2017 dalam pandangan yang kabur

Tahun 2017 akan kita masuki, itu jelas. Tahun seperti apa 2017, itu tidak jelas.

Donald Trump, Brexit dan trend pergantian kepemimpinan global tampaknya membuat arah dunia akan berbeda. Tapi tidak jelas berbeda seperti apa. Kita memasuki dunia dimana tema-tema populer di dalam dua dekade terakhir, yang tampaknya sangat penting bagi dunia, mungkin menjadi tidak lagi penting.

Tema-tema seperti lingkungan dan globalisasi ekonomi, kini akan berhadapan dengan pemimpin-pemimpin negara besar dunia yang tidak sepakat bahwa kedua hal tersebut penting dan merupakan prioritas. Akankah kita memasuki dunia dimana banyak negara menjadi proteksionis dan cenderung tidak ramah pada ide globalisasi? Akankah kita memasuki era dimana pemanasan global dan isu lingkungan tidak menjadi masalah penting yang harus diatasi?

Yang lebih menarik, seringkali pemimpin-pemimpin baru ini aktif melempar komentar di media massa dan media sosial, tapi tidak secara jelas mengatakan apa arah tindakan dan kebijakannya. Atau, di lain pihak, dangan jelas dan konkret dalam konteks sempit tertentu. Tampaknya memang menjadi trend bahwa tidak penting apa rekam jejak pemimpin tentang kebijakan dan tindakan jangka panjangnya. Yang penting adalah persepsi dan popularitas jangka pendek.

Toh tampaknya masyarakat juga tidak begitu peduli isu jangka panjang dan rekam jejak.

img_2473

Di negeri sendiri, kita lagi-lagi berhadapan dengan isu-isu SARA yang dimasak sedemikian rupa oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan-tujuan tertentu. Sebenarnya ini bukan hal baru sama sekali. Tapi yang istimewa kali ini adalah media sosial, yang sejak kemunculannya di era 90-an, menjadi salah satu pendobrak yang memunculkan ekspresi dan keberagaman – kali ini justru menjadi kanal penyebaran umpan-umpan polemik yang kita semua saksikan sekarang.

Sebenarnya, polemik yang sekarang dilempar, kebetulan soal SARA yang digunakan untuk konstestasi politik, adalah yang lagi cocok dilemparkan ke media sosial. Tapi, di lain waktu, media sosial ini bisa menjadi medan polemik untuk isu-isu lain.

Kunci permasalahan terletak pada kondisi betapa banyak orang yang aktif di media sosial, yang percaya dan menelan apa pun yang mereka temui di media sosial. Sementara semua orang, bisa melemparkan ide dan pesan apapun ke dalam media sosial, entah benar entah tidak, entah berdampak baik atau tidak.

Mungkin terdengar klise, atau bahkan kuno, kalau dikatakan bahwa kita kembali ke masa agak ‘gelap’. Masa dimana informasi yang benar dan bermanfaat tidak cukup tersedia bagi banyak orang. Masa dimana pemimpin tidak jelas arahnya, dan lebih semaunya sendiri dalam melakukan tindakan-tindakan, melalui cara yang tidak transparan.

Tapi sekali lagi, di dunia di mana gelontoran ide dan pembicaraan jangka pendek yang lagi hangat – alias kekinian – adalah yang paling penting, maka kebenaran informasi dan data serta dampak jangka panjang memang tidak begitu penting bagi kebanyakan orang.

Apabila memang demikian, maka teropong menuju 2017 tampaknya masih akan menyajikan pandangan yang kabur.

Mungkin, situasi memang masih agak gelap, dan waktunya mengenakan sabuk pengaman. Wish you a good 2017!

 

 

Advertisements

4 thoughts on “2017 dalam pandangan yang kabur

    1. Bisa juga. Tapi itu tidak membuat medsos jadi lebih jelas juga kan 🙂
      Rasanya justru lebih penting bagaimana membikin agar kita dan lingkungan kita tidak jadi ‘budak’ medsos, dalam artian bisa memilih dan memilah. Unfriend bis ajuga, tapi itu tidak berarti akan membuat kita bisa memilih dan memilah apakah informasi itu benar dan berguna.

  1. Yang paling bijaksana adalah “be a smart reader” kalau menurutku.
    Jangan menelan mentah2 berita yg ada di medsos. Selidiki dahulu kebenaran berita tersebut.
    Sama halnya kalau kita menerima broadcast di aplikasi BBM atau WA. Belum tentu berita tersebut benar atau HOAX.
    Berpikirlah dengan kepala dingin, jangan cepat panas dengan berita2 yg ada di medsos.

    1. Sepakat, Di. Kebijaksanaan ini yang makin langka. Harapannya pendidikan dan fungsi-fungsi sosial lain membikin orang makin bijaksana. Tapi tampaknya tidak. Malah kadang yang bikin kontroversi di medsos adalah akademisi atau tokoh-tokoh sosial, entah betulan atau gadungan 🙂
      Jadi tergantung pada kita masing-masing sekarang. Tidak bisa mengandalkan pada para ‘tokoh-tokoh’ 🙂

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s