Politik gaji

“Berapa yang anda tawarkan?”

Omongan ini biasanya terjadi dalam proses transaksi jual beli. Tapi di jaman sekarang, jual beli juga terjadi di pasar kerja, terutama pada mereka yang punya ketrampilan dan keahlian yang dibutuhkan dunia bisnis. Tidak lagi aneh kalau ada orang yang berani tawar-menawar gaji dalam proses wawancara perkerjaan.

Gaji biasanya memang menjadi salah satu hal utama ketika orang bekerja pada sebuah bisnis yang dimiliki orang lain, alias jadi pegawai. Kalaulah ada yang menganggap gaji tak penting, biasanya adalah orang yang memilih untuk memiliki usaha sendiri. Ya walaupun ada juga orang yang berusaha membangun usaha sendiri karena usahanya untuk mencari pekerjaan enak tak kunjung tercapai. Bisa dibilang, sebagian orang yang memiliki usaha sendiri adalah orang yang tidak puas dengan gaji yang pernah ditawarkan orang lain pada mereka, sehingga memutuskan menggaji diri sendiri.

Intinya, sampai pada tingkat tertentu, gaji itu memang unsur penting dalam pekerjaan seseorang. Bisa dibilang, gaji itu menggambarkan bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri, serta sebaliknya, bagaimana orang lain menilai dia. Kalau dirasa gaji yang ditawarkan orang lain tidak sesuai dengan nilai dirinya, ya berarti pekerjaan itu tak layak untuk diambil.

Masalahnya, bagaimana mengetahui bahwa penilaian terhadap diri itu cukup tepat sehingga harga yang diminta adalah layak?

Jawabannya, menurut saya, adalah sangat relatif dan tergantung dari dua hal. Dua hal itu adalah sejauh mana kita paham kemampuan kita, dan sejauh mana anda paham politik gaji.

Soal mengenal diri, tentu bukan hal yang sulit dipahami. Ini soal tahu diri, alias sejauh mana kita tahu seberapa berharga kemampuan kita. Ini soal kemampuan dan keahlian kita, tapi lebih penting lagi soal kualitas pribadi kita. Bisa jadi kemampuan kita biasa saja, tapi kualitas pribadi kita dinilai sangat penting bagi bisnis.

Contoh menarik soal ini sebenarnya mudah kita temui. Kadang kita menemukan orang yang sebenarnya nggak pintar-pintar amat, tapi bisa dipercaya, sehingga dihargai lebih tinggi oleh tempat kerjanya ketimbangan orang-orang yang lebih pintar. Ada juga orang yang tidak punya keahlian khusus, tapi sangat supel dan pintar beradaptasi, sehingga lebih ‘bernilai’ dibanding koleganya yang punya spesialisasi khusus. Bagi sebagian orang, terutama yang mengagungkan keahlian, ini terasa tak adil.

Tapi menurut saya ini wajar, bahkan sangat wajar.

Mengapa? Gampangnya begini, kemampuan yang kita miliki tidak otomatis membuat kualitas diri kita dinilai tinggi. Seringkali, kualitas personality di luar kemampuan lebih berpengaruh. Banyak kan yang bilang, keahlian bisa dipelajari, tapi karakter sulit diubah. Jadi mending pilih yang karakternya cocok, dan soal kemampuan itu gampang.

Inilah yang membuat politik gaji menjadi penting. Bagi pemilik usaha, tentu politiknya kurang lebih sama dimana-mana, yaitu memperoleh orang berkualitas dengan harga yang tidak mahal. Ini hanya bisa terjadi apa bila pemilik bisnis paham prinsip utama politik gaji bagi pengusaha. Apa itu?

Prinsip utama itu adalah bahwa harga terlalu murah tidak bagus, tapi harga mahal tidak otomatis berarti berkualitas!

Ya, banyak orang yang suka minta gaji tinggi, hanya karena mereka pintar ‘menjual diri’ melalui kesan yang membuat mereka seakan begitu hebat dan begitu istimewa. Padahal mereka sering kali lebih bagus bungkus daripada isi. Tak jarang pula yang berkualitas malah tidak bisa ‘menjual diri’. Nah, bagi pemilik bisnis, kalau ingin untung, pilihlah mereka yang sungguh berkualitas tapi tidak pandai ‘jual diri’. Ingat, sebagai pebisnis, anda bukan membeli kesan pertama, tapi kualitas yang berkelanjutan di masa depan kan🙂

Sebaliknya, ada pula prinsip utama politik gaji yang penting dipahami oleh orang yang sedang tawar menawar harga dengan calon bos. Prinsip utama itu adalah bahwa berharga tidaknya kita itu tergantung siapa yang ‘membeli’, sehingga kita harus tahu kepada ‘pembeli’ macam apa kita harus ‘menjual’.

Contoh ekstrimnya begini, kalau si X adalah orang yang pandai bermulut manis dan kemampuannya biasa saja, sebaiknya dia mencari calon bos yang suka mulut manis dan tidak terlalu cerewet soal kemampuan. Contoh lain misalnya si A yang menyukai mengerjakan proyek jangka panjang demi mendapat kualitas bagus, sebaiknya tidak nyemplung ke pekerjaan yang lebih mengutamakan bagaimana bikin sensasi melalui proyek-proyek jangka pendek.

Ingat, bagaimana kualitas diri kita akan dihargai tergantung sejauh mana diri kita paham politik gaji yang berlaku. Jadi, kalau anda jual kemampuan dan kualitas personality, ya carilah tempat kerja yang mencari itu. Dan, kalau anda ‘menjual’ kesan pertama supaya pemberi kerja silau dan menawarkan harga tinggi, carilah calon bos yang memang suka dengan kesan pertama🙂

Know yourself, pick the right game and……….enjoy the game!

4 responses to “Politik gaji

  1. Iya. Aku setuju banget James. Jadi inget tulisannya Machiavelli, bahwa hidup terdiri dari dua aspek, yakni virtu dan fortuna. Virtu adalah bentukan kita, yakni keutamaan diri. Sementara, fortuna adalah keberuntungan. Politik gaji pun bermain di dua area itu, yakni antara kemampuan kita menilai diri kita sendiri dan memilih tempat yang tepat untuk berkarya, serta gerak realitas yang selalu ambigu dan tak sesuai keinginan kita.

    • Betul Za, dan menariknya adalah bahwa ada banyak variasi di antara virtu dan fortuna. Ada orang yang sungguh punya virtu, tapi tersesat dalam ambiguitas sehingga fortunanya meleset. Ada pula yang tampaknya lebih banyak ‘dihidupi’ oleh fortuna dan bukan virtu-nya. Dalam kondisi yang sesungguhnya tidak mengikuti logika rasional inilah, terjadi ekonomi tenaga kerja yang direpresentasikan oleh gaji atau penghasilan.

      Sebenarnya bila kita mau memahami ini, maka kita akan bisa menerima bahwa kenyataanya, ekonomi dalam konteks penghasilan sesungguhnya bukan soal distribusi adil berdasar logika, tapi lebih merupakan dinamika antara upaya meritokrasi dalam interaksi antara virtu dan fortuna🙂

  2. Salary is a variable, it depends on the organization’s requirements. The concept is right man on the right place. If you think that salary is a politic, Yes it’s true. as an employee, I have same condition that you describe above, that I must “sell” my skill to the right boss. Lucky me… the organization’s requirements match to my specific skill, so I can work on the right environmental (even it’s not ideal for all time…. hahaha …. the world is not perfect right?). Let me tell you about one of my experience when I negotiate my salary with the boss. The boss ask me how many salary do you want for a month? I said that I want the standard salary for 3 months, and then we can renegotiate the expected salary after this trial period. I don’t want high salary but worst work environment, or low salary but good work environment. I told to the boss that this is win-win solution. You interest to try my skill and I want to get this job. Fair enough? The boss is smile and agree, and everything is OK until now. What’s your opinion Bro?

    ss

    • Yes, Glenn. That is the reality of salary politics. It is a game of perception, impression, and negotiation. As well as politics, the latest but the most important part is actual impact after the deal is closed. And, just like politics, sometimes we get what we want, sometimes all hell break loose

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s