Nostalgia, obsoletisme dan hambarnya cita rasa akan masa depan

Description unavailable

Image by jessica_c_sassane via Flickr

Saya kadang merasa bahwa kita tidak sedang berada di jaman modern. Ini khususnya kalau kita bicara tentang konteks Indonesia. Kenapa? Ya karena saya melihat betapa banyak orang yang hidup dalam nostalgia masa lalu, dan ‘kering’ akan imajinasi dalam membangun masa depan.

Kalau kita melihat, banyak orang terbelah dalam dua kutub pandangan. Yang pertama, menjunjung tinggi nostalgia masa lalu. Banyak orang cenderung mengidolakan tokoh-tokoh legendaris masa lalu, dengan membanding-bandingkan dengan kelemahan tokoh masa kini. Padahal tokoh masa lalu juga punya kelemahan. Kadangkala kita terjebak dalam kecenderungan untuk mengagungkan yang tidak lagi ada, dan tidak mencoba memperbaiki yang sudah ada.

Tak jarang pula kita meragukan usaha inovasi dan eksplorasi baru, yang dilakukan oleh orang-orang baru. Ini seringkali didasarkan pada argumen bahwa hal-hal tersebut belum terbukti dalam di masa lalu, dan pelakunya masih orang baru. Adalah benar bahwa sesuatu yang belum pernah diuji sebelumnya perlu disikapi hati-hati, dan orang baru perlu belajar untuk memahami situasi yang ada dulu. Tapi juga tak bisa dibantah bahwa yang namanya masa depan itu belum terjadi. Oleh sebab itu masa depan tidak bisa serta merta diasumsikan sebagai replikasi masa lalu.

Juga harus diingat bahwa masa depan dibangun oleh orang-orang baru. Apalagi bila kita mengingat sejarah secara lebih utuh, semua orang sesungguhnya adalah ‘orang baru’ di awal era masing-masing. Orang-orang barulah yang akan mengisi masa depan, maka adalah wajar apabila mereka bereksplorasi dan berkreasi untuk masa depan mereka. Eksplorasi dan kreasi mereka belumlah pasti merupakan penolakan atas karya yang diwariskan orang-orang yang mendahuluinya. Juga belum tentu merupakan upaya menihilkan sejarah masa lalu.

Kenyataannya, yang terjadi adalah kebanyakan dari kita hidup dalam nostalgia keindahan masa lalu, putus asa dengan yang terjadi pada masa kini, dan tidak punya imajinasi untuk masa depan yang lebih baik. Banyak yang benaknya terisi dengan mental model yang obsolete (ketinggalan jaman), meskipun dari luar tampak kita sangat inovatif dan modern. Banyak yang terjebak dalam nostalgia dan obsoletisme, dibungkus dengan modernitas superfisial. Saya sering menyebutnya sebagai jiwa-jiwa tua dalam tubuh yang muda.

Masa lalu bukan berarti harus dibuang, tapi juga sama sekali bukan untuk dipuja-puja tanpa pemaknaan kembali. Menganggap bahwa kita bisa menciptakan masa depan tanpa belajar dari masa lalu adalah omong kosong. Menganggap bahwa kembali ke cara masa lalu, atau menganggap cara masa lalu adalah yang terbaik mencerminkan keangkuhan dan hambarnya citarasa kita akan masa depan. Keduanya tidak membantu dalam menghadapi ke satu-satunya pilihan kita: maju ke masa depan.

Terjebak dalam nostalgia dan obsoletisme paling tidak ditandai oleh tiga hal: Mental ikut-ikutan, ekstremisme dan kesukaan akan oversimplifikasi.

Mental ikut-ikutan biasanya terlihat dari luar seakan selalu mengikuti perubahan, tapi bila ditanya mengapa ikut, tidak punya alasan yang jelas. Ini menunjukkan tidak adanya orientasi ke depan, tapi segan terlihat ketinggalan jaman.  Ekstremisme menunjukkan kegagalan memahami paradoks kehidupan, sekaligus ketidakmatangan. Ekstremisme menunjukkan bahwa cara pandang terhadap dunia direduksi pada pilihan-pilihan yang sempit, either-or dan bukan both-and. Padahal, masa depan itu pada hakikatnya bersifat kreatif, dan itu berarti soal both-and. Oversimplifikasi menunjukkan kecenderungan untuk terlalu menyederhanakan kompleksitas hidup sehingga bisa menyesatkan, sekaligus kurangnya stamina untuk berpikir divergen dan kreatif. Ini bisa terkesan logis dan analitis, tapi seringkali terlalu mudah mengesampingkan data yang menyimpang/anomali/outliers. Inilah yang menyebabkan keringnya imajinasi dan hambarnya cita rasa dalam mengkreasi masa depan.

Pada prinsipnya, apabila kita menyadari keberadaan ketiganya dalam diri kita, maka kita akan perlahan belajar untuk tidak diperbudak oleh mereka. Mengikuti trend adalah cara, bukan esensi. Titik ekstrim adalah rute yang harus dilalui untuk mencapai keseimbangan dan kematangan, bukan perhentian permanen. Simplifikasi adalah teropong untuk memudahkan melihat kenyataan, tapi bukan kenyataan itu sendiri. Masa depan adalah kreasi yang menunggu untuk kita wujudkan, bukan replikasi masa lalu. Menyadari ini semua membawa kita lebih sebagai kreator bagi masa depan, bukan obyek warisan dari masa lalu.

12 responses to “Nostalgia, obsoletisme dan hambarnya cita rasa akan masa depan

  1. Martin Heidegger pernah bilang, bahwa manusia itu mahluk yang mewaktu. Artinya ia selalu hidup dalam tiga momen, yakni ingatan akan masa lalu, persepsi atas masa kini, dan harapan akan masa depan. Manusia merentang di antara ketiganya dari waktu ke waktu. Saya sepakat dengannya. Masa lalu dan masa depan itu tidak ada. Yang ada adalah masa kini yang selalu dalam bayang-bayang ingatan masa lalu, dan harapan akan masa depan.

    Maka saya pikir kita pun pada dasarnya selalu bernostalgia, karena kita juga selalu hidup di dalam ketiga momen tersebut. Seperti saya misalnya. Ketika melihat suatu masalah, saya selalu mengingat kembali apa yang telah saya terima dulu, dan harapan saya akan masa depan dari masalah tersebut. Saya melihat masalah masa sekarang dengan ketiga horison yang saya punya.

    Maka nostalgia tidaklah ada, karena pada dasarnya, kita selalu hidup di dalam ingatan akan masa lalu (juga harapan akan masa depan), yang juga merupakan suatu bentuk nostalgia tertentu.

    • Hehehehe….pendapatmu tampakanya sangat mencerminkan worldvies eksistensialis dan reduksional-kartesian🙂

      Sebenarnya tulisanku ini mencoba melakukan disruption dengan menawarkan worldview holistic-relativis-apresiatif. Ini mungkin terkesan ‘berlawanan’ dengan eksistensialis dan reduksional-kartesian. Apabila eksistensialis-reduksional-kartesian membawa ruang dan waktu ke dalam self, maka holistic-relativis-apresiatif membawa self ke dalam ruang dan waktu. Maka, diri kita adalah gerak yang mengkreasi ruang dan waktu.

      Inilah paradoksnya. Yang kutawarkan bukan soal keberadaan, tapi soal bagaimana mengada. Dalam artian ini, waktu dan kehidupan yang sesungguhnya relatif, diberi konteks dalam kreasi, dengan proposisi ‘maju ke depan’. Yang diangkat adalah soal tindakan, soal energi, soal gerak, dan soal hasil. Hidup, diposisikan sebagai bagin integral dari sebuah proses kehidupan di alam. Di sini, bukan lagi soal eksistensi individual self, tapi being a part of a sequential collective existence of nature.

      Gitu kira-kira😉

      • Thx for the reply James.

        Saya menangkap maksudmu dan setuju dengannya. Ketika Heidegger menyatakan bahwa manusia merupakan mahluk yang selalu ada dalam tiga momen, ia terkesan pasif dalam melihat dunia. Namun itu sebenarnya juga bisa dilihat sebaliknya, bahwa manusia dengan ingatan dan harapannya bisa selalu bergerak ke depan untuk menciptakan sesuatu yang baru, yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.

        Seninya adalah bagaimana kita bisa berpikir dan kemudian mengajak orang terlibat untuk mewujudkan sesuatu yang sama sekali baru, yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya? Saya pikir disitulah letaknya engagement.

  2. Saya setuju apabila masa lalu adalah salah satu yang mempengaruhi kita. Berbicara mengenai konteks yang lebih sempit, dr hpd qt msg2, bukan bcrain indonesian,kadang pada saat kita mempunyai visi untuk melangkah maju, di dalam prosesnya, pengalaman masa lalu akan pengaruhi kita. Terlebih kesuksesan yang telah qt capai. Kesuksesan itu yang akan trbwa k dlm proses itu. Tp senytnya, kesuksesan itu diraih pada proses yg brbeda bkn yg skrg here n now…so, what should we do sir supaya gk trjbak dgn terlarutnya qt pd kbrhsln d masa lalu itu??…

    • Ya pertama terimalah bahwa yang lalu, seberapa luar biasa itu, telah berlalu. Itu memungkin kita untuk membawa semua yang kita pelajari dari masa lalu kembali ke titik nol yang baru. Itulah renewal. Nah kalau kita sudah terbiasa membawa apa yang kita pelajari ke titik nol berikutnya, gelas kita yang selalu terisi, sekaligus senantiasa kosong untuk diisi lagi🙂. Itulah spiral perubahan.

      • “Ya pertama terimalah bahwa yang lalu, seberapa luar biasa itu, telah berlalu. Itu memungkin kita untuk membawa semua yang kita pelajari dari masa lalu kembali ke titik nol yang baru.”

        Ini argumen yang amat esensial. Di dalamnya terletak kemampuan menerima perubahan, dan keberanian untuk selalu memulai dari nol. Dua kualitas yang amat terlupakan di tempat kita bekerja. Saya juga sempat lupa. Thx for this.

      • Saya setuju dengan hal itu. Ketika sudah merasa tau dan bisa, terkadang kesombongan akan keberhasilan di masa lalu membayang sehingga membuat expectancy berlebihan terhadap masa depan. padahal, itu malah membuat rusuh masa sekarang karena terbebani oleh hal-hal yang tidak perlu..Beban itu juga yg buat skali sudah merasa tau dan bisa melakukan sesuatu, rasanya sulit untuk berubah menjadi kosong dan siap diisi lagi. *disini saya berkata sulit tp bukan tidak bisa dilakukan pak,.sulit yang saya maksut disini adalah keluar dari zona nyaman yg sudah diciptakan sebelumnya,.

        +artikel ini benar2 mengingatkan saya untuk benar2 kritis terhadap keberadaan diri saya, baik itu masa lalu, skr, &ms depan merupakan kesatuan yg ada di dalam pikiran saya

      • Hehehehe….sulit itu karena tidak rela harus melepas yang lama dan belajar lagi. Seringkali yang paling berat dilepas itu keyakinan yang kita bangun dari pengalaman sendiri. Kita memang harus belajar atas refleksi pada pengalaman sendiri, Tapi sekaligus kita tidak boleh meyakini bahwa hasil refleksi itu kebenaran untuk segalanya dan selamanya. Kan hidup bergerak dan mengalir, maka refleksi kemarin harus dikritisi lagi hari ini, dan direfleksikan kembali besok hari.

        Masa lalu, masa kini dan masa depan itu bergerak dalam perubahan, tapi ada esensi yang sama dalam diri kita. The source?🙂

  3. Ini rasanya berhubungan dengan komen saya yang kpan hari pak yang tentang orang lebih membanding-bandingkan dengan orang yang besar.

    Tapi pak, saya mau tanya bagaimana jika mental seperti itu sudah tertanam pada generasi muda? Bagaimana caranya untuk merubah mereka dari pandangan yang salah itu? T:D

    • Ada satu konsep kunci perubahan yang sangat penting, Janice: Mulailah dari diri sendiri. Kata Mahatma Gandhi, be the change you want to see in the world.

      Seringkali perubahan gagal karen kita bingung merubah orang lain atau bahkan sebuah generasi, tapi lupa untuk menghayati perubahan itu dalam diri sendiri. Padahal, kalau kita menunjukan perubahan dalam perilaku, itu akan menjadi pengaruh bagi yang lain.

Any thoughts?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s