Memiliki diri sendiri….

The five Pandava brothers of the Mahabharata i...

Image via Wikipedia

Sejak pulang dari AS dua bulan lalu, ada beberapa hal yang kebetulan punya kesamaan, dan kesamaan itu yang menarik. Ini yang saya maksud dengan ‘beberapa hal’ tersebut:

1. Banyak orang menanyakan tentang betapa enaknya hidup di Amerika dibandingkan di Indonesia. Ketika saya jawab ada yang di AS lebih enak, tapi juga banyak yang lebih enak di tanah air. Kebanyakan mereka tidak percaya… : )

2. Memuncaknya masalah pencurian kekayaan Indonesia oleh Malaysia, dipicu dengan pencurian tari Bali dan wayang kulit Jawa yang jelas harta budaya (cultural heritage) Indonesia. Tiba-tiba, setelah cukup lama tidak ‘sayang’ budaya sendiri, kita semua jadi ‘sadar’ budaya.

3. Gencarnya upaya Pak Hengky Setiawan dan kawan-kawan yang lain di Surabaya Tourism Promotion Board untuk mengkampanyekan identitas Surabaya yang punya keunggulan dan kekhasan sebagai sebuah kota yang istimewa.

Tiga hal di atas sepertinya memiliki pola yang sama, yaitu kecenderungan kita untuk ‘menjadi tidak tahu’ tentang apa yang kita punyai, dan hanya silau dengan apa yang dipunyai orang lain.

Perbandingan Indonesia dan Amerika misalnya. Karena begitu kuatnya dominasi ekonomi, politik, akademik, pemikiran, media dan gaya hidup yang American-oriented; banyak orang melihat Amerika bagai ‘surga’ di bumi dan semua ingin ke sana. Meskipun saya tidak menampik bahwa ada orang-orang yang melihat Amerika sebagai neraka jahanam yang harus dimusnahkan hehe……

Kita mungkin tidak begitu peduli terhadap cultural heritage kita ketika belum ada masalah ‘perampokan’ identitas Indonesia. Saya masih ingat bagaimana beberapa tahun lalu beberapa unsur budaya terancam oleh perancangan UU Anti Pornografi. Saya masih ingat betapa perjuangan mempertahankan situs-situs bersejarah di perkotaan harus berhadapan dengan trend meruntuhkan bangunan-bangunan tua dan menggantinya dengan ruko atau mal.

Memang benar bahwa rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, tapi rumput sendiri yang warnanya merah bisa jadi jauh lebih bagus. Hal yang tadinya kita anggap bukan apa-apa, atau bahkan sesuatu yang harus disembunyikan, bisa jadi sejatinya adalah sesuatu yang sangat berharga. Kata ekonom, ini soal comparative advantage. Masalahnya adalah, kita terkadang (atau jangan-jangan sering) tidak bisa melihat comparative advantage kita sendiri.

Berapa banyak yang mau melihat kemiskinan di Amerika? Berapa banyak yang mengikuti berita Newsweek tentang pemilihan Asia’s Best Young Enterpreneurs, di mana beberapa anak muda Indonesia masuk dalam list dengan kiprah mereka? Berapa banyak yang tahu bahwa pemakaman Kembang Kuning Surabaya yang terkenal jorok itu sebenarnya bersejarah dan punya sisi yang indah? Banyak hal yang tak begitu istimewa dari orang lain kita nilai berlebihan, sementara yang kita miliki kita nilai rendah dan pandang sebelah mata.

Seberapa tahu kita tentang milik kita sendiri? Seberapa bernilaikah? Apabila kita tidak paham milik kita sendiri, apakah mereka masih milik kita?


Share/Bookmark

3 responses to “Memiliki diri sendiri….

  1. Satu2nya comparative advantage yang sifatnya adalah sejatinya harus ada adalah “bernafas”.
    Sementara comparative advantage yang kita dapatkan di kemudian hari itu adalah hasil kampanye dari para leluhur kita, orang tua kita, dan org2 di sekitar kita, atau bahkan mungkin situasi yang ada membuat kita harus mau tidak mau menjadikan sesuatu itu adalah comparative advantage.
    Amerika bisa memiliki image semacam itu karena merekalah sejatinya yang mengkampanyekan dengan berbagai macam “advertising”nya. Dengan tegas dan berulang-ulang serta menarik mereka menyampaikan bahwa apa yang mereka miliki memiliki sifat yang sama dengan berbagai macam afirmasi yang pleasure for us, sehingga para pendengarnya selalu merasa bahwa mengikuti Amerika itu adalah ngtrend, update, dan lain sebagainya.
    Indonesia adalah bangsa yang minder.
    Yang pertama harus dibangkitkan adalah rasa percaya diri bangsa yang kuat. Seperti yang pernah terjadi dengan RRC saat mereka sadar bahwa mereka memiliki peradaban etnis yang lebih tua. Seketika itu mereka mulai merangkak naik hingga seperti saat ini menjadi sebuah raksasa di segala bidang.

    • Agree! Malcolm Gladwell dalam bukunya, Outliers, menekankan pentinya legacy sebagai faktor pencipta kesuksesan. Kadang orang suka melirik rumput tetangga yang lebih hijau, dan menghina keunggulan yang sudah dimiliki sejak lama sebagai legacy.

      Tapi di situ juga paradoxnya. Kalau cuma melihat legacy yang dipunyai tanpa mau belajar dari orang lain, itu namanya tidak mau berubah dan tidak inovatif. Quite tricky, isn’t it?

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s