Pendidikan Indonesia merindukan pahlawannya!

Selamatkan pendidikan Indonesia dari dirinya sendiri!

Inilah yang muncul di kepala saya ketika saya berpikir tentang hari ini, Hari Pahlawan! Mengapa? Karena saya resah melihat kondisi hasil pendidikan kita sekarang. Saya khawatir hasil para perjuangan para pahlawan akan sia-sia karena kita tidak punya pahlawan pendidikan yang menjaga masa depan bangsa.

Saya bukan pendidik. Saya bukan ahli pendidikan. Tapi saya jelas pengguna hasil pendidikan. Dan yang saya alami, dunia pendidikan kita terkesan ‘bingung.’ Bingung dengan status-status akreditasi dan sertifikasi. Bingung dengan proyek-proyek. Bingung dengan kurikulum yang selalu harus diganti. Bingung dengan ujian nasional yang bikin peserta didik ngeri. Bingung dengan kompetensi guru yang harus diuji, yang hasilnya akan berdampak pada gaji.

Akibatnya, pendidikan tak sempat bingung memperbaiki kualitas proses pendidikan itu sendiri.

Anak didik pun jadi bingung mencari makna diri. Sebagian dari mereka sibuk beraksi supaya bisa masuk televisi demi menggapai mimpi jadi selebriti. Sebagian lagi berusaha mencari sekolah luar negeri yang dianggap lebih bergengsi dan bisa membawa mereka masa depan mewah ala luar negeri. Sebagian lagi bingung apa yang harus dilakukan selepas lulus sekolah nanti. Sebagian yang lain tidak peduli lagi, karena yang penting bisa lulus ujian nasional dan tak perlu sekolah lagi.

Yang bikin lebih rame lagi adalah bagaimana pendidikan merespon masalah-masalah sosial kita saat ini. Ada ide menghilangkan bahasa Inggris. Ada ide menambah jam pelajaran agama agar siswa tak tawuran lagi. Ada ide meniadakan mata pelajaran IPTEK demi menambah porsi pendidikan agama dan karakter supaya semua jadi lebih imani dan manusiawi.

Tidak ada yang salah dengan semua niatan itu. Semua bertujuan baik. Tapi sayangnya semua terasa sebagai reaksi ngawur tanpa kejernihan melihat esensi.

Moralitas siswa yang tawuran tidak akan menjadi lebih baik karena jumlah jam pelajaran agama ditambah lagi. Itu karena mereka menjadi liar akibat teladan sebagian masyarakat yang penuh dengki, mudah kehilangan kendali diri dan merasa benar sendiri. Menghilangkan jam pelajaran bahasa Inggris tidak akan membuat mereka jadi pelestari budaya dan bahasa Indonesia, atau makin berkualitas sebagai orang Indonesia. Alih-alih, mereka malah jadi lebih rapuh dalam persaingan di era globalisasi.

Solusi-solusi yang bergaya ‘kurangi ini dan tambahkan itu’ semacam ini adalah gambaran masalah yang ada pada hasil pendidikan kita saat ini, yaitu impian instanisme dan kemalasan sistemik. Semua bermimpi ada solusi instan untuk sukses, dan solusi instan itu adalah melalui cara-cara over-simplifikasi yang dicontohkan oleh para tokoh masyarakat, termasuk para birokrat pendidikan. Semua mengalami kemalasan untuk menelaah dengan jernih situasi kompleks yang ada, dan bekerja keras untuk mengurainya. Malah, kemalasan tersebut ditularkan dari lapis satu ke lapis berikutnya, dari aspek kehidupan yang satu ke aspek kehidupan lainnya.

Jadinya, para pendidik hanya sibuk untuk sertifikasi demi besarnya gaji. Peserta didik bingung lulus ujian dan cari jalan instant jadi selebriti. Birokrat pendidikan sibuk bikin proyek penuh sensasi. Institusi pendidikan sibuk jadi pedagang gelar bagai pedagang pakaian jadi.

Saat ini, kita butuh pahlawan pendidikan. Kita butuh orang-orang yang mau bekerjasama menyelamatkan pendidikan Indonesia dari impian instanisme dan kemalasan sistemik! Asuransi masa depan terbaik bagi kesejahteraan kita adalah pendidikan, bukan polis asuransi keuangan yang kita beli. Pendidikan adalah investasi kita di masa depan. Kita butuh pahlawan-pahlawan baru yang mau berkorban menyelamatkannya.

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s