SDM, pendidikan dan pembelajaran

Dalam sebuah perbicangan beberapa hari yang lalu dengan beberapa rekan yang bergerak di jasa keuangan, ada sebuah pernyataan menarik yang terlontar: “Kenapa banyak orang bekerja di bidang yang sama sekali berbeda dengan bidang sekolahnya?

Ini adalah sebuah fakta yang sulit dibantah. Banyak orang meyakini bahwa pendidikan adalah pintu menuju kesuksesan di pekerjaan. Tapi lebih banyak lagi yang terpukau dangan kenyataan bahwa banyak orang sukses yang waktu di sekolah tidak menonjol. Tentu saja banyak contoh orang-orang sukses yang prestasi sekolahnya bagus, tapi tidak sedikit orang yang ber-IP tinggi gagal dalam hidupnya. Jadi, sepertinya pendidikan tidak menjamin kesuksesan. Lalu ngapain kita sekolah?

Saya tidak bermaksud menyatakan bahwa sekolah tidak lagi diperlukan. Itu penyimpulan ekstrim yang menunjukkan kesesatan berpikir. Yang perlu kita kritisi adalah sebuah asumsi ‘jual-beli’ atau transaksional tentang pendidikan. Sebagai konsultan organisasi yang juga pendidik, saya menemukan sebuah pandangan umum yang menurut saya bermasalah. Pandangan umum itu berbunyi: Kalau sudah sekolah dan dapat nilai bagus plus gelar, maka kita sudah punya kemampuan untuk mengatasi semua masalah. Itu sebuah asumsi berbahaya yang harus dikritisi oleh siapapun.

Kenapa? Karena pendidikan adalah seperangkat fasilitas dan kondisi yang dirancang untuk belajar, tapi bukan otomatis merupakan pembelajaran itu sendiri. Belajar adalah sebuah aktivitas yang dilakukan individu dalam rangka mencari jawaban atas rasa ingin tahu dan upaya memahami kesulitan yang ditemui. Belajar adalah soal pemaknaan seseorang atas aktivitas hidupnya.

Dengan demikian, orang yang tidak mengenyam pendidikan yang cukup belum tentu tidak belajar. Sebaliknya, orang yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah (seperti saya misalnya….hehehehe…), bisa saja jarang belajar. Saya pribadi berpendapat bahwa yang pasti dalam pendidikan adalah banyak orang yang duduk di kelas dan mengerjakan tugas. Tapi melakukan itu semua tidak berarti belajar. Belajar adalah lebih pada pemaknaan pribadi dan kolektif atas semua aktivitas tersebut.

Nah, urusan pemaknaan ini tidak hanya terjadi di sekolah, tapi bahkan hingga bertahun-tahun sesudah lulus. Karena selagi kita hidup, kita akan selalu beraktivitas. Adalah pilihan kita untuk menjadi mesin yang berputar dalan rutinitas yang tercipta dari aktivitas-aktivitas tersebut; atau kita akan selalu mencari makna baru dari apa yang kita lakukan. Orang-orang sukses yang adalah orang yang selalu sadar akan makna dari aktivitas-aktivitas mereka. Orang biasa adalah pekerja-pekerja patuh yang hidup dalam rutinitas tanpa mencoba memaknai apa yang dilakukan. Kita bisa melihat contoh nyata seperti karyawan-karyawan yang bekerja tunggu perintah dan yang hadir di pekerjaan memenuhi presensi semata. Atau, mahasiswa yang duduk di kelas hanya untuk menunggu kuliah berakhir.

Tentu ini mengundang tanggapan seperti ini: “Wah, kalau orang selalu mencari makna atas aktivitasnya, malah nanti jadi ruwet mikirnya dan nggak bisa nurut. Nanti malah nggak bisa kerjasama dan tidak bisa kerja“. Nah, tanggapan balik saya ini: “Kalau anda ingin jadi SDM berkualitas, ya anda harus belajar; dan bila anda belajar dengan baik, maka anda akan tahu bahwa hasil belajar anda tercermin dalam hasil aktivitas anda”.

Jika seseorang mengatakan dirinya belajar, namun ouput riil dia hanya berupa pemaknaan-pemaknaan tanpa bentuk nyata dalam tindakan, maka sangat normal bagi kita untuk bertanya: Apa ya betul dia selalu meninjau ulang makna aktivitas yang dilakukannya? SDM macam ini mudah ditemui dalam pendidikan, dan mereka berwujud orang-orang yang hadir di kelas untuk menunggu kuliah selesai dan ijazah diterbitkan.

Orang-orang macam begini adalah orang-orang berpendidikan tapi tidak belajar. Mereka lulusan, tapi bukan SDM berkualitas. SDM berkualitas adalah orang yang bisa mengambil keputusan-keputusan penting dan berharga dalam pekerjaannya, dan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang belajar, bukan hanya berpendidikan.

Saya yakin sekali mayoritas dari kita berpendidikan, tapi sudahkah kita belajar?

Posted with WordPress for BlackBerry.

Share/Bookmark

7 responses to “SDM, pendidikan dan pembelajaran

  1. saya setuju dengan pedapat anda pak, bahwa dengan kita lulus dari perguruan tinggi bukan berarti kita adalah tenaga-tenaga yang profesional dan hal ini juga berlaku pada dunia kerja dimana semua orang yang bekerja apabila tidak memaknai setiap aktivitas yang dilakukan maka mereka pun terjebak pada rutinitas yang menyebalkan dan akhir masuk dalam lingkaran kebungungan yang mereka buat sendiri.
    saya rasa semua aktivitas yang kita lakukan, kita kembalikan pada diri kita sendiri. Dimana kita harus memiliki komitmen pribadi yang dibangun dari visi dan misi pribadi atau bisa dibilang secara sederhana adalah harapan pribadi yang ingin kita raih.
    sehingga dengan adanya suatu komitmen dan harapa diri yang selalu diperjuangkan, maka refleksi diri setelah kita menjalani suatu aktivitas bukanlah suatu hal yang asing buat kita..

    • Yup, Dody….tantangannya adalah untuk konsisten memaknai kembali aktivitas kita dari hari ke hari

  2. Lha ya itu pak. Saya masuk Bahasa ya karena itu.

    Dipikir orang masuk IPA, bukannya nggak bisa, tapi saya tidak bisa melihat masa depan saya di bidang itu. IPS pula. Hafalan? Percuma. Bergunakah untuk kuliah saya nanti?

    Pernah saya berpikir untuk tidak sekolah dan langsung kerja. Karena bila sekolah hanya dengan dua bidang di atas itu, percuma. Saya juga tidak menggunakannya di masa depan. (Pokkoke wes untung2an Bahasa dibuka, Wakakakaka~)

    Pemikiran saya pokoknya ulangan saya nggak belajar tapi saya perlu mengerjakan tugas menurut saya yang saya perlukan(Haha. Moga2 ga ada guru yg mbaca, isa dikecam aq besok). Banyak teman saya bersekolah untuk mengejar nilai. Tapi nilai apa? Nanti semasa lulus juga jadi nilai kosong. Ya, saya mengerti kalau buat kuliah bisa dapat beasiswa, tapi kalau nggak ada waktu untuk mengurus diri sendiri, tiap hari selalu kepikiran kerjaan sekolah. Terus kapan mikirin hidup? Iya, mungkin bila nilainya semua bagus, bisa kuliah beasiswa, tapi otaknya cepet tua. Isinya cuman teori tanpa arti. Kalau kuliah kan lebih luas pemikirannya, tapi kalau udah biasa menghafalkan, mengertinya darimana? Saya sering bertanya sama anak-anak IPA 1, mau kuliah dimana? Jawabannya kebanyakan ‘Nggak tau’. Trus kenapa masuk IPA? ‘Disuruh ortu’, ‘pikirannya bisa lebih logis'(ini yg membuat saya tertawa terpingkal-pingkal, logika kok pake rumus??)

    (Pak, aq komen bukan buat nambah nilai lho pak (tapi batin ya kepengen ditambah, namanya juga manusia,wakaakaka~), tapi cuman mau mengeluarkan pemikiran saya saja pak. Haha~)

    • Hehehe……Nicely put, Cherry! Tapi kamu harus paham bahwa tidak semua orang berpikir sepertimu. Itulah kenapa kita harus belajar untuk menyatakan pendapat sesuai dengan prinsip diri kita, tapi sekaligus bisa menunjukkan kalo prinsip kita memang terbukti berguna.

      Aku dulu juga bersikap begitu dengan temen2 yang ‘rajin’…hehehe…..dan akhirnya aku tetep dapat beasiswa juga, malah yang cukup bergengsi : ) Dan, aku tetep jadi diri sendiri, hidupku tetep penuh warna & gak boring hehehe…… : )

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s