Tegas, bukan penindas

Leadership itu berkualitas atau tidak, cukup terlihat dari keberanian melakukan hal yang sulit dalam memimpin: Menggunakan kekuasaan yang dimiliki atas orang lain. Bahkan sebenarnya leadership itu soal menggunakan kekuasaan.

Memang tak perlu dipungkiri bahwa kebanyakan leadership atasan yang mudah kita temui adalah leadership yang lebih banyak mengeksploitasi kekuasaan pada siapapun yang bisa dikuasai. Terkadang dengan cara yang kasar dan kasat mata, dan kadang melalui cara yang lebih persuasif. Itu soal metode saja, tapi isinya sama: Makin bisa dikuasai ya makin dioptimalkan untuk diarahkan sesuai keinginan sang atasan.

Ya, itulah kenyataannya. Tidak perlulah kita menipu diri, dan sebaiknya jangan. Karena menipu diri dengan tidak mengakui kenyataan ini membuat kita makin jauh dari perbaikan. Ya kan?

Tak perlu juga kita pesimis. Karena bukan berarti leadership yang eksploitatif ini ada tanpa alasan. Harus kita akui, model leadership ini efektif. Kan memang mengoptimalkan kekuasaan sebagai atasan untuk mencapai kepentingan itu alamiah. Tapi hal lain yang juga alamiah adalah manusia lebih suka cara yang mudah daripada cara sulit.

Maka dari itu, mengoptimalkan eksploitasi pada orang-orang yang sudah sepenuh hati mengikuti adalah jalan paling mudah bagi sang atasan/leader. Terutama ketika atasannya malas repot, dan mengutamakan tujuan lebih dari apapun. Kan itu lebih gampang daripada mencoba terus menggerakan mereka yang belum sepenuhnya bergerak searah dengan kita.

Jadi prinsipnya sebenarnya sederhana, yaitu kebanyakan atasan adalah ahli mencari dan memanfaatkan kemudahan sehingga dia bisa mencapai arah yang dia tuju dengan cepat dan mantap.

Akan tetapi, hal alamiah ini pulalah yang membuat banyak orang tidak puas dengan leadership atasan mereka. Inilah mengapa diskusi dan beragam pengembangan konsep leadership dalam manajemen selalu ada terus, bagai diskusi abadi yang tak kunjung berkesudahan. Ini karena dalam banyak contoh pula, kita melihat leadership eksploitatif hanya efektif dalam jangka pendek, tapi tidak baik dalam jangka panjang dan malah sering membuat masalah baru bagi bisnis.

Kenapa ya kok begitu?

Sebenarnya sederhana saja. Ini ibarat peternak atau petani.

Peternak yang menjual susu sapi ya harus merawat sapi perahnya dengan baik. Bukan memerahnya sampai mati. Sebaliknya, si peternak justru akan dengan serius membereskan semua gangguan kesehatan dan lingkungan yang menggangu sapinya. Sebab, ketika sapinya mati, mati pula bisnisnya. Petani yang pintar tentu merawat lahannya, bukan mengeksploitasi lahan tersebut tanpa memberi kesempatan lahan itu untuk kembali subur. Sebaliknya, semua perusak dan penyakit harus ditangkal dengan serius. Rusaknya lahan adalah kematian bagi pertanian itu.

Atasan pun menjadi berhasil karena pengikutnya yang percaya pada visi dan mengikutinya. Ketika atasan tersebut megeksplotasi pengikut yang sudah bekerja keras untuknya, dan tidak berani mengatasi pengikut yang mengganjal dan membebani dengan hasil kerja yang payah, dia adalah atasan eksploitatif yang segera akan gagal.

Karena atasan tersebut adalah petani yang gagal merawat lahannya, dan gagal menangkal perusak dan penyakit lahan tempat dia hidup.

Sederhana kan?

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s