Stop that God-damned whining!

night view of Jakarta, Indonesia

Image via Wikipedia

Stop that God-damned whining!” Itu adalah sebuah kalimat dalam sebuah film Hollywood yang saya tonton beberapa hari yang lalu. Dalam adegan itu, seorang perempuan paruh baya memarahi anak perempuannya. Anak perempuannya yang baru saja menjadi seorang ibu, menangis terus dan mengumpati bayinya sendiri karena capek dan stres merawat bayi pertamanya. Perempuan yang baru saja menjadi nenek itu membentak dan berkata: “Do you think you are the first women ever to experience this?!” Dia jengkel karena anak perempuannya tidak bersikap sebagai ibu. Sang anak perempuan yang tadinya ngotot memiliki bayi ini, ternyata menemukan bahwa pengalaman bayi pertamanya tidak seindah bayangannya, dan tidak mampu menahan diri untuk tidak mengeluh.

Ini mengingatkan saya bahwa betapa banyak kejadian dalam hidup dimana kita justru mengeluh atas sesuatu yang kita harapkan.

Saya kemudian berhitung ala kadarnya, dan menemukan bahwa setiap minggu, saya setidaknya mendengar dua oran mengeluh tentang sesuatu yang sewajarnya ia lakukan. Klien yang mengeluh meskipun ada progress di bisnis yang ia pimpin. Guru yang mengeluh karena muridnya yang pintar tapi suka bertanya. Mahasiswa yang mengeluh karena harus belajar.

Ada juga yang mengeluh karena bosan dalam hidupnya. ada yang mengeluh karena kemana-mana selalu dimarahi. Ada yang mengeluh karena keinginannya tidak terkabul. Ada yang mengeluh karena tidak menemukan rekan kerja yang harmonis dan ideal. Ada yang mengeluh karena Indonesia tidak kunjung bersih dari korupsi. Ada yang mengeluh kenapa masa depan tidak pasti. Ada yang mengeluh karena dirinya menjadi tua.

Saya ingin bertanya: “Di manakah dalam hidup ini yang sungguh ideal dan tidak ada yang perlu dikeluhkan?” Hidup itu bergerak maju. Sebagai konsekuensi bergerak maju, maka kita bergerak dari masa lalu yang pasti (karena sudah terjadi) menuju ke masa depan yang tak pasti. Namanya masa depan yang tak pasti, maka terbentang banyak sekali kemungkinan. Intinya, perjalanan hidup itu memang penuh  kemungkinan…..dan yang namanya kemungkinan, ya bisa baik, bisa buruk, dan bisa nggak jelas baik atau buruk🙂

Adalah baik ketika kita mengharap dan berusaha mewujudkan yang baik, semisal keinginan memiliki bayi pada si ibu muda dalam film itu. Namun adalah cukup adil apabila kemungkinan yang baik mungkin saja dibarengi dengan kemungkinan buruk. Dan dalam kasus film ini, kesibukkan dan stres saat merawat bayi pertama yang memancing kejengkelan pada si bayi (baby blues). Sama juga dengan bekerja, mau gaji dan segala konsekuensi karirnya; ya juga harus siap dengan stres kerja, rekan kerja yang menjengkelkan, dimarahi orang (bos atau konsumen), dan bahkan pulang malam dan ribut dengan keluarga karenanya. Mahasiswa juga begitu, ingin ketrampilan yang bikin sukses, tentu saja  harus mau menerima bahwa praktek lapangan itu penuh dengan tantangan dan ujian mental yang tak terduga.

Hidup itu tidak melulu yang tidak enak saja kok. In life, no pain no gain. Jadinya mengeluh itu bisa diterima, karena itu normal dan manusiawi. Tapi mengeluh tanpa melihat bahwa ada kemungkinan-kemungkinan baik yang bisa dieksplorasi agar bisa merubah keluhan menjadi keberhasilan dan kebahagiaan, itu namanya tidak tahu diuntung. Justru keluhan-keluhan itu memberi tahu kita akan hal-hal apa yang harus kita perbaiki. Keluhan-keluhan itu adalah sebuah pemberitahuan bahwa kita mulai belajar, karen akita mengetahui sesuatu yang seharusnya kita punya atau bisa lakukan, tapi kita ternyata belum bisa.

Keluhan-keluhan itu bukan sesuatu yang jelek. Itu menunjukkan bahwa kita punya komitmen untuk hidup yang lebih lancar dan bahagia. Itu sesuatu yang baik, dan memang tujuan hidup adalah membuat kita bahagia. Namun kita suka lupa, bahwa hidup yang lancar dan bahagia itu tidak bisa jatuh dari langit begitu saja. Keberhasilan dan kesuksesan tidak begitu saja muncul seperti jin dari lampu Alladin. Untuk sukses dan bahagia, kita harus belajar dan berjuang untuk memperolehnya.

Bagian belajar dan berjuang ini yang biasanya bikin kita mengeluh terus-terusan dan tergoda untuk bosan. Itu semua muncul dari kesadaran kita bahwa komitmen kita untuk bahagia sering bertubrukan dengan komitmen kita untuk belajar. Kita mau belajar dari kesalahan kita, dan itu artinya kita harus mau menerima bahwa kesuksesan meminta kita untuk menunggu. Tapi komitmen kita yang menggebu untuk sukses dan bahagia, ternyata tidak cocok/compatible dengan realitas yang memaksa kita menunggu dan belajar dulu bagaimana sebenarnya cara untuk sukses dan bahagia itu. Ini sesuatu yang mungkin makin sering kita temui di jaman dimana semua seakan mudah diperoleh dengan cara instant ini.

Menurut saya, semua perlu proses, dan di jaman ini, kita malah dituntut untuk belajar lebih cepat agar bisa melalui proses dengan cepat. Ya betul, proses cepat itu bukan sulap, tapi proses yang sangat cepat. Coba lihat komputer yang mengolah data kita dengan sangat cepat. apakah itu sulap? Bukan! Proses yang terasa cepat itu adalah gabungan dan rangkaian arus data sistemik yang sangat kompleks tapi berlangsung dengan sangat cepat. Proses cepat tetaplah sebuah proses.

Dan melalui kegagalan dan keluhan itu, kita mendapat energi. Sayangnya, kita sering menggunakan energi itu untuk marah dan ngomel. Atau, kita gunakan energi itu untuk melakukan hal-hal yang sama yang sebenarnya kita tahu tidak akan membawa perubahan, dan ujungnya kita jengkel dan jenuh karena gagal terus (learned-helplessness). Nah kalau sudah begini, kita cenderung menyalahkan segala hal di luar diri kita, tapi enggan mengakui kalau kita sendirilah yang telah menyia-nyiakan energi kita untuk hal-hal yang tidak membuat kita lebih baik.

Daripada membuang energi untuk marah dan jengkel, kita bisa gunakan energi itu untuk belajar mencapai hal yang kita inginkan. Semakin kita terbiasa merasakan dan menghadapi keluhan dan kegagalan, semakian kita merasakan betapa semua bisa dilalui. Semakin terlatih kita menghadapi keputusasaan, semakin tidak ada habisnya nyali kita. Sebaliknya, semakin sering kita “berlatih untuk menyerah’ semakin terbiasa kita melihat diri kita orang yang memang nggak bisa berhasil dan bernasib buruk.

Dan…….ingat baik-baik, sering kali kita, karena begitu pandainya😉 , selalu menemukan hipotesa dan reka skenario yang luar biasa untuk menunjukkan bahwa nasib buruk kita karena orang lain, bukan karena kita. Ingat sangat banyak orang yang pandai membolak-balik kata dan manyatakan bahwa bukan mereka yang menyerah, tapi lingkungan tidak mendukung. Memang, sering kali lingkungan tidak mendukung, tapi itu sama sekali tidak berarti bahwa kita tidak bisa lakukan apa-apa🙂

Menghadapi kegagalan dan menaklukkan keluhan kita sendiri adalah sumber keberhasilan. Bahkan, kalau mau jujur, keluhan dan kegagalan lah yang membuat kita mampu merasakan kebahagiaan. Kalau gampang mendapatakannya, kenikmatannya kurang berasa🙂

Daripada menyumpahi kegelapan, lebih baik menyalakan lampu. Ketika itu dilakukan, maka malam yang gelap gulita pun menjadi indah, dan kita akan bersyukur karena kita bisa menemukan cahaya. Empower yourself, then you’ll be powerful! Victimized yourself, and you”ll find yourself as victim :-)  Di situlah sesungguhnya arti belajar dalam hidup.

 

Posted with WordPress for BlackBerry.

16 responses to “Stop that God-damned whining!

  1. Yo! You’re talking about self-attribution. Dan memang benar bagaimana kita dgn mudahnya melemparkan keluhan dan tuduhan ke Tuhan, orang lain dan situasi. Kita lupa bhw ada satu pihak yg blm ditunjuk: diri sendiri. Pdhl -as u said- dgn menyadari bhw diri kita juga punya bobot kesalahan, kita akan bs bljr sst.

    • You nailed it right on the head, Sis!
      Aku cuma mencoba menceritakan self attribution dalam bahasa yang banyak orang bisa sekiranya paham maksudku hehehehe…..kan nggak semua sekolah psikologi hehehehehe………

  2. wew,.dari judul nya ga nyangka klo isinya ttg atribusi eksternal yang nyalahin lingkungan,.^^

    iy si sering kali dalam banyak kasus orang hanya berkeluh kesah tentang sekeliling. Tapi gimana kalau atribusinya internal? Bukannya dia malah sudah melihat bahwa itu adalah suatu kesalahan sendiri y,.

  3. Dear James,

    dulu aku juga sering “menyalahkan” sesuatu, tetapi semua itu akan membentuk “salah-menyalahkan” yang lainnya. menyalahkan satu object akan menyalahkan seribu object lainnya.

    Sekarang, aku berpikir yang lebih relevan, yaitu solusi. manusia punya kecenderungan menyalahkan sesuatu seakan tidak ada solusi. karena itu aku berpikir solusi dari pada menyalahkan, karena aku percaya tiap masalah pasti punya solusi. The keys are:

    1. Berhenti menyalahkan. menyalahkan cuma tambah masalah tanpa solusi
    2. Learn from mistakes with Positive thinking – mengambil hikmah suatu kejadian & analisis kemungkinan solusinya
    3. Pro-active in action for every possibilities.
    4. Diskusi / sharing dengan orang yang dipercaya agar mendapatkan solusi terbaik.

    Saya sudahcoba cara2 di atas dan syukurlah…. berhasil

    • Fully agreed, Glenn! Kadang manusia suka membikin sulit dirinya sendiri, yang akhirnya malah bikin hidup kacau hehehehe……Apa yang kita bicarakan disini bukan hal yang canggih dan wah, tapi hal yang simpel. Tapi walau simpel, sulit dilakukan🙂

      And thanks for sharing! Pasti bermanfaat bagi siapapun yang mau mencoba.

      • huahaha jujur pak, awalnya saya ndak sadar lo,. hehe tp setelah baca komen bapak jadi mikir2 sendiri,. ya belajar pelan2 untuk mengurangi nya la,.
        saya juga sangat setuju sama pendapat glen🙂
        mencari objek saja akan membuat orang seperti memakai kacamata kuda sehingga tidak dapat memandang jalan solusi di depan.
        tapi harus hati-hati dengan poin ke 4, yang sharing dengan orang lain, karena solusi dari orang lain kadang berbeda dengan value yang kita punya. Jadi diskusi dengan orang boleh, tapi itu harus dicocokan dulu dengan kondisi kita, kalau cocok baru diterapkan, kalau tidak y jadi second opinion saja,.

      • Mencari kejernihan dalam kerancuan (revealing clarity in obscurity) memang sesuatu yang butuh practice, Sian. Ini soal menjadi jeli dalam dunia yang penuh ilusi hehehe……But if you choose to practice it, it will be paid off.

      • haha ilusi, kata2 yg menjerumuskan otak itu,.
        Setuju si kalau itu soal praktek,. kalau hanya di kelas duduk manis mendengar perkataan dosen saja ya ga bakal tau bagaimana dunia, taunya ya harus nyemplung dan “basah” dulu,. walau untuk menjadi “basah” belum tentu enak.

        paid off atau tidak juga bergantung pada kemauan individu nya sendiri. Kalau individu itu masih terpatok pada pikirannya dan beraliran ekstrim keras ya dia tidak akan menyadari letak pembelajarannya to pak? karena kalau saya lihat sedikit sekali yang bisa dan mau berefleksi atas dirinya.

        wah2 soal diskusi bpk yg dibawah klihatannya saya tau maksutnya,.. hahaha dimarahi di mana saja,. rasanya pernah membaca dan tau penulisnya,…
        kalau saya pikir, walaupun dia sudah memikirkan bagaimana langkah selanjutnya biar tidak dimarahi terus, tapi belum tentu dia berani untuk berubah pak.

        Dan untuk perubahan itu sendiri bukan masalah atribusi saja, tapi harus secara keseluruhan juga harus dirubah, kalau tidak ya ga bisa maksimal

      • waw,. saya harus berhenti diskusi dulu ini…. nanti paper PO saya terpengaruh ini,. hahaha komen bapak yg terakhir mirip dengan tulisan saya buat danamon n ide PO,. hahaha bisa sesat saya ntar kalo melanjutkan ini,.^^”
        lanjut mari saya sudah fix ngumpulin paper ae pak.
        soalnya saya setuju sama kata2 itu, tapi masi blom berani untuk melangkah,.🙂

  4. Ide bahwa manusia adalah tuan atas diri dan sejarah adalah ide khas pencerahan. Manusia itu mahluk bebas dan otonom dalam memilih jalan hidupnya. Namun bukankah ide semacam ini sudah dihancurkan? Bukankah perang dunia kedua, kamp konsentrasi, perang dingin, perang bom atom, penyakit2 mematikan tanpa penyembuh, dan kini perubahan iklim telah membuat kita sadar, bahwa kita bukanlah tuan atas diri kita sendiri? Bukankah ide ini pada akhirnya menjadi optimisme naif khas MLM untuk menjual semakin banyak barang, tanpa sadar bahwa mereka hanyalah alat-alat kapitalisme dalam menyebarkan nilai-nilainya yang mengikis solidaritas komunitas sosial?

    Ada sesuatu kekuatan besar di luar sana yang membuat kita sadar, betapa lemahnya kita, apapun yang kita perjuangkan, apapun yang kita harapkan. Seperit yang pernah dikatakan Camus, hidup ini absurd. Terima fakta itu. Jalani hidup ini dengan kesadaran akan absurditas tersebut.

    Just a thought!

    • Hahahahaha….kali ini saya harus tidak setuju denganmu🙂 Dan ini menjadi diskusi yang mempertajam posting ini hehehehe……

      Adalah benar bahwa selalu ada kondisi sistemik yang beyond human, karena manusia adalah sebuah bagian dari makro sistem (cuman manusia suka sok pintar menilai dirinya yang sebersit debu di alam semesta ini secara berlebihan hehehe).

      Walau demikian, itu sama sekali bukan yang saya bicarakan disini. Yang saya angkat disini sebenarnya bagaimana kita menyikapi yang terjadi dalam hidup. Terlepas dari penyebab masalah adalah sesuatu dalam diri kita atau sesuatu di luar diri kita, respon kita atas masalah itu adalah selalu dari dalam diri kita. Realitas sendiri tak bermakna apa-apa, it’s only an ongoing happening. Tapi masing-masing orang memaknainya berbeda, dan merespon berbeda.

      Saya juga tidak menyarankan positive thinking ala MLM, oleh karena itu judulnya ‘Stop that God-damn whining!’. Intinya, saya mau bilang, ‘jangan manja dan mengeluh terus’. Beberapa waktu yang lalu ada seseorang yang mengeluh karena dimana-mana dimarahi. Respon saya, dimanapun dalam situasi apapun, kita bisa dimarahi siapapun. Bisa jadi bukan kita yang menyebabkan masalah, tapi tetap saja ada sesuatu yang membuat kita layak jadi pelampiasan kemarahan🙂. Nah apakah kita akan membuat kita jadi orang terus, dan berkutat di situ……. atau berefleksi dan moving on, itu yang jelas tergantung kita, bukan siapa-siapa atau apa di luar sana. Ini adalah positive psychology, bukan positive thinking. Ini adalah soal self-resilience, bukan soal natural constraint. Yang pertama adalah cara kita merespon yang kedua🙂

      Dikotomi lemah dan kuat, besar dan kecil, luar dan dalam serta yang sejenis mudah menyesatkan kita pada pandangan yang menyederhanakan relasi paradox dalam realitas ini. Sebenarnya hidup kan tidak hanya melulu dua sisi. Dalam simbol Yin Yang pun, ada Yin dalam Yang dan sebaliknya. Saya pikir, absurditas Camus tidak bisa dimaknai sebagai berayun sebagai yang lemah semata di hadapan semesta yang maha kuat, karena konstruksi absurditas sebenarnya rekacipta benak kita, bukan semesta itu sendiri🙂

      • Saya mengerti argumenmu terutama soal bagaimana menyingkapi segala sesuatu di dalam hidup. Pertanyaan kecilnya adalah bukankah dalam soal menyingkapi pun kita tidak bisa sepenuhnya bebas dan optimis? Bukankah cara kita menanggapi suatu peristiwa pun sudah berada dalam konteks hegemoni ataupun paradigma tertentu yang telah ada sebelumnya, walaupun tak terkatakan? Di dalam psikoanalisis klasik telah ditegaskan, bahwa ego hanya merupakan salah satu unsur di dalam diri manusia. Begitu pula kesadaran hanya merupakan bagian kecil dari ketidaksadaran yang ada di dalam diri. Di dalam teori strukturasi juga ditegaskan dengan jelas, bahwa pengaruh struktur begitu kuat pada kesadaran individu, walaupun struktur itu sendiri adalah hasil bentukan dari kesadaran. Intinya cara kita merespons suatu peristiwa pun tidak sepenuhnya berada di tangan kita. Sikap melankoli dan kecenderungan tertentu merupakan bukti, bahwa pikiran kita tidak sepenuhnya berada di tangan kita.

        Saya akan berdiskusi JUmat sore ini dengan anak2 psikologi 2010 tentang tema ini. Tertarik bergabung?

      • Saya pikir menjadi resilient sangatlah berbeda dengan positive thinking optimisme yang membuta.

        Cara pandang strukturalisme memang melihat struktur mental manusia menjadi bagian-bagian, dimana ‘gunung es’ kecenderungan bawah sadar, emosi dan segala warisan herediter menjadi sesuatu yang tak terkendali. Ini menunjukkan kesan bahwa manusia tak kuasa akan dirinya sama sekali.

        Tapi justru kesan dan persepsi demikian menunjukkan ketidakpahaman secara utuh konsep strukturalism, dan itulah yang memancing berkembanganya behavioristik, humanistik, dan integral transedental.

        Freud, yang adalah tokoh besar pandangan strukturalism, pun menekankan bahwa manusia punya hakikat uber-ich yang menunjukkan kualitas melampaui diri sebagai manusia. Makna yang sering disempitkan sebagai aspek moralitas/superego ini sebenarnya menunjukkan kodrat bahwa manusia bisa merekacipta dirinya menjadi arah yang lebih baik berdasar kesadaran akan kecenderungan2 dirinya (id) melalui relasinya dengan realitas (ego). Ini soal fungsi mental, tidak hanya pikiran. Jadi dinamika antara ketiganya yang membangun gerak maju, atau gerak mundur. Ini yang dieksplor oleh Graves, Beck dan Wilber dalam psikologi integral.

        Itulah kenapa pandangan appreciative inquiry menyatakan bahwa impian (dream) ke depan diwujudkan dengan melakukan discovery (penemuan diri). Discovery di sini adalah tidak hanya melulu yang negatif, tapi juga yang positif. Seringkali orang tidak berhasil melakukan discovery yang utuh atas dirinya, karena terlalu negativist dan apatis, atau terlalu optimist dan egosentrist. Keduanya hanyalah dua ekstrim yang menghalangi kesadaran akan kualitas uber-ich yang sejati.

        saya tentu sangat tertarik, karena ada banyak framing yang menyesatkan tentang pandangan-pandangan psikologi, yang dimulai oleh orang psikologi, lalu diterukan oleh orang-orang dari ilmu lain : ) Sayangnya, Jumat aku harus pimpin rapat audit.
        Tapi siang ini aku akan masuk di kelas filsafat, dan ini jelas akan menjadi bagian diskusi.

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s