Human capital itu konkretnya ini lho!

Human capital management adalah konsep yang terlalu sering disebut, tapi belum cukup sering ditampilkan secara jelas. Acapkali, kita mengartikan bahwa bila bisnis menerapkan talent management, maka itu berarti sudah menerapkan human capital management.


Pertanyaan kuncinya sederhana sih, bagian mana yang spesifik berbeda, sehingga kita menyebut kata capital di situ?

Kalau dibilang ini tentang manusia sebagai aset bagi bisnis, bukannya sudah dibilang seperti itu sejak dulu? Tapi konsep itu menjadi idealisme usang yang tidak kunjung jelas, sehingga orang bosan. Lalu apakah karena sekarang nilai kompetensi manusianya menjadi penentu? Lagi-lagi, itu kan juga sudah sejak dulu. Hal yang sama juga terjadi pada konsep talent, dimana lama-kelamaan konsep tentang talent ini tidak berbeda dengan soal merekrut orang yang diharapkan bagus – sesuatu yang sama sekali bukan hal baru.

Di sinilah ada pemahaman penting yang perlu dipahami dengan benar. Sekali lagi, harus dengan benar. Apa itu?

Human capital adalah soal pembentukan ketrampilan dengan hasil yang memiliki nilai tambah terukur.

Artinya, apabila human capital diterapkan, maka bisnis secara terarah jelas memiliki strategi untuk selalu mendapatkan orang yang bisa dikembangkan ketrampilannya pada sisi operasional bisnis, sehingga nilai tambah ketrampilan itu terukur jelas dalam pertumbuhan nilai ekonomis bisnis tersebut. Ini berbeda dengan strategi lama yang prinsipnya adalah mencari orang untuk bekerja dengan ‘harga’ sesuai anggaran/budget, atau lebih rendah, dengan skill siap pakai dan tidak perlu pengembangan ketrampilan. Itu belumlah menunjukan human capital.

Mari kita lihat contoh telur dadar di restoran Korean food yang cukup terkenal belakangan ini, Magal Indonesia. Prinsipnya, yang kita lihat di foto di atas adalah telur dadar dengan campuran irisan sayur kimchi. Sekarang mari kita tanya, berapa banyak orang bisa mencoba memasak telur dadar seperti itu?

Banyak yang bisa mencoba. Tapi yang bisa memasak dengan campuran bahan dan bumbu bercitarasa yang tepat seperti Magal jelas tidak banyak. Akibatnya, telur dadar pun menjadi istimewa, karena ini Korean style, yang hanya bisa didapat di Magal. Telur dadar adalah hal biasa, tapi telur dadar di Magal cukup istimewa. Disitulah kita lihat dampak dari ketrampilan – mulai dari meramu bahan telur dadar hingga menggorengnya, hingga mendapat bentuk dan kematangan yang tepat – membuat sesuatu yang nilainya biasa menjadi punya nilai istimewa.

Pertanyaannya sekarang, apakah dalam bisnis anda, orang-orang yang direkrut adalah orang-orang yang sejak masuk bisa dengan segera menyelami proses dan ketrampilan unik dalam bisnis anda, dan secara bertahap mengembangkan dan menajamkan ketrampilannya sesuai gerak operasional bisnis anda?

Tolok ukurnya sederhana saja. Coba lihat apakah sejak ada mereka masuk, ada kemajuan dalam kecepatan, peningkatan produktifitas, efisiensi proses dan kualitas hasil bisnis anda?

Silahkan dipikirkan, dan jangan segan mengontak kami untuk diskusi lebih jauh! Nantikan postingan tentang human capital selanjutnya!

 

 

Advertisements

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s