Merdeka itu soal hati nurani, bukan cuma kebebasan!

Kemerdekaan itu memang hak setiap orang. Kemerdekaan memberikan kita kebebasan. Namun kemerdekaan juga ada karena ada orang-orang yang berkorban agar kemerdekaan dan kebebasan itu terwujud.

Betul, selalu ada ongkos yang harus dibayar……dan ketika kita bicara kemerdekaan, ongkos itu kerap kali tidak hanya dibayar oleh kita sendiri, melainkan orang lain juga. Bahkan pada beberapa situasi, orang lain yang sepenuhnya membayar agar kita memperoleh kebebasan.

Misal, kemerdekaan suatu bangsa membutuhkan ongkos pengorbanan dari para pejuang sebelum kemerdekaan. Yang menikmati kemerdekaan sering kali bukan mereka yang memperjuangkan, karena mereka sudah kehilangan hidupnya untuk mengongkosi kemerdekaan itu. Hal yang sama dengan orangtua yang berjuang untuk anak-anaknya. Acapkali, orangtua berjuang banting tulang hilang muka demi hidup anaknya yang lebih baik. Kehidupan lebih baik, semacam kemerdekaan, itu nantinya akan dinikmati anaknya dan bukan orangtuanya.

Ini bisa juga terjadi dalam persahabatan, dimana seseorang berkorban demi agar sahabatnya memperoleh kebebasan. Konteks lain misal di antara atasan dan bawahan, dimana bawahan berjuang demi atasan demi keberhasilan bisnis, atau atasan membela bawahan demi keutuhan tim. Bisa juga pada pasangan dimana yang satu memberi ruang bagi yang lain agar memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk tetap jadi diri sendiri.

Yang saya mau katakan disini adalah: Karena kemerdekaan dan kebebasan itu diongkosi oleh pengorbanan, dia tidak menjadi barang gratis yang absolut dan bisa digunakan dengan egois.

Bagaikan bisnis, kemerdekaan dan kebebasan yang kita nikmati itu ada ‘pemilik saham’nya, alias orang-orang yang berkontribusi dalam mewujudkan kemerdekaan dan kebebasan itu. Walau demikian, ada bedanya dengan bisnis. Dalam bisnis, para pemilik saham berinvestasi dan menuntuk pengembalian berupa keuntungan. Sedangkan kemerdekaan dan kebebasan, para ‘pemilik saham’ bukan berinvestasi, tapi berkorban. Pengorbanan bukan investasi, karena selain tidak ada prospek return on investment, seringkali pengorbanan lebih merupakan tindakan menanggung resiko demi orang-orang lain yang disayangi.

Memungkiri atau tidak mengakui hal ini adalah tindakan egois dan menunjukkan ketiadaan hati nurani. Seringkali, kita punya excuses untuk ini, misal : “Aku kan tidak tahu”, “Aku kan juga berkorban”, “Siapa suruh dia berkorban untukku”, atau “Ya memang sudah wajar mereka berkorban demi aku”, atau bahkan “Ah pengorbanan begitu saja dibesar-besarin”. Apapun logika yang digunakan dalam jawaban-jawaban itu, tetap saja tampak jelas apakah yang mengatakan itu menggunakan hati nuraninya atau tidak.

Mengkorupsi uang pajak, menyalahgunakan amanat kekuasaan, secara egois menggunakan kesempatan yang disediakan oleh orang lain; itu semua kemerdekaan tanpa hati nurani di konteks yang besar dan luas. Melupakan pengorbanan dan dukungan rekan kerja, melalaikan pengorbanan orangtua atau pasangan, ataupun menganggap remeh orang-orang sekitar yang mengalah pada kita; itu juga kemerdekaan tanpa hati nurani.

Ketika kita menikmati kemerdekaan dan kebebasan kita dengan menyakiti orang lain, maka kemerdekaan kita sebenarnya cuma eksploitasi atas kerelaan, kepercayaan, kecintaan dan pengorbanan mereka yang mendukung kemerdekaan dan kebebasan kita. Ketika kemerdekaan kita harus menjadi penjajahan bagi yang lain, maka apa sebenarnya kemuliaan dari kemerdekaan dan kebebasan itu?

Kemerdekaan dan kebebasan yang dinikmati dengan ‘menyiksa’ orang-orang yang mengongkosi kemerdekaan dan kebebasan melalui pengorbanan mereka, adalah perbuatan yang sangat tidak pantas. Itu menunjukkan bahwa kita berjiwa kerdil dan tidak punya hati nurani.

Karena kemerdekaan itu soal hati nurani, bukan cuma kebebasan!

6 responses to “Merdeka itu soal hati nurani, bukan cuma kebebasan!

    • Hehehehe…..tapi aku memang hati nuranis adalah sesuatu yang personal yang dilahirkan dari konstruksi sosial. Hati nurani, menurutku, adalah kesadaran personal kita, baik secara kognitif maupun emosional, tentang nilai hidup. Ini personal, namun dibentuk secara sosial (socially constructed). Tentu sosial disini adalah bukan dalam artian masyarakat luas, tapi dalam arti significant others (keluarga, lingkungan, idola, dan sebagainya).

      Jadi memang relatif🙂 tidak definitif🙂 Nuraniku dan nuranimu berbeda, tapi ada yang pasti sama, karena konstruksi sosial yang membentuk sama-sama universal. Contoh, pembunuhan manusia lain itu secara universal adalah tidak sesuai hati nurani, walau dalam situasi khusus seperti perang, itu menjadi suatu yang tak terhindarkan. Namun di nilai-nilai yang terbentuk melalui konstruksi sosial yang lebih privat, karena kita tumbuh dalam lingkungan yang berbeda-beda, tentu ada beda pula dalam suara hati nuraninya🙂 Jadi relatif, bukan diktator definitivisme🙂

  1. Ya James. Hati nurani dibentuk melalui proses yang paradoksal, sekaligus sosial sekaligus personal. Namun, James, bukankah kita tidak pernah bisa keluar dari “definitivisme”? Menyatakan bahwa nurani adalah pardoks pun adalah sebuah argumen definitif bukan? Bahkan, relativisme pun juga adalah sebuah argumen yang mengandung posisi definitif di dalamnya, yakni bahwa segala sesuatu relatif. Bagaimana menurutmu?

    • Nah itulah…..menjebak pemikiran dalam dua kutub melalui kontrast antara relativisme dengan definitivisme itu sebenarnya pengalihan dari esensi tentang paradox.
      Aku sepenuhnya setuju bahwa realitas sesungguhnya adalah definisi yang bersifat paradoxical, dimana konstruksi yang secara sistemik adalah relatif, bila ditinjau dari perspektif tertentu menjadi definitif. Itulah mengapa dalam filsafat timur dikatakan bahwa paradox realitas tak bisa diuraikan dengan kata-kata. Sementara tradisi logika empiris memang suka dengan membuat definisi🙂

      Makanya hati nurani sulit didefinisikan🙂

      • hehhe.. nice point.. Aku setuju denganmu. Pada akhirnya, definisi itu menggunakan bahasa, dan bahasa tidak akan pernah mampu mewakili kerumitan realitas. Maka, setiap definisi itu selalu tak cukup. Pemahaman tertinggi tidak dicapai dengan kata-kata, melainkan justru dalam diam, dalam hening, ketika kata dan bahasa berubah menjadi “sesuatu” yang mampu menangkap kekayaan realitas.

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s