Kompleksitas: Memahami keterbatasan diri

Saya suka lagu-lagu Michael Buble. Saya suka karena lagunya ringan, dan bikin saya merasa ringan dan rileks. Saya juga suka film-film yang sederhana, bahkan kadang agak ‘bodoh’ atau ‘kosong’ karena semata cuma hiburan ringan saja isinya. Tapi, saya suka lagu-lagu yang kompleks macam jazz, dan juga film-film yang ‘berat’.

Sebenarnya, saya tidak suka hal yang ruwet alias kompleks, karena pikiran saya mudah menjadi ruwet karena sering berurusan dengan hal-hal yang kompleks. Saya sangat menghargai kompleksitas, karena penting sekali memahaminya di dunia yang sangat kompleks ini. Tapi karena kompleksitas begitu berperan dalam pekerjaan saya, maka saya sudah terlalu ‘lelah’ untuk membawanya ke dalam kehidupan di luar pekerjaan.

Untuk itu, saya secara teratur menyelingi dengan hal-hal sederhana, tidak kompleks dan tidak berat.

Dalam bekerja pun, saya juga tidak membebani diri saya dengan sesuatu yang terlalu berat dalam artian konseptual. Saya tidak terlalu menikmati bermain hal-hal teoritik, karena saya ‘kenyang’ dengan dunia teori dan akademik dibanding kebanyakan orang.

Saya juga tidak suka mengevaluasi atau membuat penilaian alias judgment tentang orang lain. Latar belakang pendidikan dan pekerjaan di bidang psikologi membuat saya belajar bahwa judgment atas orang lain lebih sering merupakan sesuatu yang sesungguhnya sulit dipertanggungjawabkan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Loh, kalau sudah punya latar belakang pendidikan yang sesuai, plus gelar yang cukup ‘memadai’, maka kan seharusnya bisa?

Ya memang sebagian besar orang berpikir demikian. Tapi saya agak beda pendapat soal itu. Semakin saya belajar, makin saya paham bahwa memberikan judgment atas sesuatu tidaklah mudah. Apalagi ini memberikan judgment tentang manusia lain, oleh saya yang juga manusia. Ini juga hal yang sangat kompleks sebenarnya. Dan karena saya belajar agak dalam soal ini, saya makin tahu bahwa ini sama sekali bukan hal yang sederhana dan mudah.

Sudah banyak contoh dimana seseorang memberikan judgment ke orang lain karena mereka punya ‘kepakaran’ yang diyakini berhak memberikan. Tapi apa ya pasti benar? Ya tidak juga. Malah kalau mau jujur, banyak yang terlalu jauh memberikan judgment tanpa dasar yang cukup kuat, dan akhirnya berujung pada salah diagnosa dan salah intervensi.

Intinya, soal menilai orang berdasar keahlian ini juga sesuatu hal yang sangat kompleks, yang kalau saya bisa memilih, akan saya hindari.

Saya sadar, dan memahami, bahwa saya punya keterbatasan. Keterbatasan itu membuat saya tidak sok bermain dengan ide kompleks apabila itu tidak diperlukan.

Karena saya tidak ingin kompleksitas alias keruwetan itu bikin kacau hidup orang lain, dan tentunya hidup saya juga.

4 responses to “Kompleksitas: Memahami keterbatasan diri

  1. Kompleksitas pada dasarnya adalah sesuatu yang sifatnya sederhana, karena kompleksitas bisa disederhanakan, tetapi sesuatu yang sederhana bisa dibuat menjadi kompleks. Kunci permasalahan adalah pada how to manage. management process terdiri dari 3 area, yaitu people area, process area, dan tools area. dari 3 area ini, people area adalah yang paling susah di manage, karena manusia adalah driver organisasi yang sifat dan maunya juga macam-macam.dari experience saya, cara termudah dalam memanage SDM adalah mengarahkan SDM untuk bekerja sesuai SoP dengan acuan misi dan visi organisasi. Hal ini akan menyederhanakan kompleksitas di people area. Hal lain yang saya tekankan dalam people area adalah hakikat manusia itu sendiri. Untuk melakukan sesuatu, manusia memulainya dengan niatan yang baik dan menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna melalui take action yang tepat. “Yang telah menandai kebaikan, dan Yin telah kembali ke asalnya”. Bila SDM sudah ok, lebih sederhana untuk memanage process dan tools areanya kan?

    • Ya, tapi kompleksitas adalah sesuatu yang relatif. Ada yang merasa sesuatu itu kompleks dan senang berkutat dengan itu, dan ada yang merasa sesuatu itu kompleks sehingga kemudian menjauhinya. Padahal ketika kita ‘bertubrukan’ dengan kompleksitas, itu sebenarnya penanda tentang ‘batasan’ kita.
      Dari situlah, kita bisa dengan bijak mempertimbangkan apa yang sebaiknya dilakukan. Berhenti sejenak? Mundur? Atau memperlebar lingkup ‘batasan’ kita?🙂

      • Break the limit with collaboration and innovation. we’re not Superman. Superman still need JLA to perform collaboration to provide “services” to the world. Back to break the limit, PDCA cycle is one of best practices to do it. For me, noway to say retreat! I believe that I can solve every problems, complexities, etc, with collaboration and innovative solution. If I “collide” with complexities, I choose to share and discuss it with right people, and provide the innovative solution with them. So far, 99.99% works! so, Don’t be trapped with complexities, break your limit!

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s