OD di 2012 – Catatan kedua: Over-supply of ideas?

Words crafted on the floor of Seattle Public Library

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di catatan kedua ini, temanya adalah : Over-supply of ideas.

Sekarang ini, kata kreatif menjadi kata populer….sangat populer! Dan di Indonesia, ini tak terlepas dari booming industri kreatif. Kreativitas seakan menjadi label untuk apapun, terlepas dari apakah yang dilabeli itu sungguh-sungguh kreatif atau tidak. Kreativitas, berbeda dengan umumnya kegiatan manusia yang lain, adalah hal yang terkait dengan ide baru.

Ya, ide yang baru. Artinya ya bukan ide yang sudah banyak ada dan dikenal orang. Apalagi ide yang meniru alias menjiplak ide lain. OK, tentu saja ide kreatif seseorang pun bisa mirip ide kreatif orang lain, atau terinspirasi oleh ide kreatif orang lain. Tapi kan tidak sama persis. Kreatif, tentunya bukan diperolah dari copas alias ‘copy and paste‘ ide orang lain begitu saja.

Sebenarnya dari segi esensi, kreatif itu memiliki sifat unik, menunjuk pada pembuatan atau penciptaan sesuatu yang baru. Jadi, ketika saya mendengar istilah ‘industri kreatif’, saya sebenarnya merasa ada yang agak kurang pas. Itu karena menurut saya, menggabungkan ‘kreatif’ dan ‘industri’ sepertinya tidak begitu nyambung dari segi asosiasi makna. Istilah kerennya, dalam bahasa Inggris, adalah oxymoron.

Mengapa? Ya karena industri identik dengan produksi hasil dalam jumlah banyak hehehehe….Lalu bagaimana sesuatu yang diproduksi dalam jumlah banyak bisa selalu unik dan baru, sekaligus terjangkau pasar? Selalu unik dan baru biasanya identik dengan seni dan karya cipta yang tidak sering muncul dan tersedia dimana-mana. Sementara yang namanya industri, itu identik dengan ‘sering’ dan ‘dimana-mana ada’, alias ‘banyak’.

Nah, bagaimana sesuatu yang ‘banyak’ bisa kreatif? Apakah kita bisa dengan mudah menghasilkan ide kreatif secara sering dan banyak, dimana setiap ide itu selalu baru dan berbeda?

Menurut saya, ya tentu bisa, tapi tidak mudah.

Maksud saya bukan mengatakan bahwa yang bisa bikin ide kreatif itu sedikit orang saja. Bukan itu. Yang saya maksud adalah bahwa ketika ide kreatif didorong untuk di-industri-kan, maka akan banyak orang memcoba membikin ide kreatif dan menghasilkan ide kreatif. Artinya pula, makin besar kemungkinan bahwa banyak orang menghasilkan ide yang mirip-mirip. Ini yang maksud dengan over-supply of ideas.

Nah kalau idenya mirip-mirip dan dihasilkan banyak orang, sampai over-supply, itu memang menunjukkan sifat ‘industri’ tapi bukan sifat ‘kreatif’. Dan sekarang tampaknya menghasilkan ide kreatif itu jadi trend populer, sehingga yang kita hadapi sepertinya adalah booming ide kreatif.

Saya coba gunakan contoh di konteks model busana alias fashion. Kalau desain baju tertentu yang hanya bisa kita temukan di distro-distro tertentu, itu menurut saya bisa dibilang kreatif. Tapi kalau model baju yang mirip, misal model artis atau girlband Korea, yang muncul dimana-mana dan bisa diperoleh di banyak toko, entah itu butik atau toko online, dengan merk yang beragam; itu bukan kreatif namanya. Itu industri massal juga, tapi mungkin diproduksi dan didistribusikan oleh pihak-pihak (pabrik dan toko) yang berbeda. Tampaknya kreatif, tapi sejatinya tidaklah kreatif.

Saya jadi teringat akan booming bisnis teknologi informasi di penghujung tahun 90-an. Saat itu, begitu banyak orang mendirikan bisnis  teknologi informasi, sehingga samapi tercipta area-area tertentu yang dipenuhi para pebisnis teknologi informasi, seperti Silicon Valley di San Jose, California. Dari ratusan bisnis teknologi informasi yang didirikan pada era booming itu, mayoritas sudah gulung tikar dan diakuisisi bisnis serupa yang lebih kuat. Kini, bisnis-bisnis yang survive dan menjadi besar hanya tinggal beberapa, dan namanya sangat populer di telinga banyak orang saat ini; misal Microsoft, Google, Apple, Adobe, atau Yahoo. Walau jumlah bisnis yang sukses di bidang ini tidak banyak, namun infrastruktur teknologi informasi yang diwariskan membuat dunia kita saat ini berubah luar biasa. Meminjam pendapat Thomas Friedman, booming teknologi informasi waktu itu memang membuat banyak orang bangkrut, tapi apa yang mereka bangun tetap ada dan diwariskan sebagai fondasi dunia abad 21.

Sekita tahun 80-90 an, Indonesia juga sempat mengalami booming industri berbasis jaringan, yang memang menelurkan beragam bentuk seperti investasi, asuransi, MLM, forex hingga money game (yang mungkin sebenarnya lebih spekulasi resiko tinggi daripada bisnis). Di awal trend ‘bisnis berbasis sistem’ ini muncul, begitu banyak orang berpartisipasi karena terpukau dengan ciri unik dari bisnis ini: Keberhasilan bukan dari income hasil produkai atau penjualan, tapi dari nilai atau poin yang diperoleh dari kemampuan ‘memainkan’ supply and demand dalam sistem. Kini, banyak sudah yang rontok, dan bisnis jenis ini tak lagi menjamur. Namun, kita kini memiliki infrastruktur investasi, jasa keuangan serta bisnis berbasis jaringan yang cukup layak dan fungsional.

Kini, di Indonesia sedang terjadi booming industri kreatif. Salah satu boom yang paling mudah dilihat adalah bisnis fotografi, fashion, make-up artist dan creative designer. Kini bertaburan website maupun laman facebook untuk bisnis-bisnis macam ini. Sepuluh tahun lalu, remaja keluyuran membawa kamera DSLR adalah tidak lumrah terlihat di mal. Kini, ini pemandangan yang kerap saya temui, bahkan banyak yang malah mengadakan sesi pemotretan di mal. Fotografer yang dulu profesi langka, kini menjamur. Hal yang sama tampaknya juga terjadi di berbagai bidang industri kreatif yang lain.

Nah, mungkin dari pola-pola ini, kita bisa melihat bahwa over-supply of ideas harus dikelola dengan cerdas, sehingga tidak terjadi banjir ide, yang awalnya sebenarnya kreatif, tapi karena terlalu banyak, menjadi turun nilainya dan jatuh di pasar. Tentu, ini berarti siapapun yang berada di industri kreatif harus memastikan bahwa proses kreatifnya sustainable, alias bisa senantiasa melahirkan ide-ide kreatif baru.

Mengapa demikian? Ya karena makin tingginya supply ide kreatif membuat ‘usia’ ide kreatif itu makin pendek. Begitu sebuah ide kreatif menjadi jamak dan ditiru banyak orang, maka nilainya menjadi murah dan pasar akan jenuh. Maka ide itu menjadi ide biasa, tak lagi kreatif.

Ini bukan hal yang mudah, tapi ini bisa dilakukan dan sebenarnya malah sangat bagus untuk organisasi. Setuju?

2 responses to “OD di 2012 – Catatan kedua: Over-supply of ideas?

  1. Well, bicara kreatif dalam industri memang aneh. Pada dasarnya, industri pasti lahir dari kreativitas manusia, jadi dimanapun industri pasti kreatif tanpa perlu tambah embel-embel kata “kreatif”. yang perlu di cermati adalah kata “inovatif”, karena inovasi lah yang akan membuat industri tetap mampu bersaing dengan kompetitornya. Lewat inovasilah industri mampu meningkatkan kompetensinya dalam menyediakan kebutuhan pelanggan. Jadi menurut saya kata yang tepat untuk digabungkan dengan kata “industri” adalah “inovatif”. What about you?

    • Hehehe….I see your point!🙂
      Tapi memang masalahnya kan memang inovasi dan kreativitas itu jadi agak sulit ketika harus dibikin banyak. Misal, penemuan gadget wireless adalah inovasi dan kreatifitas besar. Namun ketika sudah diproduksi massal, nilai kreatifnya sudah berbeda, atau lebih rendah tepatnya. Jadi nilai inovasi dan kreatifitas itu riil di awal sebuah karya dibuat, tapi main turun seiring karya itu makin banyak direplikasi.
      Jadi apapun istilahnya, ini situasi riilnya. Gimana?

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s