Interlock: Kebijaksanaan dari selembar kulit sapi

Furrier is cutting leather for a bluefox coat ...

Image via Wikipedia

Minggu lalu, dan minggu ini, saya sedang menjalani training membuat sepatu. Sebuah pengalaman yang menyenangkan, karena prosesnya sulit karena saya tidak berbakat menjahit, tapi akhirnya belajar dan mulai bisa sedikit-sedikit. Tentunya menjahit bagian-bagian sepatu, bukan menjahit dalam arti umum. Ternyata, membuat sepasang sepatu itu sangat kompleks, melibatkan begitu banyak tahap untuk menghasilkan begitu banyak bagian (pieces) yang kemudian disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sepatu yang kita pakai.

Tapi saya bukan mau bercerita tentang proses pembikinan sepatu. Saya mau bercerita tentang interlocking.

Apa itu interlocking?

Interlocking adalah sebuah teknik menggunting (cutting) kulit bahan sepatu. Prinsipnya, interlocking adalah cara menggunting kulit dengan sedemikian rupa agar bisa memperoleh potongan bagian-bagian sepatu dalam jumlah maksimal. Jadi, kita bisa memaksimalkan penggunaan lembaran kulit dengan semaksimal mungkin, dan memperkecil pembuangan bahan material kulit.

Ada kisah menarik dibalik interlocking ini. Karena bentuk potongan kulit terdiri dari beragam bentuk tergantung model sepatu apa yang akan dibuat, maka pola interlocking bisa dibayangkan seperti bagian-bagian puzzle. Dan kebanyakan orang, saat mengetahui ini, langsung berpikir bahwa itu soal mudah. Mungkin saat anda membaca ini, dalam benak anda juga sedang berkata, “Itu kan mudah, tinggal susun seperti puzzle, beres kan?”

Sebenarnya, interlocking itu sulit. Bila anda termasuk yang berpikir interlocking adalah semudah puzzle, saya sarankan agar anda jangan mudah menggampangkan sesuatu terutama untuk sesuatu yang anda tidak pernah alami.

Selembar kulit sapi tidak sama dengan selembar kertas atau karton puzzle. Dalam selembar kulit, ada beragam area dengan kualitas yang berbeda. Kulit punggung punya kualitas kekuatan yang berbeda dengan kulit leher, atau kulit daerah paha. Setiap bagian potongan kulit membutuhkan kualitas spesifik yang hanya terdapat di area-area tertentu dari selembar kulit. Maka, tidak semua bagian kulit kita bisa potong dan gunakan sesuka kita. Belum lagi, kadang terdapat kerutan atau cerut-cerut pada kulit tersebut. Perlu juga diingat bahwa kulit adalah bahan natural, sehingga tidak ada kulit yang sama.

Intinya, anda tidak bisa asal gunting seefisien mungkin dan interlocking pun beres. Tidak demikian kenyataannya.

Di sinilah saya melihat sebuah kebijaksanaan yang dapat kita pelajari dari interlocking.

Interlocking itu seperti hidup sosial, atau bahkan lebih spesifik, bekerja secara sistemik. Dalam konteks organisasi, dan juga dalam keseluruhan kehidupan sosial, kita bagai potongan-potongan kulit dengan beragam bentuk, karakter dan kualitas. Jangankan untuk menggabung dan menjahit menjadi sepatu yang kuat dan indah, menemukan potongan-potongan yang saling bisa bersesuaian pun tidak mudah. Belum lagi kita akan bicara karakter, kualitas, kekuatan dan sifat-sifat lain yang sesuai.

Tak jarang kita punya rekan kerja yang pintar, tapi tidak bisa bekerja optimal karena mudah tersinggung, atau hanya pandai omong, Kadang ada pula orang yang sangat kapabel, tapi tampanganya bikin banyak orang tidak yakin. Kadang pula ada orang yang kuat luar biasa, tapi ‘alot’ dalam bekerja. Ketika macam-macam orang yang sebagai individual sudah bagus dan mendekati ideal dicoba untuk dipertemukan, ternyata tidak mudah terjadi kecocokan. Ini semua bagai menemukan pola yang tepat dalam memotong kulit berdasar interlocking.

Interlocking menggambarkan kebijaksanaan yang harus kita miliki dalam menerapkan people management. Dengan seolah-olah berpikir logis matematis dengan menggunakan analogi puzzle untuk menjelaskan interlocking hanya menggambarkan tiga hal: kesombongan, ketidakpahaman atas realitas praktis, dan kedangkalan dalam berpikir sistemik.

Organisasi, sebagaimana halnya sistem sosial yang lain, adalah bauran beragam karakter, kualitas dan kekuatan yang beragam. Selain itu, tidak ada komposisi yang sama persis antara organisasi yang satu dengan yang lain. Beranggapan bahwa mengelola manusia dalam organisasi bagai mengatur dan mengkalkulasi puzzle berdasar logika dan asumsi generalisasi adalah sesuatu yang fatal. Belum lagi, kini makin banyak orang justru ingin sok beda dan ingin selalu berada dalam kontradiksi dengan orang lain.

Ini sama halnya dengan memotong kulit sapi dengan interlocking berdasar konsep puzzle. Kita akan menghasilkan banyak potongan memang, namun sangat mungkin potongan yang kita hasilkan tidak sesuai dengan kualitas yang diperlukan untuk membuat sepatu. Akhirnya, yang kita hasilkan adalah sampah, buah dari ketidakpahaman dan kesombongan. Organisasi yang tidak dikelola dengan tepat bagai kulit yang mengalami interlocking yang salah, dan menjadi kumpulan ‘sampah’.

Ini sepertinya soal yang sederhana, tapi menurut saya, ini sama sekali bukan hal yang sederhana dan remeh.

 

PS: Thanks untuk Mbak Ninik, Mbak Muji dan Mbak Efi, instruktur-instruktur interlocking yang hebat. Kalian tidak kalah hebat dengan para orang-orang yang kelihatannya pintar-pintar itu hehehehe…..Bahkan mungkin kalian lebih bijaksana daripada mereka🙂

 

Posted with WordPress for BlackBerry.

12 responses to “Interlock: Kebijaksanaan dari selembar kulit sapi

  1. Hi Pak!…Apa kabar dengan new jobnya nih???hehehe…

    wah, menerapkan teknis di lapangan sebagai bahan refleksi untuk membahas dinamika organisasi…keren!!!…hehehe…saya amat sangat setuju dengan:

    “Tak jarang kita punya rekan kerja yang pintar, tapi tidak bisa bekerja optimal karena mudah tersinggung, atau hanya pandai omong, Kadang ada pula orang yang sangat kapabel, tapi tampanganya bikin banyak orang tidak yakin. Kadang pula ada orang yang kuat luar biasa, tapi ‘alot’ dalam bekerja. Ketika macam-macam orang yang sebagai individual sudah bagus dan mendekati ideal dicoba untuk dipertemukan, ternyata tidak mudah terjadi kecocokan. Ini semua bagai menemukan pola yang tepat dalam memotong kulit berdasar interlocking.”

    emang, di organisasi itu tidak bisa terhindar dari variasi orang-orang dengan segala kekurangan dan kelebihannya, tapi, kalo kebanyakan kelemahannya, wah, susah juga ya pak. hehehe…hmm,,,ada juga orang di organisasi yang selalu membawa “panji” perubahan pas tapi sayang hanya sebatas konsep dan asumsi…so, bagaimana untuk mengskakmate pihak2 seperti itu pak dalam organisasi???

    • Menurutku, bukan soal skakmatnya yang penting. Saling skakmat dan debat memang kesannya keren, tapi itu hanya efektif untuk short term.
      Lebih penting adalah mampu melihat komposisi orang kita, termasuk dalam hal ini adalah karakter dan kualitasnya. Ini yang seperti kubilang di tulisan, bahwa kulit sapi pun beda-beda dan satu sama lain pasti memiliki beragam area dengan kualitas yang berbeda (termasuk cacat-cacatnya).

      Di sini, kemampuan kita melihat interlock-nya sangatlah penting. Interlocking membuat kita mampu mengoptimalkan apa yang ada sebaik dan sefeisien mungkin. Sementara main skak mat dan debat adalah bagaikan menghujat kulit yang jelek. Biar diperdebatkan kayak apapun, nggak akan ada gunanya. Ingat, kulit yang paling jelek pun ada gunanya. Mending menggunakan secara tepat guna, daripada berharap kulit itu berubah jadi kulit yang bagus🙂 Tapi karena manusia bukan kulit sapi, kalau dirinya mau berubah, tentu kemungkinan itu masih terbuka hehe….

      • Tetapi pak, apabila memang kita harus menggunakannya secara tepat guna. Selanjutnya akan ada selalu orang yang tidak mau menerima perubahan walaupun berkali-kali di tumbuhkan rasa untuk berubah tersebut. lalu apakah yang terjadi dengan orang tersebut?

      • Hehehehe….ya memang ada orang yang sulit banget berubah. Tapi yang penting sekali untuk diingat adalah bahwa kita tidak bisa merubah orang lain, karena hanya orang itu snediri yang bisa mengubah dirinya sendiri.
        Yang harus kita sikapi hati-hati adalah upaya menumbuhkan rasa untuk berubah itu. Kadang kita yang aktif menumbuhkan, bukan orang itu sendiri yang menumbuhkan. Ini lebih banyak kemungkinan menjadi sia-sia. Kita hanya bisa me re-engineering sistem nya agar menstimulasi perubahan internal. Nah kalau nggak mau, kan nanti orang-orang itu pergi sendiri, atau akan kecanthol masalah-masalah kinerja (yang lama-lama bikin dia pergi juga🙂 )

  2. Aku suka gaya tulisanmu disini James. Dari hal-hal rutin, kita bisa menggali insight yang amat mendalam soal hidup. Saya setuju dengan ide dasar tulisan ini, keberagaman, dalam berbagai levelnya, adalah kekayaan yang harus dipelihara. Seorang pemimpin bagaikan pelukis yang meramu beragam warna (yang mewakilkan beragam orang di dalam organisasi yang ia pimpin) untuk menjadi lukisan yang indah. Ada warna-warna indah yang siap digores ke dalam lukisan. Namun ada warna-warna tertentu yang memang tak lagi layak tampil, ataupun hanya layak tampil sebagai bayang-bayang. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membedakan hal itu, dan bersikap proporsional atasnya.

    • Thanks, Za. Yup, dan istimewanya, kebijaksanaan seperti ini bisa diperoleh dari hal-hal yang paling sederhana dalam keseharian hingga hal-hal besar.
      Yang sulit adalah menjadi terbuka sehingga mampu melatih diri memahami kebijaksanaan itu.

      • em.. saya sudah mencoba terbuka akan berbagai pendapat yang masuk. permasalahan yang muncul selanjutnya pak, cara berbeda tujuan sama?. pihak a punya cara dan alasan untuk melakukan suatu tindakan, nah demikian juga yg b… karena saya mencoba untuk terbuka selanjutnya saya menjadi bingung..yang mana yang harus saya anggap benar? kadang2x saya juga berpikir berpikir mengandalkan pengalaman, pemikirian pribadi dan tidak mendengarkan orang lain juga mempunyai sisi positif, yaitu gak bingung dan ga terombang ambing..he3x

      • Hehehehe….ya memangnya kenapa kalau cara berbeda tujuan sama? Malah sistemik kan?
        Terombang-ambing karena merindukan kebenaran tunggal itu yang menurutku agak bermasalah. Kenyataannya realitas itu tidak tunggal, tapi jamak/majemuk. Ini yang memang tidak mudah.
        Aku melihat bahwa ketika kita bisa melihat bahwa realitas itu beragam karena perspektifnya, kita bisa melihat sistem yang sungguh-sungguh sedang beroperasi. Kemajemukan perspektif itulah interlocking.
        Gimana?

  3. em.. tapi gimana kalau hanya satu pihak yang menyadari kalau realitas/ kebenaran itu tidak hanya tunggal? memaksakan kebenaran berdasarkan perspektif pribadi dan menjatuhkan kebenaran berdasarkan prespektif orang lain?… ini saya alami, saya melihat prespetif a ya ga salah karena bertindak berdasarkan apa yang ada di lapangan sedangkan prespetif yang b secara omongan memang benar tapi susah di lakukan di lapangan. contohnya pada bengkel bubut, karena banyak yang harus di kerjakan dan proses pembubutan tidak bisa sekali jalan (perlu diuji coba untuk melihat dimana kekurangannya) matras pesanan tidak bisa ditentukan kapan selesainya. sih b berpikir bahwa kalau ga bisa ditentuin kapan selesainya berarti salah pemimpinnya ga bisa memimpin dengan baik, kalau ga bisa di pastihin ya harus di pastikan dalam waktu dekat sudah selesai karena pesanan udah banyak menumpuk. a bilang ya tanya aja kalau mislnya ga pasti ya jangan dipaksa karena kalau tukang bubutnya ngambek dan ga mau masuk kerja kan kerjaannya tambah ga beres semua.

    apa bisa interloking itu berjalan kalau salah satu pihak sudah memengang tegu kebenaran dalam perspetifnya?thx

    • Kan itu soal mengkomunikasikan perspektif dan bagaiman semua perspektif itu saling interlock. Nah kalau ternyata semua pihak yang berbeda perspektif masih tidak bisa melihat interlocking antar perspektif, maka komunikasi strategisnya nggak berjalan efektif. Bisa jadi yang mencoba mengkomunikasikan juga hanya berpegangan pada perspektif tunggalnya sendiri. Ini kan seperti orang buta berdebat dengan orang buta yang lain untuk hal yang sama-sama tidak mampu mereka lihat. Bagaimana menurutmu?

  4. em… mungkin yang terjadi memang demikian.. saya seperti orang tidak tau apa2x yang berusaha melihat yang mana yang benar apakah yang benar itu memang benar tanpa melihat apakah ada kesusaian dan keserasian dari dua perspetif yang berbeda.

    apakah sll ada komunikasi strategis sir? kalau yang satu keras kepala dan tidak suka menerima usul dari anaknya dan anaknya keras kepala dan sll menyalahkan pola kerja orang tuanya ?

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s