‘Musik’ di sekitar kita

Lausanne - Switzerland

Image via Wikipedia

Sebuah ilham menghampiri saya kemarin, saat Felicia (istri saya) bermain musik bersama dengan dua orang kawan, Petra dan Reza. Ilhamnya bukan sebuah kilasan cahaya pencerahan, tapi olokan kawan saya, Reza, karena saya cuma satu-satunya orang yang tidak ikut berpartisipasi dalam membuat bunyi-bunyian merdu : )

Kenapa saya tidak ikut? Ya karena saya tahu diri saja. Partisipasi saya dalam musik mereka akan tak ubahnya perusakan karya seni, terlepas maksud baik saya untuk turut berbagi rasa. Ya makanya saya cuma jadi pendengar yang baik, dan saya cukup bahagia dengan itu. Bahkan, saya percaya saya penikmat seni yang punya selera : )

OK, lalu apa ilhamnya? Begini kira-kira. Musik sebagai karya seni adalah sebuah ekspresi. Musik sebagai irama adalah denyut emosi dan untaian rasa. Sebagai pemusik, Felicia, Petra dan Reza berekspresi melalui untaian nada. Sebaliknya, saya sebagai pendengar, menjadi penikmat denyut emosi dan untaian rasa yang terpancar dari ekspresi estetik mereka. Mereka menikmati ekspresi yang mereka pancarkan, sedangkan saya menikmati nuansa yang mengalir karenanya.

Saya jadinya menemukan ‘pembelaan’ yang bagus untuk ketidakmampuan saya bermusik: saya menyelami keindahan musik melalui nuansa yang ditimbulkan, bukan melalui mengekspresikan musiknya…..hehehehe…..But seriously, sebenarnya memang demikian. Saya bahkan menyadari bahwa ada ‘musik’ dimanapun, dan ‘musik’ itu membangun nuansa yang menggambarkan komposisi ‘musik’ tersebut.

Nuansa emosional yang saya rasakan saat mendengarkan musik memberitahu saya perasaan sang komposer dan para pemain (baik instrumen dan vokalis). Melalui naik turun nada, tempo dan irama, serta harmoni antar beragam jenis suara; kita menangkapa rasa. Komposisi yang anggun mengangkat rasa kagum dalam diri kita. Komposisi yang berapi-api menggerakan semangat. Komposisi yang sedih menyeret perasaan kita dalam ‘relung-relung gelap’ dalam diri.

Nah, bila kita mau sedikit jeli, ada ‘musik’ di dalam keluarga kita, lingkungan kerja kita, komunitas pergaulan kita, atau bahkan juga di masyarakat kota tempat kita tinggal. Dengan membuka diri untuk peka dan jeli, kita bisa merasakan irama yang menjadi denyut lingkungan kita, kita bisa mendengar iramanya dan terpengaruh oleh nuansa dan atmosfer yang ditimbulkan. Itu semua bisa kita rasakan dalam interaksi, percakapan dan beragam aktivitas yang kita lakukan. Kita bisa merasakan saat lingkungan kerja kita penuh dengan irama yang ceria dan gegap gempita, atau sebaliknya, tengah tenggelam dalam nuansa sendu tanpa gairah. Kita tahu bagaimana lingkungan pergaulan kita sedang dirundung mendung, atau hanyut tanpa arah, hanya dengan mendengarkan ‘irama’ yang mengalun dalam percakapan dan gurauan.

Secara emosional, kota tempat kita tinggal memperdengarkan ‘musik’nya, dan kita dapat merasakan apakah irama yang dimainkan adalah komposisi klasik yang sangat kaya dengan detail bergaya konservatif, atau komposisi jazz yang penuh improvisasi dan eksplorasi ekspresi. Dan…..tentu saja kita bisa merasakan ketika irama yang terdengar sumbang atau bagaikan barang pecah-belah yang berjatuhan.

Kata-kata, mimik wajah dan tingkah laku memberikan informasi tentang lingkungan kita. Dan, ‘musik’ yang mengalun menggandeng kita untuk merasakan sesungguhnya apa nuansa rasa di balik wajah, tingkah laku dan percakapan yang terjadi. Informasi membuat kita paham, dan ‘musik’ membuat kita mengenali.

Posted with WordPress for BlackBerry.

40 responses to “‘Musik’ di sekitar kita

  1. Nice thought!

    ‘Musik’ dalam arti ini yang mungkin bisa disamakan dengan kultur dan atmosfer kerja sebuah kelompok. Apakah harmoni atau disharmoni? Tapi apakah ini memang sesuatu yang ‘obyektif’, atau sangat dipengaruhi mood kita pada saat itu? Jadi walaupun musik kerja adalah harmoni dan antusias, namun karena habis bertengkar dengan pengendara lain di jalan, akhirnya harmoni tersebut tidak terdengar, dan digantikan oleh disharmoni?

    • Hehehe…..betul sekali : ) Mood sesungguhnya sangat berkuasa dalam menentukan ritme, dan seringkali mengalahkan rasio. Walau demikian, ada banyak contoh dimana mood juga merubah disharmoni menjadi harmoni : )

      • mood.. itu apa ya? suasana hati… tapi siapa yang sungguh bisa mengontrol suasana hatinya? Bahkan kita pun tidak punya kebebasan untuk menentukan suasana hati… Musik yang indah menjadi memuakkan, ketika suasana hati kita jelek… suasana hati itu seperti kumpulan persepsi tentang masa sekarang, masa lalu, dan masa depan seseorang yang mempengaruhi cara berpikir, keputusan, maupun perilakunya…

    • Ya, pak, ini salah satu anak didik Anda… Haha.

      August Rush was a nice summer movie. One of my all time favorites tapi bagaimanapun saya belum terlalu merasakan musiknya. Iya, memang ia bermusik untuk orang lain, tapi saya belum bisa mendapat perasaan bahwa ia menyanyikan musik hidupnya, bukan musik untuk orang lain. Ia bermusik untuk hidupnya tapi bukan mengartikan hidupnya.

      Jadi ujung-ujungnya, saya bosan deh. Apa karena saya masih muda atau kurang berperasaan saya juga tidak mengerti. Haha^^.

      • Hehehe….bisa saja kamu melihatnya gitu. Tiap orang mengartikannya beda-beda. Coba beberapa tahun lagi kamu tonton lagi film itu, mungkin kamu akan menanggapinya berbeda : )

    • Hi Kak Reza =)
      Benar filmnya itu khas hollywood banget, tp menurut saya esensi dari sebuah film juga pada makna apa yang mau ditunjukkan sama sutradaranya..settingan boleh khas hollywodd, indonesian dll lah😉
      Saya juga bukan musisi, tp saya menikmati musik2 yg dimainkan dalam film tersebut (^^) dan kembali saya pribadi belajar tentang belief, tentang bonding antara orang tua dan anak, tentang talent, a lot of things bisa dipelajari dari sana🙂

      • Yang kita harus kritis adalah, bahwa film tersebut membawa pesan ideologi tertentu secara implisit. Makna yang ingin disampaikan oleh sutradara juga berpijak pada ideologi tertentu. Yang saya tangkap adalah tendensi Hollywood untuk mengeksploitasi sesuatu secara berlebihan, sampai kehilangan akar pada dunia “nyata”. Musik dalam film itu terlalu berlebihan, terlalu dramatis, sampai kita bingung, apakah ini dongeng atau bukan. Dongeng/fiksi yang berlatar belakang ideologi itu pula yang mesti kita pahami, lalu tanggapi secara cermat. Jangan terbuai dengan alunan nada dan gambar yang membuai hati, namun menutup akal budi.

      • Hehehe….diskusinya jadi asyik nih! Memang Hollywood prinsipnya adalah mesin kapitalis penjual impian, dan memang impian adalah komoditas yang laku keras : )

        Dan paradoxnya, ide-ide yang bagus harus dibungkus dengan dongeng-dongeng dan impian-impian yang bisa menyesatkan. Karena kalau disampaikan apa adanya, malah sedikit yang mau melihat/menonton/membaca/mendengarkan. What a life to live on : )

  2. hahaha..iya saya paham, itu cuma cara pandang saya pribadi terhadap sebuah film kok🙂
    memang kesannya imaginatif dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata, tp saya rasa mmg imaginatif itu sendiri perlu. Yang saya liat banyak orang dewasa yang terlalu realistik dan akhirnya cenderung menjadi org2 yg kaku dalam berpikir. Terlepas dari ini film hollywood atau bukan ini adalah keluarannya Warner Bros, film yang untuk dinikmatin semua usia.. seperti Shrek dll hehe… So, saya pikir kalau anak kecil yg menonton ini, mereka tidak akan berpikiran sampai ke sana. Bagi saya pribadi, 1 pesan yg saya tidak akan pernah lupa dari film ini ketika tokohnya mengatakan, “The music is around us, all you need, is listen” (^^) hal yang sama saya temukan di tulisannya Pak James ini, makanya saya ikut nimbrung hehe… Thanks😉

    • Yah memang. Ide-ide bagus juga perlu bungkus yang bagus. Itu memang sintesis yang baik. Dalam hal ini saya jauh lebih menikmati film2 Eropa, terutama Perancis. Mayoritas filmnya tidak terlalu dramatis atau lebai, seperti Hollywood. Namun cukup menghibur dan maksud-maksud yang ingin disampaikan tampak berlapis-lapis, dan ini membuat film menjadi jauh lebih “realistis” sekaligus dalam. Tentu saja selalu ada perkecualian. Saya penggemar berat seperti The Inception misalnya, dan film ini memang produksi Holywood.

      • haha…itu yg saya namakan balancing, segala sesuatu yg berlebihan atau kekurangan mmg tidak ada yang baik. Tp “menjadi” seperti anak kecil juga diperlukan, orang dewasa terlalu memiliki banyak prasangka2 yg akhirnya bikin mereka jatuh karena prasangka itu sendiri. Anak kecil, manusia yg menjalani hidupnya dengan enjoy, dan orang2 seperti ini cenderung bisa lebih peka dan memajami apa yg dibutuhkan di lingkungan dan dunianya. Orang dewasa dengan sifatnya seperti itu, malah cenderung menjadi defensive dan frontal.
        Hidup itu seperti roller coaster iya, tapi kalau saya tidak suka menyebutnya bahwa dunia itu kejam, dunia itu damai dan sejenisnya ;))
        NB: Pak James maap kalo diskusinya jadi melenceng hahahaha :p

  3. Filsuf juga sebenarnya anak kecil yang berpikir dengan daya kritis dan logika setajam “pengacara” (bukan pengacara Indonesia ya?). Jadi anak kecil yang tidak naif. Kenaifan (alisan kedunguan) memandang realitas inilah yang harus pelan2 diubah, supaya kita ga gampang ditipu, baik oleh Holywood, maupun ideologi2 lainnya. Kita harus bangun dari candu kenaifan, kalau kita mau jadi bangsa besar. Jika tetap naif seperti anak kecil yang tidak punya logika dan daya kritis, yah kita tidak akan kemana. Kita akan tetap dijajah, walaupun de jure sudah merdeka. Saya memilih untuk bangun, dan menjauhkan diri dari sikap naif-dungu. Ini yang dilakukan oleh bapak2 bangsa kita dulu, ketika mereka memutuskan untuk tidak lagi naif-dungu hidup di bawah pelukan para kolonial Belanda. Ini yang dilakukan para mahasiswa dan intelektual Indonesia, ketika mereka tidak lagi naif-dungu hidup di bawah pelukan rezim Suharto. Bangunlah dari mimpi indah yang membuat kita dungu.

    Diskusi ini membuat kita melihat gambaran besar problematik Indonesia sekarang ini, dan masalah yang bercokol di dunia pendidikan kita.

    • Hahahaha……pembodohan di negeri ini sudah serius memang……dan sedihnya, sedikit yang mau berdialektika secara serius tentang ini. Tidak mudah bagi banyak orang di masyarakat kita menangkap ide-ide positif di beragam media dan karya seni.

      Kasus lawas tentang Inul misalnya, ada yang melihat sebagai hak asasi berekspresi, tapi lebih banyak yang ribut masalah setuju tidak setuju dengan bokongnya : ). Negeri ini adalah kumpulan kisah tentang masyarakat tanpa esensi, musik tanpa harmoni dan irama yang jelas. Jadinya ya masyarakat yang sejatinya lebih berupa kerumunan yang liar (entah kerumunan perusuh, atau kerumunan ibu-ibu pengangguran yang hidup di mall, atau kerumunan remaja tak kreatif tanpa arah, atau kerumunan birokrat tanpa visi). Analogi musiknya ya rangakaian nada yang terdengar seperti barang pecah belah yang berjatuhan.

      Nora juga pasti sepakat soal ini (kalau aku memang kenal Nora dengan baik hehehe…..bener nggak Nor?). Walau demikian, sedikit orang kritis yang berdiskusi di sini memberi harapan, bahwa masyarakat yang dewasa itu sedang tumbuh…… : )

      • hahaha…seeppp Pak!
        “Analogi musiknya ya rangkaian nada yang terdengar seperti barang pecah belah yang berjatuhan.” parah juga yah haha…. Iya tapi aku optimis, negeri ini sedang bertumbuh dan pasti bisa ke arah yg lbh baik.. Saban hari baca koran, yah tetep ada issue negatif sana sini, tp untungnya masih byk hal yg positif juga yg dikupas… Coba baca koran memo, wwaaahh… isine negatif tok rasae >.< kapan majunya kalo media kayak gitu dipertahankan..

  4. ah, yah 1 kata itu mmg bisa menggambarkan maksud dari keseluruhan diskusi ini😀 “naif”
    absolutely agree, pada dasarnya anak kecil itu mmg kritis dan bisa lebih kritis dari orang dewasa, krn mereka tidak punya prasangka2 yg dapat mengaburkan pandangan mereka itu tadi. Tinggal terasah apa tidak kan kemampuan itu. Sayangnya, memang metode pendidikan di Indonesia masih blm bisa sampai ke sana.

    • ndak hanya metode pendidikan, Nor…..tapi ideologi pendidikan dan metode pembelajaran……Coba lihat, berapa kelas yang kamu ikuti dalam hidup kita yang iramanya seperti pembicaraan kita disini? Tanpa irama diskusi dialektik, pembelajaran jadi semu dan kosong, bagai musik tanpa irama : )

      • kalo ideologi…haha…aku rasa negeri ini dah paling pintar bikin ideologi Pak :p
        setau saya mmg metode pendidikan dan pembelajarannya itu yg kurang maksimal.. atau ideologinya yah yg ketinggian alias muluk2??

      • Ideologi banyak, tapi ideologi espoused theory (pinjem istilahnya Argyris dan Schon)…bukan ideologi sejati yang dipahami sebagai prinsip dasar hidup. Jadinya, ya benar yang kamu katakan, ideologinya buaanyaaaakkkk dan muluk-muluk, tapi tidak esensial dan tidak ada soulnya, plus tidak ada yang terwujud : )

  5. wow… rameee….. wkwkwkwkkwk…

    “ide-ide yang bagus harus dibungkus dengan dongeng-dongeng dan impian-impian yang bisa menyesatkan. Karena kalau disampaikan apa adanya, malah sedikit yang mau melihat/menonton/membaca/mendengarkan” by James

    tapi kritiknya terlalu bermimpi kita ga akan pernah bangun
    kyk di film inception, dunia ini bukan kenyataan, yg nyata itu mimpi
    tpi kalo mimpi itu terlalu besar buat kita, apa kita cukup besar utk mimpi itu?

    **mengingat hollywood itu kalo memberi pesan dlm sebuah film terlalu banyak fantasinya, malah pesannya yg ga ketangkep inget film wall-e? Avatar? Lord of the Rings? dll yg ternyata ada kisah dibalik kisah….tpi tetep aja ga ngefek

    • Itu memang dilemanya argumen James. Bungkus yang bagus tidak menjamin isi tersampaikan. Malah sebaliknya bungkus itu malah menyihir orang kembali ke dalam kenyamanan semunya.

      Saya rasa kita perlu blunt movie. Film yang bungkusnya secara jelas mencerminkan isinya. Film2 semacam itu diperbanyak. Marketing diperkuat dan pasti di dalam proses bisa membawa perubahan kesadaran.

      • MEdia massa termasuk film bioskop memang punya kekuatan besar sekarang ini. Mereka membentuk dan menggiring opini publik. Tinggal pertarungan kekuasaan dan kepentingan saja yang menentukan isi opini publik tersebut.

    • menurutku, nothing is impossible sih ce hehehe… banyak penemuan2 itu juga bermula dari mimpi ~ dream kan… dream untuk menciptakan apa yg kelihatannya tidak mungkin menjadi mungkin… film2 hollywood zaman dl yg menggambarkan manusia bisa ke bulan, peralatan yg canggih dsbnya, akhirnya bisa terealisasi juga…
      jadi seharusnya tidak ada mimpi yg tll besar.. tinggal ada usaha dan mau kerja keras ga😉
      kalau tidak ada dream, tidak akan ada sesuatu yg bener2 baru di bumi ini….hehe

    • Hehe…..jadi ingat omongan temen kita Marnie Schaetti : ) dia nonton Wall-E, dan begitu film selesai, kursi bioskop kotor dan sampah-sampah berserakan…..padahal itu di US yang katanya masyarakatnya maju hehehe : )

      • Yah memang ada semacam kebebalan kolektif di Indonesia maupun Amerika sekarang ini. Yang jahat tidak lagi dimengerti sebagai yang jahat, namun hanya sebagai versi lain dari yang baik. kok aku mencium ulang para pemikir poststrukturalisme yang kebablasan yah disini…

  6. Setuju. Dialektika memang miskin sekali di dunia pendidikan Indonesia. Mental “pilihan ganda” yang konformis dan naif masih dominan. Dialektika masih dipersepsi sebagai simbol kekurang ajaran. Metode pembelajaran pun belum berani mengolah, tetapi masih menerima dengan pasrah. Hasilnya adalah kata Foucault manusia-manusia jinak yang mudah sekali dininabobokan oleh hiburan sesaat yang spektakuler, macam sinetron, film, sirkus, Indonesian Idol, dan sebagainya.

    Dalam bahasa diskusi kita, hasilnya adalah manusia-manusia dungu. Manusia-manusia dungu -menyambung James- memang mudah sekali berubah menjadi kerumunan; massa. Massa tersebut mudah dimobilisasi untuk tujuan apapun. Semakin irasional tujuannya semakin bergairahlah massa (kumpulan orang-orang jinak dan dungu) tersebut. Tak heran banyak ormas liar di negeri kita. Tak hanya ormas namun DPR dan politikus pun banyak yang seperti massa, (dungu dan destruktif). Mereka destruktif bukan karena niat jahat, tapi karena kedunguannya.

    Ideologi, metode pendidikan, dan metode pembelajaran sekolah Indonesia melestarikan manusia-manusia jinak dan dungu tersebut. Kita perlu alternatif pendidikan lain.

      • Ini juga problematik James. Dari sudut pandang postrukturalisme, suara bising pun juga musik. Musik yang menantang definisi mainstream tentang apa itu ‘musik’, seperti musik2 industrial, black metal, dan grindcore yang mengklaim sebagai counter culture dalam dunia musik, karena menolak konsep dasar tentang harmoni.

        Tapi mungkin itu hanya euforia semata yang telah kelewat batas?

      • Hehehe….ekstremisme counter culture pada awalnya kan memang untuk menyeimbangkan establishment yang terlalu ekstrem pro korporat dan dan kapitalistik……
        Sama juga dengan gelombang flower generation tahun 70an dan gelombang human rights pada tahun 90 an – 2000an.

        Yang prinsipil menurutku tetap esensinya, yaitu balancing. Kenapa? Karena lihatlah banyak pejuang kebebasan yang counterculture tanpa sadar menjadi neo kapitalis baru. Buku The Rebel Sell karya Heath dan Potter mengangkat ini, dan menurut saya kritik mereka sangat telak untuk direfleksikan.

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s