini bisa dikatakan parah, tapi setidaknya, sekali lagi saya sampaikan setidaknya ada usaha yang sudah dilakukan untuk mencapai 10 tadi dan setidaknya sudah mengalami proses dan sakit untuk mencapai angka 10.

        Taruna delapan tujuh….

  6. You’ve make it clear by that statement…there will be never ending problems.
    Children grew up by the problem they’ve got, and Younger also would be like that. Those phenomena had already been a absolute rule of nature for humanity to grew up.
    ~cheers~

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s