Sedikit bicara, giat bekerja… catatan untuk Sumpah Pemuda!

Setiap saya ke Eropa, di perjalanan melalui Jerman menuju Denmark, saya selalu bertemu dengan kincir angin seperti ini. Tinggi dan kokoh, dengan putaran baling-baling yang pelan tapi konsisten, tanpa ada bunyi apapun. Walau demikian, energi yang dihasilkan sangat signifikan, tanpa merusak lingkungan. Memang kipas-kipas ini tidak bikin heboh dengan sistim kerja yang canggih nan sensasional. Mereka hanya kipas raksasa yang berputar pelan, tapi diam-diam menghasilkan manfaat luar biasa. Kipas-kipas besar ini sedikit ‘bicara’, namun secara konsisten membawa hasil nyata.

Ini membuat saya berpikir tentang perubahan masyarakat Indonesia saat ini.

Pelantikan Joko Widodo, alias Jokowi, beserta Basuki T. Purnama, alias Ahok, sebagai gubernur dan wakil Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu disambut meriah oleh banyak kalangan serta media massa. Ini tampaknya memberi nafas baru bagi negeri ini. masyarakat bosan dengan generasi pemimpin yang itu-itu saja, yang juga dengan cara memimpin yang itu-itu saja.

Walaupun demikian, saya melihat ini lebih daripada sekedar perbaikan demokrasi dan politik kita. Di mata saya, ini adalah pertanda bagus bagi negeri ini, karena masyarakat Indonesia sedang memperbarui dirinya secara utuh. Bukan cuma berganti wajah melalui suksesi kepemimpinan, tapi juga datangnya era baru dengan cara hidup yang baru. Sebuah era yang sedikit bicara dan giat bekerja.

Jokowi dan Ahok bukan sekedar lebih mudah usianya. Mereka terpilih karena mereka berdua kepala daerah yang memang banyak bekerja dan sedikit bicara. Ada orang yang menyamakan Jokowi dengan Obama, namun menurut saya ini tidak tepat. Obama waktu terpilih adalah tokoh masyarakat yang sangat dikagumi perannya dalam community development. Tapi dia bukan seorang eksekutif yang punya portofolio dalam mengelola pemerintahan. Jokowi dan Ahok sebaliknya, keduanya disukai karena memang portofolionya sebagai kepala daerah adalah luar biasa.

Mereka kebetulan mewakili sebuah kesadaran dan semangat baru masyarakat kita: Sedikit bicara, giat bekerja.

Ada tokoh-tokoh lain yang juga membawa semangat yang sama. Dahlan Iskan tentu salah satu tokoh yang identik dengan semangat kerja. Gebrakannya yang dengan tajam menyindir kebiasaan klasik masyarakat kita yang lebih banyak bicara daripada bekerja. Jujur saja, kebanyakan masyarakat Indonesia cenderung menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga  untuk memberi nasehat, curhat, bermain kata, berdebat, provokasi dan bergosip; ketimbang sungguh bekerja keras menuju kemajuan nyata. Dahlan Iskan memang tidak muda usianya, tapi semangatnya sih jauh lebih muda daripada kebanyakan orang.

Tokoh lain misalnya Agnes Monica. Selebriti satu ini terkenal dengan dua hal: Semangat kerja kerasnya serta keteguhan prinsipnya yang ‘anjing menggonggong kafilah tetap berlalu’. Ya, Agnes bagi saya memukau karena asanya yang luar biasa untuk mewujudkan visi pribadinya dalam berkarir. Dia seorang yang all-out dan luar biasa profesional. Saya masih ingat orang-orang banyak yang meragukan dirinya dulu, termasuk saya sendiri. Bahkan ada sebagian orang yang bahkan mencomooh usaha kerasnya. Tapi kini, sekian tahun berselang, dia membuktikan bahwa usaha kerasnya tidak sia-sia. Dia kini menjadi salah satu entertainer yang kekhasannya tak mudah tergantikan di jagat hiburan negeri ini.

Ada pula banyak tokoh berjiwa muda di pemerintahan yang membawa warna kerja keras profesional yang luar biasa, dan sedikit bicara. Lihat Menteri Perdagangan Gita Wirjawan yang giat sekali me-marketing-kan negeri ini di dunia internasional. Ada juga Dino Patti Djalal yang adalah Duta Besar RI untuk Amerika Serikat yang giat menggalakkan gerakan diaspora Indonesia untuk mendukung pembangunan ibu pertiwi. Banyak pula kepala derah selain Jokowi – Ahok yang sedikit bicara banyak bekerja.

Dan, tanpa saya bisa rinci satu per satu disini, masih banyak tokoh-tokoh berjiwa muda di masyarakat kita saat ini yang giat bekerja menghasilkan karya nyata, bukan cuma banyak bicara. Saya percaya, orang-orang seperti mereka akan makin banyak dan menggeser para pemuda yang lebih banyak kata daripada hasil nyata!

Inilah makna Sumpah Pemuda kali ini bagi saya. Selama bertahun-tahun, Sumpah Pemuda menurut saya adalah gombalan tak bermakna. Kenapa? Karena yang namanya pemuda itu hanya kelihatan sebagai anak-anak muda yang upacara, atau membentuk organisasi pemuda yang tak jelas maksudnya. Lebih parah, organisasi pemuda kerap identik dengan premanisme. Selain itu, kebanyak tokoh pemuda yang kita lihat di media cuma ada dua macam: orang-orang yang omongannya muluk-muluk tapi tindakan riil-nya tidak jelas, atau malah have fun go mad tanpa semangat kebangsaan yang jelas.

Tapi kali ini, semangat Sumpah Pemuda 1928 yang sejatinya adalah persatuan dalam pluralisme, yang mendasari kesepakatan untuk bekerja keras memajukan masyarakat, tampak jelas. Sumpah Pemuda bukan soal sekumpulan orang berusia muda berikrar melakukan kegiatan sosial. Kalau itu saja sih cuma proforma belaka, yang biasanya bagus untuk acara marketing CSR dan hiasa di media massa tanp dampak nyata bagi berubahanya cara hidup masyarakat. Dan, saya sudah kenyang melihat itu. Negeri dan bangsa ini sudah kekenyangan dan ingin muntah dengan wajah-wajah yang melulu bermain wacana!

Sekarang, semangat muda yang mendorong kerja keras dan sedikit bicara untuk kembali. Dia tidak hanya kembali dalam wacana, tapi lebih berupa bermunculannya pemimpin-pemimpin yang menghidupi semangat itu dalam keseharian mereka. Itu menunjukkan bahwa masyarakat kita pun sudah mulai berubah dan menemukan kembali semangat mudanya, karena tokoh-tokoh itu tak akan bisa muncul bila masyarakat kita tak memiliki semangat yang sama. Masyarakat kita sekarang ingin yang tidak berisik, namun hasilnya nyata.

Bangkitlah semangat muda di negeri ini! Marilah sambut karakter Indonesia baru: Sedikit bicara, giat bekerja!

Selamat datang kembali, Sumpah Pemuda!

5 responses to “Sedikit bicara, giat bekerja… catatan untuk Sumpah Pemuda!

  1. Pada dasarnya, saya setuju James. Namun, di dalam bekerja, bicara pun perlu. Kita tidak boleh jatuh ke ekstrem lainnya, yakni bekerja terus, tanpa berbicara. Saya juga yakin, orang-orang yang kamu sebutkan di atas banyak berbicara juga dengan orang-orang lainnya. Mungkin, rumusan yang lebih tepat adalah, berbicara secara tepat (sesuai konteks) untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang konkret.

    • Betul Za, memang bicara tetap perlu. Yang penting sesuai konteks, dalam rangka menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang konkret. Orang-orang yang kusebut di atas juga bicara, terutama Dahlan Iskan yang sangat banyak bicaranya. Tapi, seberapun banyaknya kata-kata dia, masih jauh lebih banyak tindakan nyata dia.

      Sementara, sekarang banyak sekali tukang cuap-cuap yang protes san protes sini, tidak puas sana sini, ngomong idealnya begini begitu; tapi nyatanya tidak ada yang sungguh-sungguh nyata dihasilkan. Aku ketemu yang begini banyak sekali Za. Tidak hanya di sektor sosial dan pemerintahan, tapi juga di bisnis.

      Sebenarnya kita sudah berada di ekstremisme banyak bicara sedikit hasil nyata. Kondisi ini yang harus dikembalikan ke keseimbangan, dan itu yang kucoba kuangkat disini🙂

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s