2013: Dari ‘kuat’ menjadi ‘gesit’

Bagi mereka yang bergelut dalam bisnis, 2013 ini mungkin mulai menunjukkan karakternya. Meski bukan untuk semua, tapi tampaknya tekanan-tekanan pada bisnis di tahun 2013 akan cukup memaksa bisnis mengubah caranya mengelola organisasinya.

Setidaknya, ada tiga hal di paruh kedua 2012 yang membuat 2013 cukup menantang. Ketiga hal itu adalah kenaikan harga tenaga kerja, inflasi ekonomi, dan ‘pemanasan’ menjelang pemilu. Ketiga hal ini akan memaksa organisasi bisnis untuk beradaptasi menjadi lebih efisien dan lebih gesit, namun tetap solid dengan kapasitas yang paling tidak sama.

Kenaikan anggaran tenaga kerja adalah akibat kenaikan upah yang cukup signifikan. Meskipun tidak bisa dibantah bahwa ini memberatkan bisnis, tapi memang ini perlu. Kenaikan upah akan meningkatkan daya beli serta keseimbangan harga tenaga kerja kita terhadap negara tetangga di kawasan. Hanya saja, dari segi produktivitas dan kualitas SDM secara umum, seharusnya meningkat pula. Dan inilah yang biasanya tidak mengalami peningkatan secepat kenaikan harga tenaga kerja.

Kondisi ketenagakerjaan ini hanya merupakan ‘hidangan pembuka’ dari inflasi ekonomi, yang akan jadi tantangan sebenarnya. Kenaikan penghasilan tenaga kerja akan mendorong tingkat konsumsi masyarakat. Namun, Indonesia adalah sebuah ekonomi yang belum mampu mengendalikan ketergantungan pada komoditas impor, atau mengandung unsur impor. Akibatnya, kita masih perlu subsidi di sana-sini, dan banyak barang konsumsi yang diinginkan oleh masyarakat, tapi belum bisa diproduksi di dalam negeri. Jadinya, harga cenderung membengkak karena setiap tahapan jalur distribusi akan mengambil untung di dalam proses yang tidak imbang ini. Inilah tantangan yang muncul karena produktivitas riil SDM kita tidak naik secepat kemampuan konsumsi kita.

Tidak hanya sampai situ. Kita perlu ingat bahwa kita telah memasuki ‘pemanasan’ Pemilu. Itu artinya, pencitraan akan didongkrak habis-habisan melalui aksi-aksi populis yang berbiaya tinggi. Sangat mungkin beragam keputusan sensasional terus-menerus bermunculan, dan tentunya sebagian besar keputusan sensasional itu bisa merubah situasi bisnis.

Rasanya pesimistis ya?

Jangan dulu pesimistis. Sejarah menunjukkan bahwa dalam kondisi penuh tekanan dan himpitan lah, inovasi-inovasi bisnis bermunculan. Kondisi yang penuh tekanan dan himpitan memaksa bisnis untuk berubah, atau lebih tepatnya, memaksa semua orang dalam bisnis mengubah cara kerja nya.

Nah, tantangan sebenarnya adalah bagaimana manajemen melihat kondisi ini bukan sebagai keterpaksaan, tapi sebuah kemauan menciptakan budaya baru dalam berbisnis. Sudah bukan hal baru bahwa ketika kita berada dalam posisi manajemen, kita cenderung menjadi lamban bergerak merespon tuntutan perubahan.

Tapi tahun 2013 ini agar berbeda, karena desakan perubahan dalam bisnis bukan sekedar transformasi. Mulai 2013, duni bisnis butuh lebih dari perubahan strategi bisnis, seperti yang kerap kita dengar selama dua dekade terakhir dimana kata change begitu populer. Dengan kenyataan bahwa ekonomi global yang kerap dilanda krisis, sementara pilar ekonomi dunia kini bertumpu di pasar Asia yang masif dan dinamis, semua bisnis harus beradaptasi dengan iklim bisnis yang lebih bergolak (volatile).  Bisnis haruslah berwujud sebagai organisasi atau jaringan yang gesit (agile), kreatif dan fleksibel.

Itu artinya bukan hanya strategi dan struktur yang harus berubah. Itu tidak cukup, dan tidak ada gunanya. Kita bisa saja punya struktur dan strategi bisnis yang fleksibel, kreatif dan gesit, tapi pada akhirnya orang-orang dalam bisnis itulah yang menentukan apakah bisnis kita benar-benar gesit, kreatif dan fleksibel. Tanpa manusia yang sesuai, strategi dan struktur hanya akan menjadi tumpukan dokumen.

source: tipovi-mkd.blogspot.com

source: tipovi-mkd.blogspot.com

Maka, yang diperlukan adalah tiga hal: Mengumpulkan orang yang tepat, membentuk budaya kerja yang tepat, dan membangun proses kerja yang tepat. Tentu yang dimaksud dengan tepat disini adalah gesit, kreatif dan fleksibel tadi. Saya yakin, ketiga hal ini pilar yang bahkan dapat membuat organisasi dengan strategi konservatif pun akan mampu bertahan.

Ini artinya juga bahwa manajemen harus meninggalkan cara ‘lama’ yang melihat SDM dalam organisasi sebagai ‘komponen mesin’ bisnis, dimana masing-masing yang penting melakukan job description-nya dan memenuhi key performance indicator-nya. Tampaknya, karena begitu dinamisnya bisnis di tahun-tahun mendatang, dimana prediksi akurat dan forecasting tak lagi bisa diandalkan sepenuhnya, job description dan KPI pun akan sering berubah.

Kondisi demikian menyadarkan kita bahwa bisnis butuh orang-orang yang paham tujuan bisnis secara utuh di semua lini, dan mampu mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan tuntutan keadaan saat itu. Sangat boleh jadi, yang diperlukan adalah respon yang diluar standard dan kebiasaan, tapi sesuai untuk kepentingan bisnis.

Ini hanya bisa terjadi apabila SDM di dalam organisasi adalah orang yang paham nilai-nilai organisasi bisnis tempat dia berada, paham tujuan bisnis, dan memiliki kemampuan untuk bertindak sesuai tuntutan keadaan dalam rangka mengamankan pencapaian tujuan bisnis. Bila dianalogikan dengan sepakbola, maka bukan hanya manajemen yang bergerak sebagai tim kesebelasan, namun semua orang dalam organisasi adalah pemain. Dengan kata lain, bisnis butuh agen-agen manajemen di seluruh lapisan.

Ini berbeda dengan cara ‘lama’ dimana agen manajemen adalah para manajer dan beberapa posisi kunci saja, sementara SDM yang lain adalah ‘komponen mesin’ bisnis. Bila biasanya manajemen ‘memaksa’ semua orang untuk patuh dan menjalankan strategi organisasi, maka sekarang yang diperlukan adalah kemauan dari semua lapis organisasi untuk bergerak aktif di bawah guidance nilai-nilai organisasi dan arah strategi bisnis.

Meminjam terminologi ilmu politik, 2013 adalah momentum perubahan gaya manajemen, dari rezim ‘paksa’ menjadi rezim ‘mau’. Ini akan menandai era dimana yang penting adalah menjadi ‘gesit’, bukan hanya ‘kuat’.

*Tulisan ini adalah sebuah overview dari presentasi yang saya sajikan di forum Himpunan Pengelola Sumber Daya Manusia Indonesia (HPSMI) Surabaya pada tanggal 1 Februari 2013.

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s